Senin, 13 Maret 2017

GALAU


Menapaki dunia pendidikan mungkin sudah menjadi nafasku. Sejak SMU sudah senang dengan anak-anak, menghabiskan waktu sehabis sholat maghrib di Mushola untuk belajar dan mengajarkan baca Qur’an. Tak pernah malas berangkat belajar meski lokasi yang harus ditempuh cukup jauh dari rumah. Belajar baca Qur’an sampai berkeliling kampung, hingga pada tahun 2000 bersama teman mengaji membuat TPQ sendiri di Mushola deket rumah. Sejak saat itu dunia belajar semakin lekat. Namun pada tahun 2001 ternyata status ku harus berubah, yang semula kesana kemari rombongan bersama teman-teman, praktis mulai 7 oktober 2001 status istri menyertaiku. Sejak itulah dunia belajar dan mengajar menjadi sesuatu yang sedikit demi sedikit tergantikan dengan kesibukan sebagai istri dan ibu.
Kegelisahan semakin menjadi-jadi, ketika amanah yang ditipkan semakin bertambah, hingga mempunyai 3 orang anak. Puncak kejenuhan pun dirasakan, hingga pada tahun 2010 ada tawaran untuk mengajar baca Qur’an di sebuah SDIT, dan kemudia diterima, tanpa mempertimbangkan banyak hal. Saat itu yang ingin dilakukan hanya keluar dari kejenuhan, yang semula hanya menjadi pengurus rumah tangga saja bertambah menjadi seorang guru qiroati di SDIT. Tentu saja ini semua atas dasar ijin suami. Sejak saat itu rutinitas berubah total, aktifitas pagi selalu lebih sibuk, dari menyiapkan keperluan sekolah anak-anak, urusan rumah tangga, sampai bersegera harus sampai di sekolah sebelum jam 7 pagi. Hal ini ternyata memiliki dampak yang kurang sehat bagi hubungan suami istri kami. Pola komunikasi yang hanya sekedarnya, sesempetnya, karena sejak pagi aku harus meninggalkan rumah terlebih dahulu sebelum suami berangkat kerja, dan ketika sore hari, disaat suami sudah sampai dirumah, aku masih berada di TPQ. Termasuk dalam pola asuh anak ke 3 kami, Yusuf Abdullah semakin susah untuk diajak kerjasama, menunjukkan protesnya dengan tidak mau ditinggal dirumah bersama eyangnya. Selalu rewel ketika diajak mengajar, dan sebagai puncaknya ijin mengajarpun mulai dipertimbangakan oleh suami.
Resmi di tahun ajaran baru 2011 aku melepaskan diri dari ikatan guru di SDIT tersebut. Mengundurkan diri dari SDIT ternyata menumbuhkan kegelisahan baru. Menggeluti kembali dunia ibu rumah tangga ternyata membawa beban tersendiri dalam diriku. Aku merasa mati secara kreatifitas, mati berfikir dan merasa kesepian. Tidak ada rancangan kegiatan selain nyuci, ngepel, masak, dan segala bentuk kegiatan domestik kerumah tanggaan. Yusuf Abdullah pun terlihat kesepian, karena kakaknya semua sekolah. Maka muncullah ide untuk membuat kelompok bermain di rumah dengan mengundang teman-teman TPQ yang seumuran dengan Yusuf.

Memiliki rumah yang luas dan bercita-cita menjadikan pusat belajar dan bermain anak-anak, remaja maupun orang tua adalah sebuah mimpi sejak dulu. Alhamdulillah ternyata dipermudah untuk mendapatkan lahan kosong dan dipermudah pula untuk mendirikan bangunan diatasnya dengan tanpa memikirkan desain arsitekturnya, yang penting luas dan nyaman, bebas dari hujan dan panas.
Semenjak mengundurkan diri dari SDIT, otomatis mimpi itu semakin menjadi harapan yang ingin sekali diwujudkan. Ide untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan yang berbasis AUD menjadi pilihanku, meski saat itu aku tidak memiliki pengetahuan apapun tentang PAUD. Megingat usia Yusuf sangat butuh lingkungan belajar dan bermain yang baik, maka aku bertekad untuk menciptakan lingkungan itu. Dengan mengundang beberapa teman bermain Yusuf di TPQ dan tetangga sekitar, maka di bulan-bulan pertama di tahun 2011 itu aku mampu mengumpulkan hampir 15 orang anak. Kesemuanya dengan suka rela bermain dan belajar bersama Yusuf di rumah kami.
Untuk masalah metode pembelajaran, kurikulum, penilaian dan lain sebagainya, aku bowsing. Di google lah aku mendapatkan banyak ilmu tentang bagaimana menyiapkan materi, bahan ajar, penilaian dan lain sebagainya. Aku merasa sangat bodoh, tidak punya pengalaman atau pengetahuan apapun tentang PAUD tapi nekad membuat Kelompok Bermain. Namun rasa takut, malu dan bodoh ku, sekuat tenaga aku lawan, aku lebih suka melawan semua perasaan itu dengan yakin, bahwa aku pasti akan bisa melakukan perubahan. Tanpa memikirkan harus adanya administrasi, kurikulum, perijinan dan lain sebagainya, saat itu yang ada hanya ingin menciptakan lingkungan belajar dan bermain yang aman dan sesuai tumbuh kembang Yusuf, itu saja.
Kelompok Bermain Si Kancil, adalah nama yang aku berikan kepada lembaga PAUD ku. Karena anak-anaknya masih kecil-kecil, lincah seperti kancil, dan terdengar lucu. KB Si Kancil mendapat dukungan yang luar biasa dari orang tua, dari merekalah aku mulai memikirkan segala bentuk administrasi, dari mulai berapa jumlah yang harus di bebankan kepada orang tua murid, baik pendaftaranya maupun spp bulanannya. Karena semula tak ada pungutan biaya apapun, hanya infak kaleng yang muter setiap kali kehadiran anak.

Merasa tertantang untuk semakin memperbaiki kwalitas diri baik dari segi pengetahuan, teori maupun aplikasi dalam bidang ke PAUDan, maka aku memutuskan diri untuk kuliah. Namun ternyata keinginan itu harus tertahan dulu karen aku keburu hamil yang ke 4. Sehingga baru setahun kemudian setelah melahirkan dan masa menyusui aku masuk kuliah di IKIP VETERAN Semarang  Fakultas Ilmu pendidikan PG-PAUD. Dengan menggunakan dana simpanan pribadi hasil dari mengajar TPQ dan PAUD, aku mendaftarkan diri dan membiayai seluruh keperluan perkuliahan. Alhamdulillah, tahun pertama berjalan lancar dan membuat aku merasakan manfaatnya. Pengetahuan tentang PAUD bertambah, didapat dari shering beberapa teman dan dosen.
Kendala biaya perkuliahan dan operasional KB mulai terasa, maka ketika ada tawaran dari Mbak Ida Fitriyani untuk menjual gamis dengan modal katalog aku ambil. Alhamduliallah dari order baju itulah biaya kuliah terpenuhi.
KB  Si kancil di tahun kedua semakin banyak muridnya, yang semula 10 bisa mencapai 30 orang, meski yang aktif hanya 25. Administrasi mulai dibenahi sedikit demi sedikit. Ada formulir pendaftaran, spp, ada akhirussanah, ada seragam, ada kegiatan keluar seperti outbond dan beberapa kali mengikuti perlombaah di lembaga lain. Membuat rancangan pembelajaran seperti prota, promes, RKM, RKH, Pelaporan hasil belajar, serfifikat, melengkapi alat permainan edukatif. Tuntutan mutu dan kwalitas pengasuh pun dipertanyakan. Diantara pengasuh ada yang lulusan SR, SMU, PGPQ, namun kesemuanya memiliki kelebihan dibidang tertentu. Dari awal mereka saya ajak bergabung membantu, memang merasa rendah diri, minder dan tidak percaya diri, terlebih latarpendidikan yang rendah. Namun saya yakinkan kepada semuanya bahwa ilmu mengelola KB bisa kita lakukan bersama, lewat seminar, pelatihan dan keorganisasian lainnya.
Lambat namun pasti masing-masing mereka menunjukkan kemampuannya masing-masing, keterbatasan mereka tertutupi satu dan lainnya. Ada yang kreatif, telaten, ada yang pandai mengelola keuangan, ada yang lembut, ada yang tegas. Kesemuanya memang ibu rumah tangga, namun dalam menangani anak-anak sudah bisa dibilang jago, karena disamping membantu saya di KB mereka juga membantu saya di TPQ.
Tahun berganti, jumlah murid bukan semakin banyak namun justru semakin sedikit. Karena memang diwilayah sekitar sedikit AUD, adanya Pos Paud yang biaya masuknya lebih murah bahkan ada yang gratis. Hal ini berdampak pada pembiayaan operasional PAUD. Keseluruhan pembiayaan KB memang didapat dari sumbangan spp wali murid dan biaya dari pribadi.
Disamping itu tuntutan untuk memiliki ijin operasionalpun mualai dipertanyakan. Maka dengan dana seadanya saya berserta suami mendaftarkan KB Si Kancil ke notaris untuk mendapatkan pengesahan secara hukum. Mulailah mecari nama yang pas dan logo untuk KB. Maka Paud ini di beri nama KB Mutiara Umat, karena anak-anak yang bermain dan belajat disini adalah mutiaranya umat, generasi islam, dan genersi 2045 yang akan memimpin Indonesia. Mulailah proposal perijinan dibuat dan disusun sesuai arahan dari UPTD.
Namun sayang, setelah akta notaris dan beberapa syarat yang diminta UPTD kita penuhi, meninggalkan PAUD selama beberapa kali (danmembuat beberapa orang tua protes dan mengancam akan memindahkan anak-anaknya ke tempat lain kalau saya tidak berada di tempat) dan setelah hampir setahun proposal perijinan kami kumpulkan di UPTD, jawaban yang sangat mengecewakan harus aku dengar. “Mbak Proposale Njenengan sudah di gudang..., dan kalau mau mendirikan KB harus punya yayasan, jadi proposalnya tidak terpakai...”.
Mulailah terpikirkan harus membuat sebuah yayasan untuk memayungi lembaga pendidikan ini. Tidak sedikit biaya yang diperlukan untuk membuat sebuah yayasan, dan hampirsaja aku patah semangat. Alhamdulillah gayung bersambut, teman-teman dari komunitas alumni KB PII bermaksud membuat yayasan, maka dengan kerelaan hati dan berharap bisa terwadahi maka KB Mutiara Umat meminta diri untuk di akuisisi.

Keberadaan KB Mutiara Umat diwilayah Jatingaleh terutama di Karangrejo patut diperhitungkan. Kalau berbicara wilayah maka KB MutiaraUmat cukup strategis, terlebih saat ini akan dibangun jalan layang di Jatingaleh, sehingga jalur lalu lintas yang menghubungkan Jatingaleh dengan Jatisari cukup jauh. Maka dibutuhkan lembaga pendidikan formal maupun informal untuk menjembatani kebutuhan ini. Sedangkan kalau dilihat dari segi keterkaitan keorganisasian KB mutiara Umat cukup berperan penting. PAUD Informal maupun formal memiliki wadah organisasi yang bernama HIMPAUDI, yang didalamnya ada beberapa cabang wadah kegiatan dimulai dari Himpaudi Kota, Himpaudi Kecamatan, Pokja, Gugus dan Forum. Dari seluruh wadah cabang kegiatan itu kami yang tergabung didalam PAUD informal dan formal harus mengikuti. Saya sebagai pengelola KB memiliki peranan yang cukup strategis, menjadi bendahara Pokja, menjadi PJ ketua Gugus (karena satu dan lain hal, ketua gugus lama bermasalah). Dan saat ini pun sudah merambah memasuki kepengurusan Himpaudi Kecamatan. Sebuah prestasi keorganisasian yang cukup melejit, karena baru satu tahun bergabung sudah diberi kepercayaan yang sedemikian banyaknya. Meski tidak sedikit biaya yang harus di keluarkan untuk masing-masing kegiatan.

Kamis, 19 Januari 2017

Balada DOSBING 😄


Jam 08.00
"Pak .. saya Ayu, mahasiswa semester 8, kebetulan dosbing saya Bapak... Saya bisa ketemu untuk mulai bimbingan kapan?.."
Jam 09.00
Belum ada jawaban.
Jam 21.00
Belum ada jawaban.

Hufff..... Ayu mulai patah semangat. Waktu seharian menunggu jawaban dari dosbing menjadi sangat menjemukan. 

#
Setelah menunggu dua hari, sebuah SMS masuk ke HP Ayu, mengabarkan tentang kesepakatan bertemu dengan dosbing. Legaaa...

Yang penting ketemu dosbing dulu. Urusan proposal di ACC atau tidak lihat nanti. Bertemu dengan dosen diluar urusan skripsi sih sudah biasa, tapi kali ini Ayu jadi lebih deg deg an.

Saat yang ditunggu pun tiba. Dengan membawa sejuta semangat, Ayu melangkahkan kaki menuju kampus dan menuju ruangan dosbing.

"Assalamualaikum Pak... "
"Wa'alaikum salam... Silahkan duduk. Anda sudah menyiapkan judul proposal anda??"
"Sudah Pak... Ini... "
Sambil menyerahkan proposal Ayu mengatur posisi duduknya. Suasana sedikit tegang, dosbing sambil memeriksa proposal skripsi milik Ayu, tak henti-hentinya wajahnya berkerut. Seolah menggambarkan ketidak berkenannya terhadap proposal milik Ayu.
"Anda sudah membaca buku panduan?"
"Kami belum punya pak"
"Lhoo kok bisa ... Harusnya Anda sudah punya. SK dosbing Anda mana?.."
"Kami juga gak punya pak.."
"Anda ini bagaimana...."
"Waaaah... Bagaimana ini... Oke, biar itu menjadi urusan saya.. Ini sudah saya lihat sekilas, tolong diperbaiki ya..."

Dengan langkah kaki yang gontai Ayu meninggalkan ruangan dosbing. Segera Ayu membuka proposalnya... Luar biasa banyaknya coretan disana sini... Judul saja masih belum di ACC...

#janjian lagi dengan dosbing... HARUS itu

😄 Keep semangat ... Tinggal sejengkal, usaha ini akan menuai hasilnya.

#Reg 8 IVET.. ayooo kita wisuda secepatnya.

Selasa, 17 Januari 2017

Pacar Lama

Lenovo tiba2 bergetar..
"Ping"
Hemmm... Nama baru, sepertinya aku kenal.
"Pong"

Diseberang balik menjawab..
"Mbak... Bisa meet up ndak, pagi ini..."
"Maaf untuk hari ini belum bisa. Kalau besok bagaimana??"
"Oke deh, jam 09.00 ya... Di Delman."
"Oke"..

Anak ini kenapa tiba-tiba menghubungi aku,... Ada apa ya...

#
Pagi ini kuputuskan untuk menemui Laila, ibu muda yang sedang hamil anak kedua. Kuparkir motorku dihalaman Delman. Laila sudah menungguku, dengan penampilan yang santun dan memang mempesona.

"Sudah lama menunggu ya.."
"Iya mbak.. gak papa, aku tadi sambil ngantar anak."

Mulailah mengalir cerita Laila. Perasaannya sedang galau, maklum sebagai ibu muda yang ditinggal suami bekerja jauh, dengan dua anak, bertemu suami sebulan sekali. Kehamilan yang sudah semakin tua, dan tidak ditemani membuat Laila teringat seseorang yang pernah singgah di hatinya.
Sebenarnya aku tidak mau masuk kedalam cerita kehidupannya. Tapi aku mencoba memahami keadaannya.

"Mbak tau bagaimana kabar Watimena.."
"Tidak banyak yang aku ketahui tentang dirinya, yang jelas dia sudah kembali ke Timor Leste..."
"Aku tiba-tiba ingat dia mbak, entahlah,... Saat ini ketika aku merasa kalau suami suka marah-marah, Aku ingat dia. Aku kangen mbak..."
"Hemmm.... Lai... Kamu dan dia sudah bukan remaja lagi, tak sepantasnya kamu mengingat-ingatnya. Jalani kehidupan kalian sendiri-sendiri..."
"Aku cuma mau tau kabarnya saja kok mbak..."..
"Sudahlah... Dia baik-baik saja, nanti aku salamkan ya... Hehehe"
"Mbak... Aku merasa bersalah dengannya, aku dulu meninggalkannya karena kita beda keyakinan. Setelah itu aku mendengar kariernya hancur, ada perasaan bersalah sangat besar dalam diriku.."
"Lai... Semua itu bukan salahmu, ini pilihan, keyakinan tidak bisa dipaksakan.."
"Iya sih... Tapi aku bener bener kangen dia..."
Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Anakmu kelas berapa?"
"Kelas 2 mbak, ini aku sedang hamil, masuk bulan 8, bentar lagi lahiran.."

Sambil menikmati makan siang yang sudah tersaji, aku buka lenovoku..
Sebuah pesan masuk, dari Watimena. Ingin aku kabarkan padanya kalau aku sedang bersama Laila.. tapi kuurungkan. Dan kepada Laila pun aku tidak sampaikan. Laila dan Watimena memang dulu berpacaran, mereka termasuk pasangan yang awet. Sayangnya mereka beda agama. Dulu aku mencoba mengingatkan Watimena, tentang hal ini, tapi merekalah nanti yang akan menentukan. Dan akhirnya Laila yang memutuskan untuk berpisah.

"Mbak... Salahkan aku jika aku mengingatnya, dan berjumpa dengannya.."
"Lai... Sebaiknya kau tidak perlu menjalin komunikasi lagi dengan Watimena. Terlalu bahaya... Hubungan kalian yang dulu pastinya masih membekas. Lha kalau sekrang kalian terhubung kembali aku khawatir rumah tanggamu jadi kacau..
Sudahlah... Jangan berpikir yang aneh-aneh.. "
"Iya deh mbak..... Tapi aku begini karena suamiku juga pernah menyakiti aku mbak..., Dia pernah bersama wanita lain..."

Haduuuh... Ini namanya apa... Balas dendam...
Apakah kejadian seperti ini bisa menjadi alasan untuk melakukan perbuatan yang sama...


#pacar lama, perlukah muncul sebagai pahlawan???

Senin, 16 Januari 2017

Akhlak

#
Bunyi klakson motor dibelakangku tak berhenti sejak tadi. Adakah yang salah dengan motorku..?

"Hai.. kenapa kemaren kirim kirim pesan lewat WA.... Dasar wanita gatel, suka sekali ke GR an.. kemaren yang chat anak-anak, lha wong suamiku sudah gak pernah pegang HP lagi, kok kamu masih saja ke gatelen, buru-buru njawab.
Mbok jadi wanita itu yang Sholehah, jadi istri itu yang baik..."..

Memangnya aku tau... Aduh aneh deh..

Seketika ku tengok sumber suara, masih berada diatas motor, karena memang kami sedang mengendarai motor untuk menjemput anak-anak pulang sekolah.
"Monggo sak kerso njenengan badhe ngendikan nopo mawon mbak..."

Sambil berlalu aku meninggalkan wanita itu. Ya wanita yang dengan kemarahan dan kebencian yang tak terkontrol berteriak teriak untuk memaki ku.
Kulayangkan sebuah SMS kepada suami. Mengabarkan kejadian yang baru saja terjadi.

"Bersabarlah... Kata ustat, kita itu seperti teko, yang keluar dari teko ya itulah isinya, kalau wanita itu memaki mu dengan kebencian berarti isi dalam dirinya ya kebencian, sebaik apapun kamu ya tetep saja dia benci.."

Itulah nasehat suami, meski aku menerima perlakuan seperti itu, dalam hatiku muncul kebencian. Rasanya enggan untuk berjumpa dengannya dan seluruh keluarganya. Meski itu pun tak benar. Yang bermasalah dia, bukan suaminya atau keluarganya.

##

"Yah... Ayah kan kemaren tau to, ada yang mis call, no nya aku gak tau siapa, HP ku kan baru... Jadi semua kontak aku tak tau namanya... Aku hanya bertanya siapa... Kok mis call sampai berkali kali, aku pikir penting,... Dan aku kira orang yang mau jadi donatur acara kita. Lagian bunda nggak pernah menyimpan no kontak mereka..."
"Ya... Aku ngerti kok...Kemaren ayah kan baca sendiri di HP bunda.... Dia sudah ku telpon tadi. Katanya dia mau mengklarifikasi, siapa yang mainin HP nya..."
"Oooo... Cara mengklarifikasi itu begitu ya.. berteriak-teriak, memaki orang di atas motor sambil jalan... Hebat ya.."
"Dia kan cemburu sama Bunda... "
"Kecemburuan yang membabi buta.."
"Cemburu itu karena ada sesuatu yang tidak dimiliki,... Ah sudahlah.... Biarkan saja. Kita terima saja, nanti ada balasannya..."
"Lha suaminya tau??"
"Tau... Tadi juga minta maaf atas kelakuan istrinya...."
"Ayah tidak melakukan apa-apa lagi??""
"Ayah mengajak mereka bertemu, kita berempat ketemu. Biar jelas letak permasalahannya.. Tapi ya... Mereka memang penakut. Sudah lah... Biarkan saja.."


Kebencianya sudah tak bisa dianggap biasa kecurigaan lebih dominan. Begitu cemburunya dia pada ku... Dengan suaminya saja sudah tidak percaya, apa lagi dengan orang lain .

#teko berisi kebaikan keluarlah kebaikan...
Semoga menjadi hikmah

Jumat, 06 Januari 2017

CLBK

Layaknya remaja belasan tahun, perasaan deg deg an bertemu teman lama itu muncul.
Merasakan kerinduan yang dulu pernah ada. Berharap bisa selalu bertemu dengan nya sepanjang hari.

Wow.... Cinta Lama Bersemi Kembali...😄 Rasanya masih seindah dulu, tapi yang ini lebih kencang debarannya...

Bagaimana tidak....
Kami telah sama-sama berkeluarga, sama sama sudah punya anak remaja. Hohoho... Itulah cinta. Tak memandang apapun.
Cinta itu tumbuh dan bersemi, menebarkan aroma wangi yang ingin selalu di nikmati.

Ya... Aku rindu dengannya, kerinduan yang sudah terpendam sejak 2 tahun lalu. Aku mencuri pandang, dan perhatiannya. Aku cemburu liat dia dekat dengan pemain orgen itu. Aneh memang, kenapa aku justru cemburu dengan pemain. Orgen ? Bukan dengan suaminya.
Dan kali ini aku tak ingin berdiam diri. Aku ingin dia tau. Aku akan sampaikan kerinduanku ini, aku akan sampaikan kecemburuanku padaya. Aku tak perduli dengan apa yang akan terjadi. 

#suatu hari awal Ramadhan 

"Ndok.. kamu kemana saja, aku kangen pengen ketemu dan liat kamu. Rasanya seneng aku, bisa liat kamu.
"Mas kok tiba-tiba aneh"

"Benar.... Aku kangen, seneng liat senyummu.."
"Eh... Jangan salah artikan keramahan ku ya.. aku tidak ada maksud apa-apa lho... Mas jangan bikin aku takut ah.."

"Benar... Aku masih menyimpan cinta dan sayang untuk mu, sampai kapanpun, kau yang pertama bagiku..."
"Alaaahhh.... Dulu kenapa milih dia, dan Mas meninggalkanku...., Jangan merusak segala nya... 
Aku hanya ingin kita menjalin hubungan baik, layaknya keluarga. Jangan sampai istri Mas tau ungkapan perasaan Mas kepada ku..."

#

Asyeekkk..... Gendhok ku masih memberi perhatian kepadaku. Pasti dia masih sayang sama aku juga... 😘. Ah besok aku ajak sarapan, pas pulang ngatar anak-anak sekolah.

#
Tin tin..
Ndok mampir warung yuk... Kita sarapan bareng, cuma sarapan kan gak papa to...
Mas mu paling juga gak masalah.."

"Kalau Mas ku sih gak masalah Mas, karena beliau tau kebiasaanku bersama teman-temanku yang lain. Justru yang dikhawatirkan istrine njenengan. Pasti sakit hati lah kalau tau kita makan bareng.."
"Ya mesti lah, kita kan dulu pernah dekat.."
"Naah... Gitu tau, masih nekad ngajak-ngajak aku. Ingat ya... Aku mau sarapan bareng itu tok.. g mau yang lain. Aku terima tawaran ini karena aku juga biasa makan bareng teman-temanku, bukan karena mengistimewakan Njenengan..."
"Ya nggak papa lah..., Aku cuma mau sarapan sama kamu, sambil ngobrol dan puas puasin Mandang wajahmu.."
"Weh lha dalah... Nekad juga Njenengan Mas.."

#
Horeeee aku berhasil merayunya untuk sarapan bareng. Puas aku melihat wajahnya yang makin cantik, manis, dan lipstiknya bener-bener serasi... Aku jadi pingin menciumnya...😍😘
Sayang aku belum berhasil mengajaknya bersalaman .

Perasaanku saat ini sangat senang sekali. Aku jadi ingin sering bertemu. Walau hanya sekilas pandang. Gendhok ku makin matang. Pola pikirnya, cara menyikapi masalah, ah kenapa dulu aku meninggalkanmu...

#
"Ndhok... Apa mas mu gak cemburu kalau liat kita ngobrol begini, kok kamu mau tak jak makan siang.... "
"Mas ku gak cemburuan. Beliau tau kok kalau njenengan menyampaikan perasaan kangen dan masih sayang sama aku..."
"Waduh.... Mati aku Kok kamu ngomong... Aku kan jadi nggak enak kalau ketemu mas mu.."
"Lha ya harus aku sampaikan lah.... Dia kan teman luar dalam ku, gak ada rahasia rahasia an."
"Lha po gak marah.."
"Enggak.... Aku sih pinginnya beliau ngajak bicara njenengan, tapi katanya.. kita tidak bisa memaksa orang untuk benci atau suka dengan kita. Namanya perasaan  tidak bisa diatur, cuma jagalah perasaan istrinya.."

"Owh... Mas mu normal gak sih.. mosok cuma gitu tok.."
"Ya begitulah,.. sekali lagi... Teman cowok yang deket denganku banyak, semuanya suamiku tau, dan aku perlakukan sama. Tidak ada yang istimewa..
"Mosok aku gak istimewa.."
"TIDAK.... Njenengan masa laluku, dan aku yakin kalau sampai istrimu tau, dia akan. Marah. Jadi tolong jangan lanjutkan lagi, mengungkapkan perasaan-perasaan mu.. 
Dulu njenengan yang memilih meninggalkan ku, dalam keadaan aku sedang belajar menerima kehadiranmu. Kau tinggalkan aku dengan alasan.. memang mulia alasanmu, tapi bagiku itu sedikit menyisakan tanda tanya dan sedikit kecewa..
Sudah lah Mas... Jangan kau biarkan perasaanmu kepadaku terus tumbuh. Aku takut, andai saja aku ikut terbawa, dan hubungan kita jadi merusak segala sesuatu yang sudah kita miliki. Keluarga kita, istri dan suami kita, anak-anak kita. Hubungan kita di masyarakat."

#
Ups... Gendhok ku menangis, ah ... Aku telah membuat dia tersakiti kembali. Aku laki-laki kurang ajar memang. Tapi... Aku masih cinta... Aku masih sayang. Aku ingin bersama-sama dengan mu Ndhok... Entah untuk kapan.. aku berharap suatu hari nanti...

Melihatnya semakin berkarya, berprestasi, aku semakin bangga. Mengapa aku dulu meninggalkannya. Dia semakin dekat dengan pemain orgen itu, 😥
Ndhok... Aku cemburu..

#
"Mas, besok acaranya jadi ada musiknya kan?. Aku minta tambahan dana ya.."
"Jadi.. oke deh, untuk mu apapun lah, nanti tak kasih lebih.."
"Emoh ah... Kalau seperti itu aku gak mau ketemu lagi.."
"Hemmm tambah manis kalau lagi marah gitu.. 😀"
"Emboh Mas.."

#
Asyik... Gendhok ku mulai menikmati kembali kedekatan yang aku tawarkan. Tapi aku kok semakin takut kalau istriku tau. Bagaimana jika istriku tau, kalau aku dekat kembali dengan Gendhok. Meski kedekatan ini bagiku hanya selingan cerita indah. Tak bermaksud untuk menjalin hubungan istimewa. Ah.. masak begitu, perasaanku mengatakan aku sangat bahagia dan gembira ketika bersama dengan Gendhok. Bahkan aku berharap hubungan ini akan terjalin kembali meski entah kapan dan bagaimana.
Aku sudah mulai gila, aku benar benar tergila-gila dengan Gendhok kembali.