Senin, 13 Maret 2017

GALAU


Menapaki dunia pendidikan mungkin sudah menjadi nafasku. Sejak SMU sudah senang dengan anak-anak, menghabiskan waktu sehabis sholat maghrib di Mushola untuk belajar dan mengajarkan baca Qur’an. Tak pernah malas berangkat belajar meski lokasi yang harus ditempuh cukup jauh dari rumah. Belajar baca Qur’an sampai berkeliling kampung, hingga pada tahun 2000 bersama teman mengaji membuat TPQ sendiri di Mushola deket rumah. Sejak saat itu dunia belajar semakin lekat. Namun pada tahun 2001 ternyata status ku harus berubah, yang semula kesana kemari rombongan bersama teman-teman, praktis mulai 7 oktober 2001 status istri menyertaiku. Sejak itulah dunia belajar dan mengajar menjadi sesuatu yang sedikit demi sedikit tergantikan dengan kesibukan sebagai istri dan ibu.
Kegelisahan semakin menjadi-jadi, ketika amanah yang ditipkan semakin bertambah, hingga mempunyai 3 orang anak. Puncak kejenuhan pun dirasakan, hingga pada tahun 2010 ada tawaran untuk mengajar baca Qur’an di sebuah SDIT, dan kemudia diterima, tanpa mempertimbangkan banyak hal. Saat itu yang ingin dilakukan hanya keluar dari kejenuhan, yang semula hanya menjadi pengurus rumah tangga saja bertambah menjadi seorang guru qiroati di SDIT. Tentu saja ini semua atas dasar ijin suami. Sejak saat itu rutinitas berubah total, aktifitas pagi selalu lebih sibuk, dari menyiapkan keperluan sekolah anak-anak, urusan rumah tangga, sampai bersegera harus sampai di sekolah sebelum jam 7 pagi. Hal ini ternyata memiliki dampak yang kurang sehat bagi hubungan suami istri kami. Pola komunikasi yang hanya sekedarnya, sesempetnya, karena sejak pagi aku harus meninggalkan rumah terlebih dahulu sebelum suami berangkat kerja, dan ketika sore hari, disaat suami sudah sampai dirumah, aku masih berada di TPQ. Termasuk dalam pola asuh anak ke 3 kami, Yusuf Abdullah semakin susah untuk diajak kerjasama, menunjukkan protesnya dengan tidak mau ditinggal dirumah bersama eyangnya. Selalu rewel ketika diajak mengajar, dan sebagai puncaknya ijin mengajarpun mulai dipertimbangakan oleh suami.
Resmi di tahun ajaran baru 2011 aku melepaskan diri dari ikatan guru di SDIT tersebut. Mengundurkan diri dari SDIT ternyata menumbuhkan kegelisahan baru. Menggeluti kembali dunia ibu rumah tangga ternyata membawa beban tersendiri dalam diriku. Aku merasa mati secara kreatifitas, mati berfikir dan merasa kesepian. Tidak ada rancangan kegiatan selain nyuci, ngepel, masak, dan segala bentuk kegiatan domestik kerumah tanggaan. Yusuf Abdullah pun terlihat kesepian, karena kakaknya semua sekolah. Maka muncullah ide untuk membuat kelompok bermain di rumah dengan mengundang teman-teman TPQ yang seumuran dengan Yusuf.

Memiliki rumah yang luas dan bercita-cita menjadikan pusat belajar dan bermain anak-anak, remaja maupun orang tua adalah sebuah mimpi sejak dulu. Alhamdulillah ternyata dipermudah untuk mendapatkan lahan kosong dan dipermudah pula untuk mendirikan bangunan diatasnya dengan tanpa memikirkan desain arsitekturnya, yang penting luas dan nyaman, bebas dari hujan dan panas.
Semenjak mengundurkan diri dari SDIT, otomatis mimpi itu semakin menjadi harapan yang ingin sekali diwujudkan. Ide untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan yang berbasis AUD menjadi pilihanku, meski saat itu aku tidak memiliki pengetahuan apapun tentang PAUD. Megingat usia Yusuf sangat butuh lingkungan belajar dan bermain yang baik, maka aku bertekad untuk menciptakan lingkungan itu. Dengan mengundang beberapa teman bermain Yusuf di TPQ dan tetangga sekitar, maka di bulan-bulan pertama di tahun 2011 itu aku mampu mengumpulkan hampir 15 orang anak. Kesemuanya dengan suka rela bermain dan belajar bersama Yusuf di rumah kami.
Untuk masalah metode pembelajaran, kurikulum, penilaian dan lain sebagainya, aku bowsing. Di google lah aku mendapatkan banyak ilmu tentang bagaimana menyiapkan materi, bahan ajar, penilaian dan lain sebagainya. Aku merasa sangat bodoh, tidak punya pengalaman atau pengetahuan apapun tentang PAUD tapi nekad membuat Kelompok Bermain. Namun rasa takut, malu dan bodoh ku, sekuat tenaga aku lawan, aku lebih suka melawan semua perasaan itu dengan yakin, bahwa aku pasti akan bisa melakukan perubahan. Tanpa memikirkan harus adanya administrasi, kurikulum, perijinan dan lain sebagainya, saat itu yang ada hanya ingin menciptakan lingkungan belajar dan bermain yang aman dan sesuai tumbuh kembang Yusuf, itu saja.
Kelompok Bermain Si Kancil, adalah nama yang aku berikan kepada lembaga PAUD ku. Karena anak-anaknya masih kecil-kecil, lincah seperti kancil, dan terdengar lucu. KB Si Kancil mendapat dukungan yang luar biasa dari orang tua, dari merekalah aku mulai memikirkan segala bentuk administrasi, dari mulai berapa jumlah yang harus di bebankan kepada orang tua murid, baik pendaftaranya maupun spp bulanannya. Karena semula tak ada pungutan biaya apapun, hanya infak kaleng yang muter setiap kali kehadiran anak.

Merasa tertantang untuk semakin memperbaiki kwalitas diri baik dari segi pengetahuan, teori maupun aplikasi dalam bidang ke PAUDan, maka aku memutuskan diri untuk kuliah. Namun ternyata keinginan itu harus tertahan dulu karen aku keburu hamil yang ke 4. Sehingga baru setahun kemudian setelah melahirkan dan masa menyusui aku masuk kuliah di IKIP VETERAN Semarang  Fakultas Ilmu pendidikan PG-PAUD. Dengan menggunakan dana simpanan pribadi hasil dari mengajar TPQ dan PAUD, aku mendaftarkan diri dan membiayai seluruh keperluan perkuliahan. Alhamdulillah, tahun pertama berjalan lancar dan membuat aku merasakan manfaatnya. Pengetahuan tentang PAUD bertambah, didapat dari shering beberapa teman dan dosen.
Kendala biaya perkuliahan dan operasional KB mulai terasa, maka ketika ada tawaran dari Mbak Ida Fitriyani untuk menjual gamis dengan modal katalog aku ambil. Alhamduliallah dari order baju itulah biaya kuliah terpenuhi.
KB  Si kancil di tahun kedua semakin banyak muridnya, yang semula 10 bisa mencapai 30 orang, meski yang aktif hanya 25. Administrasi mulai dibenahi sedikit demi sedikit. Ada formulir pendaftaran, spp, ada akhirussanah, ada seragam, ada kegiatan keluar seperti outbond dan beberapa kali mengikuti perlombaah di lembaga lain. Membuat rancangan pembelajaran seperti prota, promes, RKM, RKH, Pelaporan hasil belajar, serfifikat, melengkapi alat permainan edukatif. Tuntutan mutu dan kwalitas pengasuh pun dipertanyakan. Diantara pengasuh ada yang lulusan SR, SMU, PGPQ, namun kesemuanya memiliki kelebihan dibidang tertentu. Dari awal mereka saya ajak bergabung membantu, memang merasa rendah diri, minder dan tidak percaya diri, terlebih latarpendidikan yang rendah. Namun saya yakinkan kepada semuanya bahwa ilmu mengelola KB bisa kita lakukan bersama, lewat seminar, pelatihan dan keorganisasian lainnya.
Lambat namun pasti masing-masing mereka menunjukkan kemampuannya masing-masing, keterbatasan mereka tertutupi satu dan lainnya. Ada yang kreatif, telaten, ada yang pandai mengelola keuangan, ada yang lembut, ada yang tegas. Kesemuanya memang ibu rumah tangga, namun dalam menangani anak-anak sudah bisa dibilang jago, karena disamping membantu saya di KB mereka juga membantu saya di TPQ.
Tahun berganti, jumlah murid bukan semakin banyak namun justru semakin sedikit. Karena memang diwilayah sekitar sedikit AUD, adanya Pos Paud yang biaya masuknya lebih murah bahkan ada yang gratis. Hal ini berdampak pada pembiayaan operasional PAUD. Keseluruhan pembiayaan KB memang didapat dari sumbangan spp wali murid dan biaya dari pribadi.
Disamping itu tuntutan untuk memiliki ijin operasionalpun mualai dipertanyakan. Maka dengan dana seadanya saya berserta suami mendaftarkan KB Si Kancil ke notaris untuk mendapatkan pengesahan secara hukum. Mulailah mecari nama yang pas dan logo untuk KB. Maka Paud ini di beri nama KB Mutiara Umat, karena anak-anak yang bermain dan belajat disini adalah mutiaranya umat, generasi islam, dan genersi 2045 yang akan memimpin Indonesia. Mulailah proposal perijinan dibuat dan disusun sesuai arahan dari UPTD.
Namun sayang, setelah akta notaris dan beberapa syarat yang diminta UPTD kita penuhi, meninggalkan PAUD selama beberapa kali (danmembuat beberapa orang tua protes dan mengancam akan memindahkan anak-anaknya ke tempat lain kalau saya tidak berada di tempat) dan setelah hampir setahun proposal perijinan kami kumpulkan di UPTD, jawaban yang sangat mengecewakan harus aku dengar. “Mbak Proposale Njenengan sudah di gudang..., dan kalau mau mendirikan KB harus punya yayasan, jadi proposalnya tidak terpakai...”.
Mulailah terpikirkan harus membuat sebuah yayasan untuk memayungi lembaga pendidikan ini. Tidak sedikit biaya yang diperlukan untuk membuat sebuah yayasan, dan hampirsaja aku patah semangat. Alhamdulillah gayung bersambut, teman-teman dari komunitas alumni KB PII bermaksud membuat yayasan, maka dengan kerelaan hati dan berharap bisa terwadahi maka KB Mutiara Umat meminta diri untuk di akuisisi.

Keberadaan KB Mutiara Umat diwilayah Jatingaleh terutama di Karangrejo patut diperhitungkan. Kalau berbicara wilayah maka KB MutiaraUmat cukup strategis, terlebih saat ini akan dibangun jalan layang di Jatingaleh, sehingga jalur lalu lintas yang menghubungkan Jatingaleh dengan Jatisari cukup jauh. Maka dibutuhkan lembaga pendidikan formal maupun informal untuk menjembatani kebutuhan ini. Sedangkan kalau dilihat dari segi keterkaitan keorganisasian KB mutiara Umat cukup berperan penting. PAUD Informal maupun formal memiliki wadah organisasi yang bernama HIMPAUDI, yang didalamnya ada beberapa cabang wadah kegiatan dimulai dari Himpaudi Kota, Himpaudi Kecamatan, Pokja, Gugus dan Forum. Dari seluruh wadah cabang kegiatan itu kami yang tergabung didalam PAUD informal dan formal harus mengikuti. Saya sebagai pengelola KB memiliki peranan yang cukup strategis, menjadi bendahara Pokja, menjadi PJ ketua Gugus (karena satu dan lain hal, ketua gugus lama bermasalah). Dan saat ini pun sudah merambah memasuki kepengurusan Himpaudi Kecamatan. Sebuah prestasi keorganisasian yang cukup melejit, karena baru satu tahun bergabung sudah diberi kepercayaan yang sedemikian banyaknya. Meski tidak sedikit biaya yang harus di keluarkan untuk masing-masing kegiatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar