Senin, 13 Maret 2017

GALAU


Menapaki dunia pendidikan mungkin sudah menjadi nafasku. Sejak SMU sudah senang dengan anak-anak, menghabiskan waktu sehabis sholat maghrib di Mushola untuk belajar dan mengajarkan baca Qur’an. Tak pernah malas berangkat belajar meski lokasi yang harus ditempuh cukup jauh dari rumah. Belajar baca Qur’an sampai berkeliling kampung, hingga pada tahun 2000 bersama teman mengaji membuat TPQ sendiri di Mushola deket rumah. Sejak saat itu dunia belajar semakin lekat. Namun pada tahun 2001 ternyata status ku harus berubah, yang semula kesana kemari rombongan bersama teman-teman, praktis mulai 7 oktober 2001 status istri menyertaiku. Sejak itulah dunia belajar dan mengajar menjadi sesuatu yang sedikit demi sedikit tergantikan dengan kesibukan sebagai istri dan ibu.
Kegelisahan semakin menjadi-jadi, ketika amanah yang ditipkan semakin bertambah, hingga mempunyai 3 orang anak. Puncak kejenuhan pun dirasakan, hingga pada tahun 2010 ada tawaran untuk mengajar baca Qur’an di sebuah SDIT, dan kemudia diterima, tanpa mempertimbangkan banyak hal. Saat itu yang ingin dilakukan hanya keluar dari kejenuhan, yang semula hanya menjadi pengurus rumah tangga saja bertambah menjadi seorang guru qiroati di SDIT. Tentu saja ini semua atas dasar ijin suami. Sejak saat itu rutinitas berubah total, aktifitas pagi selalu lebih sibuk, dari menyiapkan keperluan sekolah anak-anak, urusan rumah tangga, sampai bersegera harus sampai di sekolah sebelum jam 7 pagi. Hal ini ternyata memiliki dampak yang kurang sehat bagi hubungan suami istri kami. Pola komunikasi yang hanya sekedarnya, sesempetnya, karena sejak pagi aku harus meninggalkan rumah terlebih dahulu sebelum suami berangkat kerja, dan ketika sore hari, disaat suami sudah sampai dirumah, aku masih berada di TPQ. Termasuk dalam pola asuh anak ke 3 kami, Yusuf Abdullah semakin susah untuk diajak kerjasama, menunjukkan protesnya dengan tidak mau ditinggal dirumah bersama eyangnya. Selalu rewel ketika diajak mengajar, dan sebagai puncaknya ijin mengajarpun mulai dipertimbangakan oleh suami.
Resmi di tahun ajaran baru 2011 aku melepaskan diri dari ikatan guru di SDIT tersebut. Mengundurkan diri dari SDIT ternyata menumbuhkan kegelisahan baru. Menggeluti kembali dunia ibu rumah tangga ternyata membawa beban tersendiri dalam diriku. Aku merasa mati secara kreatifitas, mati berfikir dan merasa kesepian. Tidak ada rancangan kegiatan selain nyuci, ngepel, masak, dan segala bentuk kegiatan domestik kerumah tanggaan. Yusuf Abdullah pun terlihat kesepian, karena kakaknya semua sekolah. Maka muncullah ide untuk membuat kelompok bermain di rumah dengan mengundang teman-teman TPQ yang seumuran dengan Yusuf.

Memiliki rumah yang luas dan bercita-cita menjadikan pusat belajar dan bermain anak-anak, remaja maupun orang tua adalah sebuah mimpi sejak dulu. Alhamdulillah ternyata dipermudah untuk mendapatkan lahan kosong dan dipermudah pula untuk mendirikan bangunan diatasnya dengan tanpa memikirkan desain arsitekturnya, yang penting luas dan nyaman, bebas dari hujan dan panas.
Semenjak mengundurkan diri dari SDIT, otomatis mimpi itu semakin menjadi harapan yang ingin sekali diwujudkan. Ide untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan yang berbasis AUD menjadi pilihanku, meski saat itu aku tidak memiliki pengetahuan apapun tentang PAUD. Megingat usia Yusuf sangat butuh lingkungan belajar dan bermain yang baik, maka aku bertekad untuk menciptakan lingkungan itu. Dengan mengundang beberapa teman bermain Yusuf di TPQ dan tetangga sekitar, maka di bulan-bulan pertama di tahun 2011 itu aku mampu mengumpulkan hampir 15 orang anak. Kesemuanya dengan suka rela bermain dan belajar bersama Yusuf di rumah kami.
Untuk masalah metode pembelajaran, kurikulum, penilaian dan lain sebagainya, aku bowsing. Di google lah aku mendapatkan banyak ilmu tentang bagaimana menyiapkan materi, bahan ajar, penilaian dan lain sebagainya. Aku merasa sangat bodoh, tidak punya pengalaman atau pengetahuan apapun tentang PAUD tapi nekad membuat Kelompok Bermain. Namun rasa takut, malu dan bodoh ku, sekuat tenaga aku lawan, aku lebih suka melawan semua perasaan itu dengan yakin, bahwa aku pasti akan bisa melakukan perubahan. Tanpa memikirkan harus adanya administrasi, kurikulum, perijinan dan lain sebagainya, saat itu yang ada hanya ingin menciptakan lingkungan belajar dan bermain yang aman dan sesuai tumbuh kembang Yusuf, itu saja.
Kelompok Bermain Si Kancil, adalah nama yang aku berikan kepada lembaga PAUD ku. Karena anak-anaknya masih kecil-kecil, lincah seperti kancil, dan terdengar lucu. KB Si Kancil mendapat dukungan yang luar biasa dari orang tua, dari merekalah aku mulai memikirkan segala bentuk administrasi, dari mulai berapa jumlah yang harus di bebankan kepada orang tua murid, baik pendaftaranya maupun spp bulanannya. Karena semula tak ada pungutan biaya apapun, hanya infak kaleng yang muter setiap kali kehadiran anak.

Merasa tertantang untuk semakin memperbaiki kwalitas diri baik dari segi pengetahuan, teori maupun aplikasi dalam bidang ke PAUDan, maka aku memutuskan diri untuk kuliah. Namun ternyata keinginan itu harus tertahan dulu karen aku keburu hamil yang ke 4. Sehingga baru setahun kemudian setelah melahirkan dan masa menyusui aku masuk kuliah di IKIP VETERAN Semarang  Fakultas Ilmu pendidikan PG-PAUD. Dengan menggunakan dana simpanan pribadi hasil dari mengajar TPQ dan PAUD, aku mendaftarkan diri dan membiayai seluruh keperluan perkuliahan. Alhamdulillah, tahun pertama berjalan lancar dan membuat aku merasakan manfaatnya. Pengetahuan tentang PAUD bertambah, didapat dari shering beberapa teman dan dosen.
Kendala biaya perkuliahan dan operasional KB mulai terasa, maka ketika ada tawaran dari Mbak Ida Fitriyani untuk menjual gamis dengan modal katalog aku ambil. Alhamduliallah dari order baju itulah biaya kuliah terpenuhi.
KB  Si kancil di tahun kedua semakin banyak muridnya, yang semula 10 bisa mencapai 30 orang, meski yang aktif hanya 25. Administrasi mulai dibenahi sedikit demi sedikit. Ada formulir pendaftaran, spp, ada akhirussanah, ada seragam, ada kegiatan keluar seperti outbond dan beberapa kali mengikuti perlombaah di lembaga lain. Membuat rancangan pembelajaran seperti prota, promes, RKM, RKH, Pelaporan hasil belajar, serfifikat, melengkapi alat permainan edukatif. Tuntutan mutu dan kwalitas pengasuh pun dipertanyakan. Diantara pengasuh ada yang lulusan SR, SMU, PGPQ, namun kesemuanya memiliki kelebihan dibidang tertentu. Dari awal mereka saya ajak bergabung membantu, memang merasa rendah diri, minder dan tidak percaya diri, terlebih latarpendidikan yang rendah. Namun saya yakinkan kepada semuanya bahwa ilmu mengelola KB bisa kita lakukan bersama, lewat seminar, pelatihan dan keorganisasian lainnya.
Lambat namun pasti masing-masing mereka menunjukkan kemampuannya masing-masing, keterbatasan mereka tertutupi satu dan lainnya. Ada yang kreatif, telaten, ada yang pandai mengelola keuangan, ada yang lembut, ada yang tegas. Kesemuanya memang ibu rumah tangga, namun dalam menangani anak-anak sudah bisa dibilang jago, karena disamping membantu saya di KB mereka juga membantu saya di TPQ.
Tahun berganti, jumlah murid bukan semakin banyak namun justru semakin sedikit. Karena memang diwilayah sekitar sedikit AUD, adanya Pos Paud yang biaya masuknya lebih murah bahkan ada yang gratis. Hal ini berdampak pada pembiayaan operasional PAUD. Keseluruhan pembiayaan KB memang didapat dari sumbangan spp wali murid dan biaya dari pribadi.
Disamping itu tuntutan untuk memiliki ijin operasionalpun mualai dipertanyakan. Maka dengan dana seadanya saya berserta suami mendaftarkan KB Si Kancil ke notaris untuk mendapatkan pengesahan secara hukum. Mulailah mecari nama yang pas dan logo untuk KB. Maka Paud ini di beri nama KB Mutiara Umat, karena anak-anak yang bermain dan belajat disini adalah mutiaranya umat, generasi islam, dan genersi 2045 yang akan memimpin Indonesia. Mulailah proposal perijinan dibuat dan disusun sesuai arahan dari UPTD.
Namun sayang, setelah akta notaris dan beberapa syarat yang diminta UPTD kita penuhi, meninggalkan PAUD selama beberapa kali (danmembuat beberapa orang tua protes dan mengancam akan memindahkan anak-anaknya ke tempat lain kalau saya tidak berada di tempat) dan setelah hampir setahun proposal perijinan kami kumpulkan di UPTD, jawaban yang sangat mengecewakan harus aku dengar. “Mbak Proposale Njenengan sudah di gudang..., dan kalau mau mendirikan KB harus punya yayasan, jadi proposalnya tidak terpakai...”.
Mulailah terpikirkan harus membuat sebuah yayasan untuk memayungi lembaga pendidikan ini. Tidak sedikit biaya yang diperlukan untuk membuat sebuah yayasan, dan hampirsaja aku patah semangat. Alhamdulillah gayung bersambut, teman-teman dari komunitas alumni KB PII bermaksud membuat yayasan, maka dengan kerelaan hati dan berharap bisa terwadahi maka KB Mutiara Umat meminta diri untuk di akuisisi.

Keberadaan KB Mutiara Umat diwilayah Jatingaleh terutama di Karangrejo patut diperhitungkan. Kalau berbicara wilayah maka KB MutiaraUmat cukup strategis, terlebih saat ini akan dibangun jalan layang di Jatingaleh, sehingga jalur lalu lintas yang menghubungkan Jatingaleh dengan Jatisari cukup jauh. Maka dibutuhkan lembaga pendidikan formal maupun informal untuk menjembatani kebutuhan ini. Sedangkan kalau dilihat dari segi keterkaitan keorganisasian KB mutiara Umat cukup berperan penting. PAUD Informal maupun formal memiliki wadah organisasi yang bernama HIMPAUDI, yang didalamnya ada beberapa cabang wadah kegiatan dimulai dari Himpaudi Kota, Himpaudi Kecamatan, Pokja, Gugus dan Forum. Dari seluruh wadah cabang kegiatan itu kami yang tergabung didalam PAUD informal dan formal harus mengikuti. Saya sebagai pengelola KB memiliki peranan yang cukup strategis, menjadi bendahara Pokja, menjadi PJ ketua Gugus (karena satu dan lain hal, ketua gugus lama bermasalah). Dan saat ini pun sudah merambah memasuki kepengurusan Himpaudi Kecamatan. Sebuah prestasi keorganisasian yang cukup melejit, karena baru satu tahun bergabung sudah diberi kepercayaan yang sedemikian banyaknya. Meski tidak sedikit biaya yang harus di keluarkan untuk masing-masing kegiatan.

Kamis, 19 Januari 2017

Balada DOSBING 😄


Jam 08.00
"Pak .. saya Ayu, mahasiswa semester 8, kebetulan dosbing saya Bapak... Saya bisa ketemu untuk mulai bimbingan kapan?.."
Jam 09.00
Belum ada jawaban.
Jam 21.00
Belum ada jawaban.

Hufff..... Ayu mulai patah semangat. Waktu seharian menunggu jawaban dari dosbing menjadi sangat menjemukan. 

#
Setelah menunggu dua hari, sebuah SMS masuk ke HP Ayu, mengabarkan tentang kesepakatan bertemu dengan dosbing. Legaaa...

Yang penting ketemu dosbing dulu. Urusan proposal di ACC atau tidak lihat nanti. Bertemu dengan dosen diluar urusan skripsi sih sudah biasa, tapi kali ini Ayu jadi lebih deg deg an.

Saat yang ditunggu pun tiba. Dengan membawa sejuta semangat, Ayu melangkahkan kaki menuju kampus dan menuju ruangan dosbing.

"Assalamualaikum Pak... "
"Wa'alaikum salam... Silahkan duduk. Anda sudah menyiapkan judul proposal anda??"
"Sudah Pak... Ini... "
Sambil menyerahkan proposal Ayu mengatur posisi duduknya. Suasana sedikit tegang, dosbing sambil memeriksa proposal skripsi milik Ayu, tak henti-hentinya wajahnya berkerut. Seolah menggambarkan ketidak berkenannya terhadap proposal milik Ayu.
"Anda sudah membaca buku panduan?"
"Kami belum punya pak"
"Lhoo kok bisa ... Harusnya Anda sudah punya. SK dosbing Anda mana?.."
"Kami juga gak punya pak.."
"Anda ini bagaimana...."
"Waaaah... Bagaimana ini... Oke, biar itu menjadi urusan saya.. Ini sudah saya lihat sekilas, tolong diperbaiki ya..."

Dengan langkah kaki yang gontai Ayu meninggalkan ruangan dosbing. Segera Ayu membuka proposalnya... Luar biasa banyaknya coretan disana sini... Judul saja masih belum di ACC...

#janjian lagi dengan dosbing... HARUS itu

😄 Keep semangat ... Tinggal sejengkal, usaha ini akan menuai hasilnya.

#Reg 8 IVET.. ayooo kita wisuda secepatnya.

Selasa, 17 Januari 2017

Pacar Lama

Lenovo tiba2 bergetar..
"Ping"
Hemmm... Nama baru, sepertinya aku kenal.
"Pong"

Diseberang balik menjawab..
"Mbak... Bisa meet up ndak, pagi ini..."
"Maaf untuk hari ini belum bisa. Kalau besok bagaimana??"
"Oke deh, jam 09.00 ya... Di Delman."
"Oke"..

Anak ini kenapa tiba-tiba menghubungi aku,... Ada apa ya...

#
Pagi ini kuputuskan untuk menemui Laila, ibu muda yang sedang hamil anak kedua. Kuparkir motorku dihalaman Delman. Laila sudah menungguku, dengan penampilan yang santun dan memang mempesona.

"Sudah lama menunggu ya.."
"Iya mbak.. gak papa, aku tadi sambil ngantar anak."

Mulailah mengalir cerita Laila. Perasaannya sedang galau, maklum sebagai ibu muda yang ditinggal suami bekerja jauh, dengan dua anak, bertemu suami sebulan sekali. Kehamilan yang sudah semakin tua, dan tidak ditemani membuat Laila teringat seseorang yang pernah singgah di hatinya.
Sebenarnya aku tidak mau masuk kedalam cerita kehidupannya. Tapi aku mencoba memahami keadaannya.

"Mbak tau bagaimana kabar Watimena.."
"Tidak banyak yang aku ketahui tentang dirinya, yang jelas dia sudah kembali ke Timor Leste..."
"Aku tiba-tiba ingat dia mbak, entahlah,... Saat ini ketika aku merasa kalau suami suka marah-marah, Aku ingat dia. Aku kangen mbak..."
"Hemmm.... Lai... Kamu dan dia sudah bukan remaja lagi, tak sepantasnya kamu mengingat-ingatnya. Jalani kehidupan kalian sendiri-sendiri..."
"Aku cuma mau tau kabarnya saja kok mbak..."..
"Sudahlah... Dia baik-baik saja, nanti aku salamkan ya... Hehehe"
"Mbak... Aku merasa bersalah dengannya, aku dulu meninggalkannya karena kita beda keyakinan. Setelah itu aku mendengar kariernya hancur, ada perasaan bersalah sangat besar dalam diriku.."
"Lai... Semua itu bukan salahmu, ini pilihan, keyakinan tidak bisa dipaksakan.."
"Iya sih... Tapi aku bener bener kangen dia..."
Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Anakmu kelas berapa?"
"Kelas 2 mbak, ini aku sedang hamil, masuk bulan 8, bentar lagi lahiran.."

Sambil menikmati makan siang yang sudah tersaji, aku buka lenovoku..
Sebuah pesan masuk, dari Watimena. Ingin aku kabarkan padanya kalau aku sedang bersama Laila.. tapi kuurungkan. Dan kepada Laila pun aku tidak sampaikan. Laila dan Watimena memang dulu berpacaran, mereka termasuk pasangan yang awet. Sayangnya mereka beda agama. Dulu aku mencoba mengingatkan Watimena, tentang hal ini, tapi merekalah nanti yang akan menentukan. Dan akhirnya Laila yang memutuskan untuk berpisah.

"Mbak... Salahkan aku jika aku mengingatnya, dan berjumpa dengannya.."
"Lai... Sebaiknya kau tidak perlu menjalin komunikasi lagi dengan Watimena. Terlalu bahaya... Hubungan kalian yang dulu pastinya masih membekas. Lha kalau sekrang kalian terhubung kembali aku khawatir rumah tanggamu jadi kacau..
Sudahlah... Jangan berpikir yang aneh-aneh.. "
"Iya deh mbak..... Tapi aku begini karena suamiku juga pernah menyakiti aku mbak..., Dia pernah bersama wanita lain..."

Haduuuh... Ini namanya apa... Balas dendam...
Apakah kejadian seperti ini bisa menjadi alasan untuk melakukan perbuatan yang sama...


#pacar lama, perlukah muncul sebagai pahlawan???

Senin, 16 Januari 2017

Akhlak

#
Bunyi klakson motor dibelakangku tak berhenti sejak tadi. Adakah yang salah dengan motorku..?

"Hai.. kenapa kemaren kirim kirim pesan lewat WA.... Dasar wanita gatel, suka sekali ke GR an.. kemaren yang chat anak-anak, lha wong suamiku sudah gak pernah pegang HP lagi, kok kamu masih saja ke gatelen, buru-buru njawab.
Mbok jadi wanita itu yang Sholehah, jadi istri itu yang baik..."..

Memangnya aku tau... Aduh aneh deh..

Seketika ku tengok sumber suara, masih berada diatas motor, karena memang kami sedang mengendarai motor untuk menjemput anak-anak pulang sekolah.
"Monggo sak kerso njenengan badhe ngendikan nopo mawon mbak..."

Sambil berlalu aku meninggalkan wanita itu. Ya wanita yang dengan kemarahan dan kebencian yang tak terkontrol berteriak teriak untuk memaki ku.
Kulayangkan sebuah SMS kepada suami. Mengabarkan kejadian yang baru saja terjadi.

"Bersabarlah... Kata ustat, kita itu seperti teko, yang keluar dari teko ya itulah isinya, kalau wanita itu memaki mu dengan kebencian berarti isi dalam dirinya ya kebencian, sebaik apapun kamu ya tetep saja dia benci.."

Itulah nasehat suami, meski aku menerima perlakuan seperti itu, dalam hatiku muncul kebencian. Rasanya enggan untuk berjumpa dengannya dan seluruh keluarganya. Meski itu pun tak benar. Yang bermasalah dia, bukan suaminya atau keluarganya.

##

"Yah... Ayah kan kemaren tau to, ada yang mis call, no nya aku gak tau siapa, HP ku kan baru... Jadi semua kontak aku tak tau namanya... Aku hanya bertanya siapa... Kok mis call sampai berkali kali, aku pikir penting,... Dan aku kira orang yang mau jadi donatur acara kita. Lagian bunda nggak pernah menyimpan no kontak mereka..."
"Ya... Aku ngerti kok...Kemaren ayah kan baca sendiri di HP bunda.... Dia sudah ku telpon tadi. Katanya dia mau mengklarifikasi, siapa yang mainin HP nya..."
"Oooo... Cara mengklarifikasi itu begitu ya.. berteriak-teriak, memaki orang di atas motor sambil jalan... Hebat ya.."
"Dia kan cemburu sama Bunda... "
"Kecemburuan yang membabi buta.."
"Cemburu itu karena ada sesuatu yang tidak dimiliki,... Ah sudahlah.... Biarkan saja. Kita terima saja, nanti ada balasannya..."
"Lha suaminya tau??"
"Tau... Tadi juga minta maaf atas kelakuan istrinya...."
"Ayah tidak melakukan apa-apa lagi??""
"Ayah mengajak mereka bertemu, kita berempat ketemu. Biar jelas letak permasalahannya.. Tapi ya... Mereka memang penakut. Sudah lah... Biarkan saja.."


Kebencianya sudah tak bisa dianggap biasa kecurigaan lebih dominan. Begitu cemburunya dia pada ku... Dengan suaminya saja sudah tidak percaya, apa lagi dengan orang lain .

#teko berisi kebaikan keluarlah kebaikan...
Semoga menjadi hikmah

Jumat, 06 Januari 2017

CLBK

Layaknya remaja belasan tahun, perasaan deg deg an bertemu teman lama itu muncul.
Merasakan kerinduan yang dulu pernah ada. Berharap bisa selalu bertemu dengan nya sepanjang hari.

Wow.... Cinta Lama Bersemi Kembali...😄 Rasanya masih seindah dulu, tapi yang ini lebih kencang debarannya...

Bagaimana tidak....
Kami telah sama-sama berkeluarga, sama sama sudah punya anak remaja. Hohoho... Itulah cinta. Tak memandang apapun.
Cinta itu tumbuh dan bersemi, menebarkan aroma wangi yang ingin selalu di nikmati.

Ya... Aku rindu dengannya, kerinduan yang sudah terpendam sejak 2 tahun lalu. Aku mencuri pandang, dan perhatiannya. Aku cemburu liat dia dekat dengan pemain orgen itu. Aneh memang, kenapa aku justru cemburu dengan pemain. Orgen ? Bukan dengan suaminya.
Dan kali ini aku tak ingin berdiam diri. Aku ingin dia tau. Aku akan sampaikan kerinduanku ini, aku akan sampaikan kecemburuanku padaya. Aku tak perduli dengan apa yang akan terjadi. 

#suatu hari awal Ramadhan 

"Ndok.. kamu kemana saja, aku kangen pengen ketemu dan liat kamu. Rasanya seneng aku, bisa liat kamu.
"Mas kok tiba-tiba aneh"

"Benar.... Aku kangen, seneng liat senyummu.."
"Eh... Jangan salah artikan keramahan ku ya.. aku tidak ada maksud apa-apa lho... Mas jangan bikin aku takut ah.."

"Benar... Aku masih menyimpan cinta dan sayang untuk mu, sampai kapanpun, kau yang pertama bagiku..."
"Alaaahhh.... Dulu kenapa milih dia, dan Mas meninggalkanku...., Jangan merusak segala nya... 
Aku hanya ingin kita menjalin hubungan baik, layaknya keluarga. Jangan sampai istri Mas tau ungkapan perasaan Mas kepada ku..."

#

Asyeekkk..... Gendhok ku masih memberi perhatian kepadaku. Pasti dia masih sayang sama aku juga... 😘. Ah besok aku ajak sarapan, pas pulang ngatar anak-anak sekolah.

#
Tin tin..
Ndok mampir warung yuk... Kita sarapan bareng, cuma sarapan kan gak papa to...
Mas mu paling juga gak masalah.."

"Kalau Mas ku sih gak masalah Mas, karena beliau tau kebiasaanku bersama teman-temanku yang lain. Justru yang dikhawatirkan istrine njenengan. Pasti sakit hati lah kalau tau kita makan bareng.."
"Ya mesti lah, kita kan dulu pernah dekat.."
"Naah... Gitu tau, masih nekad ngajak-ngajak aku. Ingat ya... Aku mau sarapan bareng itu tok.. g mau yang lain. Aku terima tawaran ini karena aku juga biasa makan bareng teman-temanku, bukan karena mengistimewakan Njenengan..."
"Ya nggak papa lah..., Aku cuma mau sarapan sama kamu, sambil ngobrol dan puas puasin Mandang wajahmu.."
"Weh lha dalah... Nekad juga Njenengan Mas.."

#
Horeeee aku berhasil merayunya untuk sarapan bareng. Puas aku melihat wajahnya yang makin cantik, manis, dan lipstiknya bener-bener serasi... Aku jadi pingin menciumnya...😍😘
Sayang aku belum berhasil mengajaknya bersalaman .

Perasaanku saat ini sangat senang sekali. Aku jadi ingin sering bertemu. Walau hanya sekilas pandang. Gendhok ku makin matang. Pola pikirnya, cara menyikapi masalah, ah kenapa dulu aku meninggalkanmu...

#
"Ndhok... Apa mas mu gak cemburu kalau liat kita ngobrol begini, kok kamu mau tak jak makan siang.... "
"Mas ku gak cemburuan. Beliau tau kok kalau njenengan menyampaikan perasaan kangen dan masih sayang sama aku..."
"Waduh.... Mati aku Kok kamu ngomong... Aku kan jadi nggak enak kalau ketemu mas mu.."
"Lha ya harus aku sampaikan lah.... Dia kan teman luar dalam ku, gak ada rahasia rahasia an."
"Lha po gak marah.."
"Enggak.... Aku sih pinginnya beliau ngajak bicara njenengan, tapi katanya.. kita tidak bisa memaksa orang untuk benci atau suka dengan kita. Namanya perasaan  tidak bisa diatur, cuma jagalah perasaan istrinya.."

"Owh... Mas mu normal gak sih.. mosok cuma gitu tok.."
"Ya begitulah,.. sekali lagi... Teman cowok yang deket denganku banyak, semuanya suamiku tau, dan aku perlakukan sama. Tidak ada yang istimewa..
"Mosok aku gak istimewa.."
"TIDAK.... Njenengan masa laluku, dan aku yakin kalau sampai istrimu tau, dia akan. Marah. Jadi tolong jangan lanjutkan lagi, mengungkapkan perasaan-perasaan mu.. 
Dulu njenengan yang memilih meninggalkan ku, dalam keadaan aku sedang belajar menerima kehadiranmu. Kau tinggalkan aku dengan alasan.. memang mulia alasanmu, tapi bagiku itu sedikit menyisakan tanda tanya dan sedikit kecewa..
Sudah lah Mas... Jangan kau biarkan perasaanmu kepadaku terus tumbuh. Aku takut, andai saja aku ikut terbawa, dan hubungan kita jadi merusak segala sesuatu yang sudah kita miliki. Keluarga kita, istri dan suami kita, anak-anak kita. Hubungan kita di masyarakat."

#
Ups... Gendhok ku menangis, ah ... Aku telah membuat dia tersakiti kembali. Aku laki-laki kurang ajar memang. Tapi... Aku masih cinta... Aku masih sayang. Aku ingin bersama-sama dengan mu Ndhok... Entah untuk kapan.. aku berharap suatu hari nanti...

Melihatnya semakin berkarya, berprestasi, aku semakin bangga. Mengapa aku dulu meninggalkannya. Dia semakin dekat dengan pemain orgen itu, 😥
Ndhok... Aku cemburu..

#
"Mas, besok acaranya jadi ada musiknya kan?. Aku minta tambahan dana ya.."
"Jadi.. oke deh, untuk mu apapun lah, nanti tak kasih lebih.."
"Emoh ah... Kalau seperti itu aku gak mau ketemu lagi.."
"Hemmm tambah manis kalau lagi marah gitu.. 😀"
"Emboh Mas.."

#
Asyik... Gendhok ku mulai menikmati kembali kedekatan yang aku tawarkan. Tapi aku kok semakin takut kalau istriku tau. Bagaimana jika istriku tau, kalau aku dekat kembali dengan Gendhok. Meski kedekatan ini bagiku hanya selingan cerita indah. Tak bermaksud untuk menjalin hubungan istimewa. Ah.. masak begitu, perasaanku mengatakan aku sangat bahagia dan gembira ketika bersama dengan Gendhok. Bahkan aku berharap hubungan ini akan terjalin kembali meski entah kapan dan bagaimana.
Aku sudah mulai gila, aku benar benar tergila-gila dengan Gendhok kembali.

Kamis, 15 Desember 2016

Ulang tahun istimewa

Sebuah kebahagiaan dikelilingi keluarga, sahabat, teman, tetangga, anak-anak didik yang semuanya memberikan dukungan semangat, doa..
Bahagia menjadi bagian dari perubahan..
Sebuah kesempatan menjadi lebih baik.

Suami yang baik. Bertanggung jawab, penyanyang, dewasa.

Anak-anak yang cantik, ganteng, cerdas, lincah..
Teman-teman penuh kehangatan.
Meski tetep saja ada yang benci...

Inilah hidupku
Memberi manfaat pada sekitar..


  • Termakasih Ya Allah..

Senin, 04 Juli 2016

SEKEPING HATI





Awal Ramadhan secara tiba-tiba Robeth ( yang sekarang telah menjadi muslim yang taat, dan namanya menjadi Maulana), menyampaikan perasaannya terhadapku. Betapa dia rindu kepadaku, betapa dia kehilangan diriku, karena lama tidak bertemu.
Ungkapan yang aneh kenapa? Apa yang sedang terjadi? Apa yang telah aku lakukan sehingga Robeth menyampaikan perasaannya kepadaku.
Ungkapan perasaan itu terulang lagi, bahkan dengan getaran yang berbeda. Aku yang semula hanya biasa saja, tak pernah merasakan debaran jantung yang sedemikian kencangnya, malam itu ketika Robeth kembali mengatakan bahwa Dia rindu denganku, bahkan selalu merasa berdebar-debar ketika sedang berpapasan atau berjumpa denganku, dan merasakan kerinduan yang amat sangat ketika tidak menjumpaiku.
Bagai disambar petir disiang hari, seluruh tubuhku bergetar, jantungku berdebar lebih cepat, tanganku dingin, rasanya aku ingin menangis, berlari. Saat itu pula semua berputar menuju masa lalu, 15 tahun yang lalu.

Keputusan 15 tahun yang lalu

Sekeping hati di bawa berlari
Jauh melalui jalanan sepi
Ada ujian yang datang menghalang
Didepan matamu para pejuang......

Sebait lagu menemani langkah kaki ku menyusuri jalanan baru, jalan kehidupan yang membentang di depan mata, yang aku sendiri tidak tahu apakah jalanan itu terjal, penuh rintangan atau jalan yang mulus tanpa penghalang. Perjalanan cinta ku yang tak semulus harapanku. Meski demikian aku bersyukur, perjalanan cintaku memberi banyak sekali pelajaran berharga. Masa remajaku juga bukan mas remaja dengan pergaulan bebas yang seperti anak muda-mudi saat ini. Aku adalah produk lama, yang tidak begitu banyak mengenal laki-laki atau lebih tepatnya aku bukan tipe cewek yang menarik untuk didekati cowok. Kesan yang sering mereka tangkap dariku adalah sosok yang garang. Secara fisik tak ada yang menarik pula dari diriku, aku bukan cewek yang cantik dan penampilan seksi, bukan pula cewek yang suka tongkrong-tongkrong di Mall. Hari-hariku kuhabiskan untuk sekolah, membantu orang tuaku berjualan dan aktif di karangtaruna kampung.
Meski demikian ada juga laki-laki yang punya maksud kepadaku, Robeth adalah salah satunya, pemuda pertama yang mengenalkan aku pada bagaimana rasanya disayangi, diperhatikan dan kemudian dicintai. Dari dia lah aku belajar membalas segala bentuk perhatiannya kepada ku.
Pada mulanya kami hanya sering bertemu dalam sebuah kegiatan karangtaruna. Intensitas kami bertemu membuat kami menjadi dekat dan mulailah tumbuh rasa simpati yang lebih dari Robeth kepada ku. Sedangkan aku sendiri belum begitu memahami maksud dari perhatian Robeth. Maklum saja saat itu aku masih sangat muda. Aku masih harus memikirkan sekolahku, dan cita-citaku, lagipula Robeth memiliki perbedaan yang besar denganku, Dia beragama katolik. Kebersamaan dan kedekatanku dengan Robeth memang harus dibatasi. Meskipun Robeth bermaksud menjadikan aku sebagai pendampingnya dan itu sangat tidak mungkin terjadi. Kecuali Robeth berpindah keyakin. Itulah syaratku.
Namun usahaku untuk mengenalkan Robeth kepada keyakinanku nampaknya jauh dari apa yang aku harapkan. Meski aku mulai menerima cinta dan kasih sayangnya, namun hubungan ini tidak mungkin berlanjut. Akidah yang sama adalah harga mati untuk sebuah pernikahan.
Hal ini membuat hubungan kami renggang, dan hingga pada ahirnya aku mendengan Roberhakan menikah dengan Cristin gadis pilihan ayahnya. Tepat setelah 3 tahun kebersamaan ini akan berahir dengan pernikahan Robeth dengan Cristin, gadis yang seagaman dengan Robeth, Cristin memang pantas menjadi pendamping bagi Robeth.

“ Hanna Maafkan aku, aku tidak bisa mengikuti keyakinanmu, dan ayahku telah menjodohkanku dengan Cristin. Aku akan menikah dengan Cristin. Aku menyadari hubungan kita tidak akan mungkin dilanjutkan ke jenjang pernikahan, kita berbeda keyakinan, aku yakin kau pun demikian, sekali lagi maafkan aku Hanna.”
“Mengapa kau begitu sulit merubah keyakinanmu, setelah sekian lama kebersamaan kita, akankan kita ahiri dengan jalan seperti ini Robeth, kau telah begitu banyak mengenal agamaku, bahkan kau menyadari bahwa keyakinankulah yang benar, mengapa kau tak mau mengucap Syahadah bersamaku, meniti jalan kebersamaan kita ke jenjang pernikahan, dengan keyakinan yang sama dengan ku....”
“Maaf Hanna, aku saat ini belum bisa menerima keyakinanmu sebagai pilihanku. Sekali lagi maaf..”
Demikianlah akhir dari kisahku dengan Robeth. Perasaanku begitu kehilangan Robeth, banyak tanya yang seharusnya aku ajukan kepada Robeth, tapi semua bagiku sudah tak perlu lagi. Semua telah menjadi pilihannya. Keputusannya merupakan yang terbaik bagi dirinya dan juga bagi Cristin.
Hari-hari selanjutnya aku lalui dengan terus menatap kedepan, menapaki masa depan yang masih membentang di depan mata. Semua pasti telah dipilihkan yang terbaik untuk masing-masing diantara kita.
Kebersamaan yang telah kita jalin bersama sudah bukan rahasia lagi. Bahkan kemana-mana kami berdua sudah dianggap punya hubungan serius. Kabar pernikahan ini membuat orang bertanya kepadaku bagaimana perasaanku kepada Robeth, apakah selama ini hanya kebohongan. Apakah aku tidak terluka?, tidak kecewa?. aku tidak kuasa untuk memintanya membatalkan atau memikirkan kembali tentang keputusannya. Terlebih kepercayaan kita berbeda, tentunya banyak yang harus aku pertimbangkan seandainya kita serius melanjutkan hubungan.
Meski aku merasa sedih, namun semua lebih mudah aku terima karena masih banyak aktifitas yang bisa aku lakukan dan melupakan semua itu. Pada ahirnya aku bisa berlari mengejar mimpi-mimpi dan harapanku terhadap masa depanku.
Akupun meminta Robeth untuk membakar semua catatan-catatan kita, menghapus semua kenangan-kenangan kebersamaan kita, yang sempat mengisi hari-hari kita. Dimana kita pernah beraktifitas yang sama, setiap pagi, berjalan bersama, sambil berlari-lari kecil mengelilingi kompleks. Pergi bersama membeli sebuah gaun pesta warna merah di hari ulang tahunku, kemudian pulang bersama naik bis. Pergi ke puncak dengan mobil tua, salah satu koleksinya, karena mobil tua saat naik ke puncak mobil pun mogok, ah kenangan yang tak akan terlupakan. Mengenal keluarga Robeth yang penuh kehangatan, menerima kehadiranku, meski kami berbeda keyakinan, menjadi kenangan yang tak akan terlupakan. Semua harus terhapus dan tak perlu diingat kembali. Memendamnya dalam sumur yang dalam, menguburnya akan lebih banyak membantuku untuk menghadapi masa depan.

Pernikahan
Undangan pernikahan Robeth – Cristin telah aku terima, esok lusa aku akan hadir dalam pernikahan mereka. Saat itu aku tidak mendapati Robeth maupun Cristin menyambut kedatanganku. Seolah-olah kehadiranku bukanlah kehadiran yang diharapkan. Sehingga aku memutuskan untuk berlalu begitu saja. Sampai saat ini aku tidak tahu bahkan tidak ingin tau apakah Robeth mencintai Cristin. Apakah Robeth telah berbohong kepadaku tentang persaannya kepadaku. Apakah dibalik kebersamaan kami dulu Robeth telah menduakan diriku. Rasanya sudah tidak penting lagi pertanyaan-pertanyaan itu. Biarlah semua berlalu berjalan di garisnya masing-masing.
Setelah Robeth menikah, aku sama sekali tidak pernah menjalin komunikasi lagi dengannya. Bahkan dengan Cristin, aku sama sekali tidak berani menyapa, bertanya. Cristinpun demikian, setiap kali bertemu denganku kesan yang aku tangkap Cristin menghindar. Mencoba menyingkir dan buru-buru menghilang.
Kesibukan ku di LKP yang mengurusi anak-anak jalanan semakin membuatku mudah melupakan Robeth.  Hampir setiap pekan aku keluar kota untuk turba. Ditambah aku harus membantu pekerjaan kakakku, demi sekolah adik-adikku. Berkutat dengan pekerjaan membuat aku terkadang merasa lelah, dan ingin istirahat. Keinginan untuk dimanja, diperhatikan, dicintai mulai muncul. Beraharap ada seseorang yang berani memperistri diriku, membebaskan aku dari beban kehidupan keras yang harus aku jalanan saat ini.
Di LKP, ada seseorang yang mencoba mendekatiku, memberikan perhatiannya kepadaku, menawarkan bantuannya dengan senang hati. Agamanya baik, orangnya sopan, meskipun penampilannya kucel. LKP mempunyai banyak sekali program turun ke jalan, untuk memberikan pendampingan kepada anak-anak jalanan, sehingga mau tidak mau aku akan sering bertemu dengan Fahri. Karena trauma dengan Robeth, aku tidak ingin berlama-lama dekat dengan Fahri, terlebih aku tidak mau kedekatan ini membawa fitnah. Dengan tegas aku meminta Fahri untuk segera melamar dan menikahiku, jika memang menghendaki kedekatan ini berlanjut. Meski tidak banyak yang aku ketahui tentang Fahri dan keluarganya, namun tantanganku diterima Fahri, dan akhirnya kami pun menikah
Mas Fahri adalah laki-laki yang sangat dewasa dalam berfikir dan berpendapat. Teman yang paling bisa mengikuti pola pikirku, pola aktifitasku yang semakin padat. Saat pernikahanku, aku tak ingat apakah Robeth dan Cristin datang, meskipun aku mengundang mereka. Aku benar-benar telah melupakan Robeth untuk selamanya, semua kenangan tentangnya terpendam dalam-dalam dan tak terungkit sedikitpun. Dunia yang telah dibangun Robeth dan Cristin dan keluarganya sama sekali bukan urusanku.
Setelah menikah Aku bersama Mas Fahri pindah ke Jogja sehingga mempermudah aku untuk melupakan Robeth bersama kenangannya. Bahtera keluarga yang aku bangun bersama Mas Fahripun mengarungi samudra yang luas.
Hingga usia pernikahanku menginjak 3 tahun, aku dan Mas Fahri memutuskan untuk pulang kembali ke Solo, ke kampung halamanku. Karena selama di Jogja aku merasa aktifitas di LKP berhenti begitu saja, dan tidak berkembang. Aku membutuhkan lingkungan yang bisa menerimaku dan aku sendiri bisa mengisi dan memberi warna lingkunganku. Ketika aku kembali ke Solo, aku akan lebih mudah bertemu kembali dengan Robeth. Sebuah pertemuan yang pastinya akan membuat kikuk diriku dan dirinya.

Kampung halaman
Kembali ke kampung halaman adalah sebuah kerinduan, kembali menyusuri jalan-jalan yang penuh kenangan dan perjumpaan dengan Robeth pun tak pernah bisa dihindarkan. Perasaan berdebar, selalu muncul ketika kami terpaksa bertemu. Robeth dan Cristin telah menjadi mualaf, alhamdulillah, hidayah Allah telah menghampiri mereka berdua. Robeth mengganti namanya menjadi Maulana, sedangkan Cristin menjadi Aisyah.
Kedekatanku dengan Robeth atau Maulana dahulu sudah aku ceritakan kepada Mas Fahri, sampai ketika aku merasa takut ketika bertemu dengannya kembali, aku selalu bercerita kepada Mas Fahri. Beruntung aku punya suami yang sangat percaya kepadaku. Apapun yang aku lakukan suamiku selalu mendukungku, memberi kesempatan yang luas kepadaku untuk bergaul dengan siapa saja.
Berada di kampung yang sama dan kenangan yang sama, sedikit banyak membuat aku kembali mengingat masa lalu. Terlebih beberapa orang disekitarku selalu mengungkit tentang kedekatannku dulu dengan Maulana.
Ada yang masih suka bercanda dengan ku tentang Maulana, bagaimana Maulana sekarang, bahkan menyampaikan kalau Maulana masih mencuri-curi pandang kepadaku. Semua itu aku tanggapi dengan hanya cukup senyum saja. Demikian pula komunikasi yang berusaha aku jalin dengan Aisyah mengalami sedikit ketidak nyamanan diawal kepindahanku. Aisyah cenderung menghindar, dan menjaga jarak denganku.
Tahun berganti dan berlalu begitu saja, hingga memasuki tahun ke 15 perpisahan antara aku dan Maulana dengan bahtera rumah tangga sendiri-sendiri.

Ramadhan..
“Aku cemburu melihat kedekatanmu dengan Hanafi, mengapa kau begitu perhatian kepada Hanafi ?.
Sebuah kalimat dan pertayaan yang tak pernah aku duga sebelumnya, bagaimana mungkin Maulana menyampaikan perasaannya seperti itu? Mengapa kedekatanku dengan Hanafi justru membuat Maulana cemburu?. Sedang terhadap suamiku, Maulana tidak menyampaikan kecemburuannya. Letak kesalahannya dimana?.
“Sejak dua tahun yang lalu aku memperhatikanmu begitu dekat dengan Hanafi, dan aku perhatikan kau sering di goda oleh Hanafi, aku tidak terima, ingin sekali aku membelamu, mendekatimu, namun aku hanya bisa menahannya, sampai hari ini aku memberanikan diri untuk menyampaikan perasaanku padamu Hanna...”
Maulana menyampaikan kecemburuannya terhadapku, dan yang aneh sekali adalah Maulana cemburu kepada Hanafi, teman kerjaku yang kebetulan satu tim dalam program pemberdayaan kampung mandiri, bukan kepada suamiku. Perasaan yang tersimpan terjadi sejak 2 tahun yang lalu. Lalu mengapa Maulana menyampaikannya kepada ku? Mengapa Maulan tidak menyembunyikan perasaannya kepadaku. Toh sudah 2 tahun Maulana bisa menyembunyikannya, mengapa kini dia berani menyampaikannya.
Bagai tertimpa atap, seluruh fikiranku terpenuhi berbagai pertanyaan dan perasaan yang serba salah. Dan secara spontan ingatan masa lalu itu pun berputar di depan mataku. Rasa sakit tiba-tiba muncul, kemarahan, kepasrahan, kekecewaan, berpuluh-puluh pertanyaan yang tertahan. Semua terkumpul dalam satu bilik di otakku. Rasa sakit ketika Maulan memutuskan menikah dengan Aisyah, meskipun aku tau saat itu kami memang tidak mungkin disatukan karena perbedaan kepercayaan. Namun melihat dia sekarang, yang sudah menjadi mualaf, membuatku bertanya apakah dulu dia tidak berkeinginan menjadi mualaf hingga bisa bersama-sama denganku, seaqidah.
Apa yang Maulana rasakan membuat aku salah tingkah, aku jadi merasa apa yang akan aku lakukan, apa yang dia liat dan rasakan terhadap sikap-sikaku nantinya, mencerminkan bahwa aku juga merasakan hal yang sama dengannya. Bahwa masih ada cinta dan kasih sayang dalam diriku untuknya.

Segera aku berlari memeluk dan bersembunyi dibalik dada Mas Fahri, suamiku tercinta. Aku menangis dan menceritakan semua kepadanya. Mas Fahri yang dari awal sudah tahu bagaimana hubunganku dengan Maulana dulunya, memberikan kepercayaan penuh kepadaku, Mas Fahri mengatakan bahwa aku tidak bisa memaksakan seseorang untuk tidak memiliki perasaan apapun kepada ku, mereka yang diluar sana boleh mencintai, membenci atau apapun kepada ku. Yang terpenting adalah bagaimana dengan ku. Apakah aku memiliki perasaan yang sama dengan Maulana?.
Tentu saja aku jawab tidak, selama ini aku tidak pernah berfikiran bahkan terbesit sedikitpun untuk memikirkan Maulana kembali, dia adalah masa lalu dan Mas Fahri adalah masa depanku. Apa yang ada saat ini tidak akan aku relakan untuk ku lepas, dan ku gantikan dengan yang lain, apapun itu alasannya. Terlalu mahal untuk aku korbankan.
Berbekal kepercayaan inilah aku menghadapi setiap tatapan Maulana, ungkapan perasaan rindunya dengan lebih tegar, dan sabar. Semua perasaan kacau yang selalu mengiringiku ketika harus bertemu dan bersama-sama dengannya, aku lawan, aku bertekad untuk menghadapinya, dan pasti aku bisa.

Waktu-waktu bersama Robeth Maulana kembali
Setelah Maulana menyampaikan perasaannya, pola komunikasi kami kembali terjalin lebih akrab dan dekat. Aku takut, sedikit saja orang melihat kebersamaan kami, pasti ingatan mereka akan tertuju pada waktu yang lalu, dimana aku dan Maulana pernah bersama. Aku sekuat tenaga menghindar, namun akupun merasa sulit. Beberapa pertanyaan masa lalu yang ingin aku tanyakan secara langsung kepadanya, membuat aku mengikuti alur yang Maulana tawarkan. Perjumpaan demi perjumpaan, membuat ku sedikit mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan masa lalu.
Aku merasa sangat takut, bagaimana kalau Cristin atau Aisyah melihat kami bersama. Aku tidak ingin menyakiti siapapun, aku tidak pernah bermaksud untuk kembali dengan Maulana. Bukan untuk saat ini maupun untuk masa yang akan datang.
“Hanna, maukah kau menerima cintaku dan menempatkan di sisi hatimu yang lain..”
“Maaf, aku tidak bisa. Kau berhak untuk mencintaiku, namun tidak dengan diriku..”
“Aku begitu sulit melupakan mu Hanna, wajahmu selalu terbayang, aku ingin selalu melihatmu, berjumpa denganmu, mengingat masa lalu, masa kebersamaan kita dulu...”
Mendengar ungkapan perasaan ini, aku semakin merasa sedih, aku semakin merasa serba salah dan takut, hingga membuatku menangis. Antara ingatan masa lalu dan kenyataan yang saat ini ada.
“Aku mohon apa yang aku sampaikan jangan kau ceritakan kepada Fahri, biarlah ini menjadi rahasia kita berdua saja. Aku ingin membuat cerita berbeda denganmu, cerita perjalanan cintaku denganmu di lembar yang berbeda.”
Bagaimana mungkin Maulana memintaku untuk tidak menyampaikan apapun tentang perasaannya kepadaku, menjadikan ini sebuah rahasia antara aku dengan Mas Fahri. Aku tidak bisa berjanji, aku tetap akan membicarakan hal ini kepada Mas Fahri, aku tidak bisa menyembunyikan hal ini kepadanya.
“Mengapa kau mengungkapkan semua ini kepadaku, mengapa kau tega membuatku serba salah seperti ini, aku tidak nyaman dengan semua ini, aku terlalu takut untuk menjumpaimu, kebersamaan ataupun kedekatan kita pasti akan langsung dijadikan bahan pembicaraan orang. Bagaimana dengan istri dan anak-anakmu?. Terus terang Mas Fahri sudah tau kalau dirimu menyampaikan perasaanmu kepadaku, sejak pertama kali kau mengatakan kalau kau rindu padaku...”
“Owh, bodohnya aku. Aku memang salah, aku mencoba melupakanmu, dan berusaha keras untuk tidak memikirkanmu, tapi aku tidak bisa. Bayang-bayang wajahmu selalu menemaniku. Aku juga tidak tahu mengapa demikian. Aku hanya ingin menyampaikan perasaanku saja kepadamu....”
“Tapi aku tidak suka, aku tidak menginginkan semua ini, aku tidak ingin tahu bagaimana perasaanmu. Ketika aku tahu bagaimana perasaanmu aku jadi serba salah. Apa yang aku lakukan kau anggap sebuah perhatian khusus, padahal aku biasa saja....”
“Tapi kau pasti masih menyembunyikan getaran cinta kepadaku kan Hanna..??”
“Tidak!!. Kau masa laluku, yang pernah mengisi sebagian hari-hariku, sebagian sisi hatiku, Ketika kau memutuskan menikah dengan Cristin, itu sudah cukup bagiku untuk melupakan semuanya, sampai kapanpun... ”
“Andai kau jujur padaku dan pada dirimu sendiri, kau pasti masih menyimpan cinta untukku, kau masih perhatian denganku kan Hanna?.”
Begitukah yang dilihat Maulana tentang sikap ku selama ini, keramahanku dan beberapa nasehat yang aku sampaikan kepadanya, dia anggap sebagai  bentuk perasaanku kepadanya.
“Mas... bukankan sudah aku katakan, bentuk perhatian atau apapun yang telah kau rasakan saat ini dariku, sebenarnya wajar dan biasa saja, hanya karena kau merasakan getaran cinta itu kembali, jadi semua yang kau lihat dari ku kau anggap bentuk cintaku kepadamu... “
“Seharusnya .... meskipun aku masih mencintaimu, tapi tidak sepantasnya aku ungkapkan dan mengharapkan balasan darimu, karena sekarang posisi kita masing-masing berbeda, dan tidak mungkin bisa lagi, jadi itu hanya mimpi yang tak akan pernah nyata, khayalan kosong dan mungkin harapan yang membodohi diriku sendiri...”
“Seharusnya demikian....”
“Tapi begitu sulit Hanna, aku harus meredam semua gejolak perasaanku yang tak pernah hilang, tapi juga harus berpura-pura seolah-olah tidak ada rasa apapun kepadamu.”
“Aku pikir setelah sekian hari aku tidak berjumpa denganmu, kau sudah melupakan gejolak perasanmu...”
“Iya, aku selalu mencobanya Hanna, tapi setelah melihat mu, aku merasa ingin bersamamu, meski sebentar. Setiap kali aku berusaha untuk melupakanmu, justru semakin kuat ingatanku kepadamu. Ahirnya aku tak kuasa melawannya, ”
Tak kuasa aku menahan tangis, aku sedih, marah, kecewa, bingung dan takut. Hari-hari selanjutnya, aku menjalani semuanya dengan perasaan yang kacau.
Tak akan ada yang mampu menolak sebuah perhatian, kasih sayang, dan cinta dari siapa saja terhadap diri kita. Begitu pula dengan diriku, tawaran perhatian, kasih sayang, dan mungkin cinta dari Maulan sedikit banyak harus aku syukuri. Bagaimanapun setiap diri akan senang jika mendapatkan hal ini. Namun tidak lebih dari sekedar rasa sayang, cinta sebagai teman, sahabat, kakak atau saudara seiman. Lebih dari itu, tentu saja akan melukai diri sendiri dan orang yang paling kita sayangi, keluarga kita, anak-istri/suami.