"Jreng...jreng....jreng..."
"Tombo ati... iku ana 5 perkoro......" bla bla bla....
Itulah syair pengamen yang selalu dilantunkan setiap kali mampir didepan rumah, dan dengan antusias Ismail mencari recehan untuk diberikan kepada pengamen.
Saya selalu memperhatikan pengamen ini, selalu saja ketika mampir di depan rumah lagu yang di nyanyikan lagu-lagu religi,
Yang menjadi mengherankan dan sedikit kesal, dia selalu melewatkan rumah sebelah, tanpa pernah menghampirinya.
Terkadang kami kesulitan menemukan recehan untuk memberikannya kepada pengamen, karena seringnya recehan selalu masuk dalam celengan Ismail. Al hasil kadang hanya ditemukan recehan Rp. 200,- atau Rp. 100,-. Biasanya pengamen akan ngrundel dan ngomel sedikit, Tapi mau dikata apa....
Namun menurut saya pengamen itu enak cari uangnya, hanya sekedar jrang jreng saja serumah mereka bisa mendapatkan uang recehan minimal Rp. 500,-. Coba dikalikan dengan sejumlah rumah se RT saja sudah berapa??? Kalau yang dilewati 10 rumah saja sudah dapat Rp. 5000. Dan dalam sehari mereka bisa mendapatkan lebih banyak.
Coba sekarang kita bandingkan dengan pengusaha foto copy an. Selembar foto copy an seharga Rp. 150 rupiah. Diawal usahanya membutuhkan modal yang tidak sedikit, modal mesin Foto Copy an sudah berapa jut, kertas, tenaga, listrik dan lain sebagainya. Artinya memang usaha ini membutuhkan ketelatenan dan keuletan untuk mendapatkan hasil yang memadai, sebanding atau bahkan menghasilkan keuntungan yang besar bagi mereka.
Intinya mereka mengumpulkan Rp, 150.- per transaksinya.
Coba kalau pengamen Rp, 500,-.....
Masih enakan pengamen khan???
Selisih yang didapatkan berapa coba????
Sekarang.... bagi para penjual pulsa. Modal mereka juga tidak sedikit, Hp, Deposit, waktu, tenaga, dll.... Setiap transaksi mereka mendapatkan Rp. 1000 itu paling banyak.
Namun kalau mereka menjadi BOS, atau yang punya Dowlen mereka hanya mendapatkan keuntungngan Rp. 50,- setiap transaksi.
Bagi yang baru mencoba usaha ini tentunya akan merasa " ah untungnya kecil sekali..." Seperti ngumpulin recehan terkecil serupuah demi serupiah.
Untuk mendapatkan komisi Rp. 500, mereka harus mendapatkan proses transaksi sekitar 10 kali.
Kalau pengamen?? Rp. 500,- bisa didapatkan dari jreng-jreng di depan satu rumah...
Masih enak pengamen khan...?
Betapa berharganya rupiah demi rupiah yang kita kumpulkan, sehingga menjadi sangat berharga sekali jenis usaha apakah yang akan kita geluti.
Hal ini membuat saya sedikit tidak begitu respon dengan para pengamen, atau bahkan para peminta-minta dijalanan, Terlebih kalau melihat postur tubuh mereka yang keker dan sehat, bugar.
Ibaratnya demi Rp. 500 saja harus mendapatkan 10 transaksi, atau untuk mendapatkan Rp. 500,- harus meng copy 3-4 lembar kertas foto copy an.
Bagaimana dengan pengamen????
Hehehehe..... itu menurut saya, bagaimana dengan anda???
"Tombo ati... iku ana 5 perkoro......" bla bla bla....
Itulah syair pengamen yang selalu dilantunkan setiap kali mampir didepan rumah, dan dengan antusias Ismail mencari recehan untuk diberikan kepada pengamen.
Saya selalu memperhatikan pengamen ini, selalu saja ketika mampir di depan rumah lagu yang di nyanyikan lagu-lagu religi,
Yang menjadi mengherankan dan sedikit kesal, dia selalu melewatkan rumah sebelah, tanpa pernah menghampirinya.
Terkadang kami kesulitan menemukan recehan untuk memberikannya kepada pengamen, karena seringnya recehan selalu masuk dalam celengan Ismail. Al hasil kadang hanya ditemukan recehan Rp. 200,- atau Rp. 100,-. Biasanya pengamen akan ngrundel dan ngomel sedikit, Tapi mau dikata apa....
Namun menurut saya pengamen itu enak cari uangnya, hanya sekedar jrang jreng saja serumah mereka bisa mendapatkan uang recehan minimal Rp. 500,-. Coba dikalikan dengan sejumlah rumah se RT saja sudah berapa??? Kalau yang dilewati 10 rumah saja sudah dapat Rp. 5000. Dan dalam sehari mereka bisa mendapatkan lebih banyak.
Coba sekarang kita bandingkan dengan pengusaha foto copy an. Selembar foto copy an seharga Rp. 150 rupiah. Diawal usahanya membutuhkan modal yang tidak sedikit, modal mesin Foto Copy an sudah berapa jut, kertas, tenaga, listrik dan lain sebagainya. Artinya memang usaha ini membutuhkan ketelatenan dan keuletan untuk mendapatkan hasil yang memadai, sebanding atau bahkan menghasilkan keuntungan yang besar bagi mereka.
Intinya mereka mengumpulkan Rp, 150.- per transaksinya.
Coba kalau pengamen Rp, 500,-.....
Masih enakan pengamen khan???
Selisih yang didapatkan berapa coba????
Sekarang.... bagi para penjual pulsa. Modal mereka juga tidak sedikit, Hp, Deposit, waktu, tenaga, dll.... Setiap transaksi mereka mendapatkan Rp. 1000 itu paling banyak.
Namun kalau mereka menjadi BOS, atau yang punya Dowlen mereka hanya mendapatkan keuntungngan Rp. 50,- setiap transaksi.
Bagi yang baru mencoba usaha ini tentunya akan merasa " ah untungnya kecil sekali..." Seperti ngumpulin recehan terkecil serupuah demi serupiah.
Untuk mendapatkan komisi Rp. 500, mereka harus mendapatkan proses transaksi sekitar 10 kali.
Kalau pengamen?? Rp. 500,- bisa didapatkan dari jreng-jreng di depan satu rumah...
Masih enak pengamen khan...?
Betapa berharganya rupiah demi rupiah yang kita kumpulkan, sehingga menjadi sangat berharga sekali jenis usaha apakah yang akan kita geluti.
Hal ini membuat saya sedikit tidak begitu respon dengan para pengamen, atau bahkan para peminta-minta dijalanan, Terlebih kalau melihat postur tubuh mereka yang keker dan sehat, bugar.
Ibaratnya demi Rp. 500 saja harus mendapatkan 10 transaksi, atau untuk mendapatkan Rp. 500,- harus meng copy 3-4 lembar kertas foto copy an.
Bagaimana dengan pengamen????
Hehehehe..... itu menurut saya, bagaimana dengan anda???
Tidak ada komentar:
Posting Komentar