Menapaki dunia pendidikan mungkin
sudah menjadi nafasku. Sejak SMU sudah senang dengan anak-anak, menghabiskan
waktu sehabis sholat maghrib di Mushola untuk belajar dan mengajarkan baca
Qur’an. Tak pernah malas berangkat belajar meski lokasi yang harus ditempuh
cukup jauh dari rumah. Belajar baca Qur’an sampai berkeliling kampung, hingga
pada tahun 2000 bersama teman mengaji membuat TPQ sendiri di Mushola deket
rumah. Sejak saat itu dunia belajar semakin lekat. Namun pada tahun 2001
ternyata status ku harus berubah, yang semula kesana kemari rombongan bersama
teman-teman, praktis mulai 7 oktober 2001 status istri menyertaiku. Sejak
itulah dunia belajar dan mengajar menjadi sesuatu yang sedikit demi sedikit
tergantikan dengan kesibukan sebagai istri dan ibu.
Kegelisahan semakin menjadi-jadi,
ketika amanah yang ditipkan semakin bertambah, hingga mempunyai 3 orang anak.
Puncak kejenuhan pun dirasakan, hingga pada tahun 2010 ada tawaran untuk
mengajar baca Qur’an di sebuah SDIT, dan kemudia diterima, tanpa mempertimbangkan
banyak hal. Saat itu yang ingin dilakukan hanya keluar dari kejenuhan, yang
semula hanya menjadi pengurus rumah tangga saja bertambah menjadi seorang guru
qiroati di SDIT. Tentu saja ini semua atas dasar ijin suami. Sejak saat itu
rutinitas berubah total, aktifitas pagi selalu lebih sibuk, dari menyiapkan
keperluan sekolah anak-anak, urusan rumah tangga, sampai bersegera harus sampai
di sekolah sebelum jam 7 pagi. Hal ini ternyata memiliki dampak yang kurang
sehat bagi hubungan suami istri kami. Pola komunikasi yang hanya sekedarnya,
sesempetnya, karena sejak pagi aku harus meninggalkan rumah terlebih dahulu
sebelum suami berangkat kerja, dan ketika sore hari, disaat suami sudah sampai
dirumah, aku masih berada di TPQ. Termasuk dalam pola asuh anak ke 3 kami,
Yusuf Abdullah semakin susah untuk diajak kerjasama, menunjukkan protesnya
dengan tidak mau ditinggal dirumah bersama eyangnya. Selalu rewel ketika diajak
mengajar, dan sebagai puncaknya ijin mengajarpun mulai dipertimbangakan oleh
suami.
Resmi di tahun ajaran baru 2011 aku
melepaskan diri dari ikatan guru di SDIT tersebut. Mengundurkan diri dari SDIT
ternyata menumbuhkan kegelisahan baru. Menggeluti kembali dunia ibu rumah
tangga ternyata membawa beban tersendiri dalam diriku. Aku merasa mati secara
kreatifitas, mati berfikir dan merasa kesepian. Tidak ada rancangan kegiatan
selain nyuci, ngepel, masak, dan segala bentuk kegiatan domestik kerumah tanggaan.
Yusuf Abdullah pun terlihat kesepian, karena kakaknya semua sekolah. Maka
muncullah ide untuk membuat kelompok bermain di rumah dengan mengundang
teman-teman TPQ yang seumuran dengan Yusuf.
Memiliki rumah yang luas dan
bercita-cita menjadikan pusat belajar dan bermain anak-anak, remaja maupun
orang tua adalah sebuah mimpi sejak dulu. Alhamdulillah ternyata dipermudah
untuk mendapatkan lahan kosong dan dipermudah pula untuk mendirikan bangunan
diatasnya dengan tanpa memikirkan desain arsitekturnya, yang penting luas dan
nyaman, bebas dari hujan dan panas.
Semenjak mengundurkan diri dari SDIT,
otomatis mimpi itu semakin menjadi harapan yang ingin sekali diwujudkan. Ide
untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan yang berbasis AUD menjadi pilihanku,
meski saat itu aku tidak memiliki pengetahuan apapun tentang PAUD. Megingat
usia Yusuf sangat butuh lingkungan belajar dan bermain yang baik, maka aku
bertekad untuk menciptakan lingkungan itu. Dengan mengundang beberapa teman
bermain Yusuf di TPQ dan tetangga sekitar, maka di bulan-bulan pertama di tahun
2011 itu aku mampu mengumpulkan hampir 15 orang anak. Kesemuanya dengan suka
rela bermain dan belajar bersama Yusuf di rumah kami.
Untuk masalah metode pembelajaran,
kurikulum, penilaian dan lain sebagainya, aku bowsing. Di google lah aku
mendapatkan banyak ilmu tentang bagaimana menyiapkan materi, bahan ajar,
penilaian dan lain sebagainya. Aku merasa sangat bodoh, tidak punya pengalaman
atau pengetahuan apapun tentang PAUD tapi nekad membuat Kelompok Bermain. Namun
rasa takut, malu dan bodoh ku, sekuat tenaga aku lawan, aku lebih suka melawan
semua perasaan itu dengan yakin, bahwa aku pasti akan bisa melakukan perubahan.
Tanpa memikirkan harus adanya administrasi, kurikulum, perijinan dan lain
sebagainya, saat itu yang ada hanya ingin menciptakan lingkungan belajar dan
bermain yang aman dan sesuai tumbuh kembang Yusuf, itu saja.
Kelompok Bermain Si Kancil, adalah
nama yang aku berikan kepada lembaga PAUD ku. Karena anak-anaknya masih
kecil-kecil, lincah seperti kancil, dan terdengar lucu. KB Si Kancil mendapat
dukungan yang luar biasa dari orang tua, dari merekalah aku mulai memikirkan
segala bentuk administrasi, dari mulai berapa jumlah yang harus di bebankan
kepada orang tua murid, baik pendaftaranya maupun spp bulanannya. Karena semula
tak ada pungutan biaya apapun, hanya infak kaleng yang muter setiap kali
kehadiran anak.
Merasa tertantang untuk semakin
memperbaiki kwalitas diri baik dari segi pengetahuan, teori maupun aplikasi
dalam bidang ke PAUDan, maka aku memutuskan diri untuk kuliah. Namun ternyata
keinginan itu harus tertahan dulu karen aku keburu hamil yang ke 4. Sehingga
baru setahun kemudian setelah melahirkan dan masa menyusui aku masuk kuliah di
IKIP VETERAN Semarang Fakultas Ilmu
pendidikan PG-PAUD. Dengan menggunakan dana simpanan pribadi hasil dari
mengajar TPQ dan PAUD, aku mendaftarkan diri dan membiayai seluruh keperluan
perkuliahan. Alhamdulillah, tahun pertama berjalan lancar dan membuat aku
merasakan manfaatnya. Pengetahuan tentang PAUD bertambah, didapat dari shering
beberapa teman dan dosen.
Kendala biaya perkuliahan dan
operasional KB mulai terasa, maka ketika ada tawaran dari Mbak Ida Fitriyani
untuk menjual gamis dengan modal katalog aku ambil. Alhamduliallah dari order
baju itulah biaya kuliah terpenuhi.
KB
Si kancil di tahun kedua semakin banyak muridnya, yang semula 10 bisa
mencapai 30 orang, meski yang aktif hanya 25. Administrasi mulai dibenahi
sedikit demi sedikit. Ada formulir pendaftaran, spp, ada akhirussanah, ada
seragam, ada kegiatan keluar seperti outbond dan beberapa kali mengikuti
perlombaah di lembaga lain. Membuat rancangan pembelajaran seperti prota,
promes, RKM, RKH, Pelaporan hasil belajar, serfifikat, melengkapi alat
permainan edukatif. Tuntutan mutu dan kwalitas pengasuh pun dipertanyakan. Diantara
pengasuh ada yang lulusan SR, SMU, PGPQ, namun kesemuanya memiliki kelebihan
dibidang tertentu. Dari awal mereka saya ajak bergabung membantu, memang merasa
rendah diri, minder dan tidak percaya diri, terlebih latarpendidikan yang
rendah. Namun saya yakinkan kepada semuanya bahwa ilmu mengelola KB bisa kita
lakukan bersama, lewat seminar, pelatihan dan keorganisasian lainnya.
Lambat namun pasti masing-masing
mereka menunjukkan kemampuannya masing-masing, keterbatasan mereka tertutupi
satu dan lainnya. Ada yang kreatif, telaten, ada yang pandai mengelola
keuangan, ada yang lembut, ada yang tegas. Kesemuanya memang ibu rumah tangga,
namun dalam menangani anak-anak sudah bisa dibilang jago, karena disamping
membantu saya di KB mereka juga membantu saya di TPQ.
Tahun berganti, jumlah murid bukan
semakin banyak namun justru semakin sedikit. Karena memang diwilayah sekitar
sedikit AUD, adanya Pos Paud yang biaya masuknya lebih murah bahkan ada yang
gratis. Hal ini berdampak pada pembiayaan operasional PAUD. Keseluruhan
pembiayaan KB memang didapat dari sumbangan spp wali murid dan biaya dari
pribadi.
Disamping itu tuntutan untuk memiliki
ijin operasionalpun mualai dipertanyakan. Maka dengan dana seadanya saya
berserta suami mendaftarkan KB Si Kancil ke notaris untuk mendapatkan
pengesahan secara hukum. Mulailah mecari nama yang pas dan logo untuk KB. Maka
Paud ini di beri nama KB Mutiara Umat, karena anak-anak yang bermain dan
belajat disini adalah mutiaranya umat, generasi islam, dan genersi 2045 yang
akan memimpin Indonesia. Mulailah proposal perijinan dibuat dan disusun sesuai
arahan dari UPTD.
Namun sayang, setelah akta notaris dan
beberapa syarat yang diminta UPTD kita penuhi, meninggalkan PAUD selama
beberapa kali (danmembuat beberapa orang tua protes dan mengancam akan
memindahkan anak-anaknya ke tempat lain kalau saya tidak berada di tempat) dan
setelah hampir setahun proposal perijinan kami kumpulkan di UPTD, jawaban yang
sangat mengecewakan harus aku dengar. “Mbak Proposale Njenengan sudah di
gudang..., dan kalau mau mendirikan KB harus punya yayasan, jadi proposalnya
tidak terpakai...”.
Mulailah terpikirkan harus membuat
sebuah yayasan untuk memayungi lembaga pendidikan ini. Tidak sedikit biaya yang
diperlukan untuk membuat sebuah yayasan, dan hampirsaja aku patah semangat.
Alhamdulillah gayung bersambut, teman-teman dari komunitas alumni KB PII
bermaksud membuat yayasan, maka dengan kerelaan hati dan berharap bisa
terwadahi maka KB Mutiara Umat meminta diri untuk di akuisisi.
Keberadaan KB Mutiara Umat diwilayah
Jatingaleh terutama di Karangrejo patut diperhitungkan. Kalau berbicara wilayah
maka KB MutiaraUmat cukup strategis, terlebih saat ini akan dibangun jalan
layang di Jatingaleh, sehingga jalur lalu lintas yang menghubungkan Jatingaleh
dengan Jatisari cukup jauh. Maka dibutuhkan lembaga pendidikan formal maupun
informal untuk menjembatani kebutuhan ini. Sedangkan kalau dilihat dari segi
keterkaitan keorganisasian KB mutiara Umat cukup berperan penting. PAUD Informal maupun formal memiliki wadah organisasi yang
bernama HIMPAUDI, yang didalamnya ada beberapa cabang wadah kegiatan dimulai
dari Himpaudi Kota, Himpaudi Kecamatan, Pokja, Gugus dan Forum. Dari seluruh
wadah cabang kegiatan itu kami yang tergabung didalam PAUD informal dan formal
harus mengikuti. Saya sebagai pengelola KB memiliki peranan yang cukup
strategis, menjadi bendahara Pokja, menjadi PJ ketua Gugus (karena satu dan
lain hal, ketua gugus lama bermasalah). Dan saat ini pun sudah merambah
memasuki kepengurusan Himpaudi Kecamatan. Sebuah prestasi keorganisasian yang
cukup melejit, karena baru satu tahun bergabung sudah diberi kepercayaan yang
sedemikian banyaknya. Meski tidak sedikit biaya yang harus di keluarkan untuk
masing-masing kegiatan.