Suara dering telephon membuatku terbangun, kulirik jam dinding, ternyata masih jam 02.00. Siapa yang telephon jam segini. Dengan malas ku langkahkan kaki menuju sumber suara yang sudah dari tadi menunggu untuk diangkat. Suara dari seberang tidak begitu jelas terdengar, hanya saja yang sempat aku tangkap adalah kabar berita yang membuat badanku lemas seketika. Gagang telephon terlepas dari genggaman tanganku, dan aku terduduk lemas.
====
Gemuruh suara kereta api yang berlalu lalang menemaniku dalam alam fikir yang tak menentu. Terbesit dalam fikiranku bagaimana dengan Rey...Aku harus segera menghubunginya, aku harus menjelaskan permasalahan ini, aku berharap dia akan mengerti keputusanku.
Kereta yang aku tunggu sebentar lagi akan berangkat, akan membawaku meninggalkan kota ini, kota yang selama hampir enam tahun kujelajahi bersama Rey. Kota yang memberikan kenangan begitu banyak dan tak akan pernah aku lupakan.
Maafkan aku Rey, aku harus meninggalkanmu. Semoga harapan dan cita-cita kita bisa terwujud bersama, akan aku sampaikan hal ini kepada orang tuaku.
Sepanjang perjalanan, aku terus membuat perencanaan menyiapkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi. Namun aku masih sulit untuk menerima kabar itu, seperti mimpi, tidak percaya dengan apa yang terjadi disana.
====
Hasna memandangi foto yang ada di tanganku dengan senyumnya yang manis. Yang dia yakini di dalam foto itu adalah aku, Bu Ira......., Foto Hasna yang sedang berlarian bergandengan tangan dengan seorang wanita. Kata Hasna, dia sedang bermain bersama ibunya, bermain kejar-kejaran di tepi pantai. Butiran-butiran air mata menggantung di kelopak mataku aku tak tega untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Hasna. Rahasia ini akan terus tersimpan namun sampai kapan.
Sudah hampir lima tahun aku membina rumah tangga bersama dengan kakak iparku. Perasaan yang dulu benci mulai berubah sayang dan mencintai kehidupan ini. Melihat anak kakakku yang semakin tumbuh besar dan selalu beranggapan akulah ibunya, membuat ku akan menjaga ikatan rumah tangga ini lebih erat lagi. Terlebih sekarang aku dikaruniai seorang bayi mungil, ganteng. Serasa lengkap kehidupanku saat ini. Mas Fais sudah berhenti dari hoby buruknya, dan mampu menunjukkan sikap tanggung jawabnya terhadap kami.
Rey.... maafkan aku, terlalu berat aku untuk meningalkan keluarga baruku biarlah cinta kita tersimpan dalam hati dan memori kenangan itu menjadi kenangan terindah dalam hidup kita masing-masing.
=====
Tubuh yang terbujur kaku itu adalah Mbak Ayu. Senyum di wajahnya menggambarkan bahwa dia bahagia meninggalkan dunia ini. Mungkin inilah yang terbaik yang telah ditentukan Allah, dengan mengambilnya, telah membebaskannya dari derita yang dialaminya sepanjang tahun. Kanker yang telah menemani sepanjang hidupnya telah berada di posisi puncaknya, Mbak Ayu tidak mampu melawan lagi.
Ku putar kembali memori kenangan bersamanya, saat dia sedang mempersiapkan pernikahan dengan Mas Fais. Aku tak suka dengan Mas Fais, laki-laki garang dan sangar itu membuatku takut. Kehidupannya yang penuh dengan minum-minuman keras dan grombolan preman membuat aku merasa tak rela melepaskan Mbak Ayu menikah dengannya. Namun itu tak mampu merubah keputusan Mbak Ayu untuk menikah. Perhelatan pernikahan berlangsung dengan sangat sederhana. Tanpa banyak halangan, acara dari awal hingga akhir berjalan dengan lancar.
Di tahun kedua, keluarga kecil Mbak Ayu dikaruniai seorang gadis mungil yang lucu dan mengemaskan. Wajahnya mirip sekali dengan Mbak Ayu, matanya milik Mas Fais.
Diusia 2 tahun Hasna harus berpisah dengan ibunya, Mbak Ayu telah dipanggil Sang Pemilik Kehidupan. Dan saat itulah aku menggantikan posisi Mbak Ayu dalam kehidupan Hasna dan Mas Fais. Cinta itu akan tumbuh dan membuahkan rasa manis. Semoga ikatan baru ini menjadi amal ibadahku, meski aku tidak bersama orang yang aku cintai.
#Untuk temanku Ira....
====
Gemuruh suara kereta api yang berlalu lalang menemaniku dalam alam fikir yang tak menentu. Terbesit dalam fikiranku bagaimana dengan Rey...Aku harus segera menghubunginya, aku harus menjelaskan permasalahan ini, aku berharap dia akan mengerti keputusanku.
Kereta yang aku tunggu sebentar lagi akan berangkat, akan membawaku meninggalkan kota ini, kota yang selama hampir enam tahun kujelajahi bersama Rey. Kota yang memberikan kenangan begitu banyak dan tak akan pernah aku lupakan.
Maafkan aku Rey, aku harus meninggalkanmu. Semoga harapan dan cita-cita kita bisa terwujud bersama, akan aku sampaikan hal ini kepada orang tuaku.
Sepanjang perjalanan, aku terus membuat perencanaan menyiapkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi. Namun aku masih sulit untuk menerima kabar itu, seperti mimpi, tidak percaya dengan apa yang terjadi disana.
====
Hasna memandangi foto yang ada di tanganku dengan senyumnya yang manis. Yang dia yakini di dalam foto itu adalah aku, Bu Ira......., Foto Hasna yang sedang berlarian bergandengan tangan dengan seorang wanita. Kata Hasna, dia sedang bermain bersama ibunya, bermain kejar-kejaran di tepi pantai. Butiran-butiran air mata menggantung di kelopak mataku aku tak tega untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Hasna. Rahasia ini akan terus tersimpan namun sampai kapan.
Sudah hampir lima tahun aku membina rumah tangga bersama dengan kakak iparku. Perasaan yang dulu benci mulai berubah sayang dan mencintai kehidupan ini. Melihat anak kakakku yang semakin tumbuh besar dan selalu beranggapan akulah ibunya, membuat ku akan menjaga ikatan rumah tangga ini lebih erat lagi. Terlebih sekarang aku dikaruniai seorang bayi mungil, ganteng. Serasa lengkap kehidupanku saat ini. Mas Fais sudah berhenti dari hoby buruknya, dan mampu menunjukkan sikap tanggung jawabnya terhadap kami.
Rey.... maafkan aku, terlalu berat aku untuk meningalkan keluarga baruku biarlah cinta kita tersimpan dalam hati dan memori kenangan itu menjadi kenangan terindah dalam hidup kita masing-masing.
=====
Tubuh yang terbujur kaku itu adalah Mbak Ayu. Senyum di wajahnya menggambarkan bahwa dia bahagia meninggalkan dunia ini. Mungkin inilah yang terbaik yang telah ditentukan Allah, dengan mengambilnya, telah membebaskannya dari derita yang dialaminya sepanjang tahun. Kanker yang telah menemani sepanjang hidupnya telah berada di posisi puncaknya, Mbak Ayu tidak mampu melawan lagi.
Ku putar kembali memori kenangan bersamanya, saat dia sedang mempersiapkan pernikahan dengan Mas Fais. Aku tak suka dengan Mas Fais, laki-laki garang dan sangar itu membuatku takut. Kehidupannya yang penuh dengan minum-minuman keras dan grombolan preman membuat aku merasa tak rela melepaskan Mbak Ayu menikah dengannya. Namun itu tak mampu merubah keputusan Mbak Ayu untuk menikah. Perhelatan pernikahan berlangsung dengan sangat sederhana. Tanpa banyak halangan, acara dari awal hingga akhir berjalan dengan lancar.
Di tahun kedua, keluarga kecil Mbak Ayu dikaruniai seorang gadis mungil yang lucu dan mengemaskan. Wajahnya mirip sekali dengan Mbak Ayu, matanya milik Mas Fais.
Diusia 2 tahun Hasna harus berpisah dengan ibunya, Mbak Ayu telah dipanggil Sang Pemilik Kehidupan. Dan saat itulah aku menggantikan posisi Mbak Ayu dalam kehidupan Hasna dan Mas Fais. Cinta itu akan tumbuh dan membuahkan rasa manis. Semoga ikatan baru ini menjadi amal ibadahku, meski aku tidak bersama orang yang aku cintai.
#Untuk temanku Ira....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar