Minggu, 30 Maret 2014

Bingkai Foto

Suara dering telephon membuatku terbangun, kulirik jam dinding, ternyata masih jam 02.00. Siapa yang telephon jam segini. Dengan malas ku langkahkan kaki menuju sumber suara yang sudah dari tadi menunggu untuk diangkat. Suara dari seberang tidak begitu jelas terdengar, hanya saja yang sempat aku tangkap adalah kabar berita yang membuat badanku lemas seketika. Gagang telephon terlepas dari genggaman tanganku, dan aku terduduk lemas.

====

Gemuruh suara kereta api yang berlalu lalang menemaniku dalam alam fikir yang tak menentu. Terbesit dalam fikiranku bagaimana dengan Rey...Aku harus segera menghubunginya, aku harus menjelaskan permasalahan ini, aku berharap dia akan mengerti keputusanku.
Kereta yang aku tunggu sebentar lagi akan berangkat, akan membawaku meninggalkan kota ini, kota yang selama hampir enam tahun kujelajahi bersama Rey. Kota yang memberikan kenangan begitu banyak dan tak akan pernah aku lupakan.
Maafkan aku Rey, aku harus meninggalkanmu. Semoga harapan dan cita-cita kita bisa terwujud bersama, akan aku sampaikan hal ini kepada orang tuaku.


Sepanjang perjalanan, aku terus membuat perencanaan menyiapkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi. Namun aku masih sulit untuk menerima kabar itu, seperti mimpi, tidak percaya dengan apa yang terjadi disana.

====


Hasna memandangi foto yang ada di tanganku dengan senyumnya yang manis. Yang dia yakini di dalam foto itu adalah aku, Bu Ira......., Foto Hasna yang sedang berlarian bergandengan tangan dengan seorang wanita. Kata Hasna, dia sedang bermain bersama ibunya, bermain kejar-kejaran di tepi pantai. Butiran-butiran air mata menggantung di kelopak mataku aku tak tega untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Hasna. Rahasia ini akan terus tersimpan namun sampai kapan.

Sudah hampir lima tahun aku membina rumah tangga bersama dengan kakak iparku. Perasaan yang dulu benci mulai berubah sayang dan mencintai kehidupan ini. Melihat anak kakakku yang semakin tumbuh besar dan selalu beranggapan akulah ibunya, membuat ku akan menjaga ikatan rumah tangga ini lebih erat lagi. Terlebih sekarang aku dikaruniai seorang bayi mungil, ganteng. Serasa lengkap kehidupanku saat ini. Mas Fais sudah berhenti dari hoby buruknya, dan mampu menunjukkan sikap tanggung jawabnya terhadap kami.

Rey.... maafkan aku, terlalu berat aku untuk meningalkan keluarga baruku biarlah cinta kita tersimpan dalam hati dan memori kenangan itu menjadi kenangan terindah dalam hidup kita masing-masing.


=====

Tubuh yang terbujur kaku itu adalah Mbak Ayu. Senyum di wajahnya menggambarkan bahwa dia bahagia meninggalkan dunia ini. Mungkin inilah yang terbaik yang telah ditentukan Allah, dengan mengambilnya, telah membebaskannya dari derita yang dialaminya sepanjang tahun. Kanker yang telah menemani sepanjang hidupnya telah berada di posisi puncaknya, Mbak Ayu tidak mampu melawan lagi.

Ku putar kembali memori kenangan bersamanya, saat dia sedang mempersiapkan pernikahan dengan Mas Fais. Aku tak suka dengan Mas Fais, laki-laki garang dan sangar itu membuatku takut. Kehidupannya yang penuh dengan minum-minuman keras dan grombolan preman membuat aku merasa tak rela melepaskan Mbak Ayu menikah dengannya. Namun itu tak mampu merubah keputusan Mbak Ayu untuk menikah. Perhelatan pernikahan berlangsung dengan sangat sederhana. Tanpa banyak halangan, acara dari awal hingga akhir berjalan dengan lancar.

Di tahun kedua, keluarga kecil Mbak Ayu dikaruniai seorang gadis mungil yang lucu dan mengemaskan. Wajahnya mirip sekali dengan Mbak Ayu, matanya milik Mas Fais.

Diusia 2 tahun Hasna harus berpisah dengan ibunya, Mbak Ayu telah dipanggil Sang Pemilik Kehidupan. Dan saat itulah aku menggantikan posisi Mbak Ayu dalam kehidupan Hasna dan Mas Fais. Cinta itu akan tumbuh dan membuahkan rasa manis. Semoga ikatan baru ini menjadi amal ibadahku, meski aku tidak bersama orang yang aku cintai.

#Untuk temanku Ira....







Dilema.....

Memiliki anak adalah anungerah yang paling besar dalam setiap diri wanita. Meski seorang ibu itu pasti wanita namun tidak semua wanita bisa menjadi seorang ibu. Dalam hal ini yang berhubungan dengan reproduksi. Setiap kali hamil dan melahirkan ada kebanggaan tersendiri, namun juga sebuah beban yang tidak ringan untuk terus dipikul.

Hal inilah yang menjadi dilema bagiku. Aku suka sekali dengan anak-anak, seolah dunia itu begitu luar biasa dengan keberadaannya Namun sudah 4 anak yang dipercayakan kepadaku dan bagiku itu sudah banyak. Namun untuk melakukan pembatasan dengan menggunakan alat kontrasepsi tubuhku tidak bisa menerima. Sudah mencoba berbagai macam alat kontrasepsi namun selalu menemukan kendala dan masalah. Dan aku termasuk orang yang tidak sepaham dengan anjuran kontrasepsi stiril, pesan almarhum ayahku, jangan sampai melakukan hal itu, karena semua yang telah diberikan Allah sudah diatur fungsi dan ilmunya, jadi belajar dan berdoa saja....

Saat ini aku lebih belajar memahami bahasa tubuh sebagai pilihan untuk alat kontrasepsi, namun tidak kalah galaunya ketika tanggal yang seharusnya "palang merah" ternyata tidak nampak tanda-tandanya. Biasanya saat-saat seperti inilah, aku dan suami jadi bersitegang... an ini sudah berjalan kurang lebih 1,5 tahun. Hampir setiap bulan ada saat-saat dimana aku merasa marah, bingung, sedih dan juga pingin sekali menjauh dari suami. Kata orang sih kami adalah pasangan yang sangat subur, dekat sedikit aja sudah pasti jadi hehehe... 

Sebenarnya memang kita sebagai wanita harus terus belajar untuk mengetahui siklus tubuh kita. Terutama yang berkenaan dengan reproduksi. Dalam tubuh kita sudah diberi kelengkapan untuk melakukan pembatasan kehamilan secara alamiah. Maka begitu pentingnya mengetahui kapan kita biasa menstruasi setiap bulannya, kapan maju dan mundurnya, banyak dan sedikitnya. Hal ini berguna sekali untuk mengetahui masa subur kita.

Bagi yang tidak menghendaki kehamilan tentunya menghindari masa subur, tapi bagi yang menghendaki ya silahkan menikmatinya. Masa subur biasanya keinginan untuk bersama pasangan sangat tinggi, baik pihak suami maupun istri. Karena itulah "puasa" agar tidak kumpul itu sangat penting. Pengendaliannya tidak mudah, terlebih yang mempunyai pasangan yang tidak mampu menahan keinginanya, dan masih memaksakan dirinya, dengan dalih agama. Bahwa seorang istri itu harus melayani kapan pun suami menginginkan,...(alhamdulillah suami ku tidak demikian..).

Dilema saya antara tidak mau hamil lagi dengan tidak bisa memakai alat kontrasepsi karena faktor tubuh yang menolak, tentu tidak mudah ditemukan jalan keluarnya. Aku selalu berharap, ke depan akan ada trobosan baru untuk aku dan wanita-wanita yang menghadapi masalah yang sama. Supaya tidak membuat hati selalu was-was.

#