Senin, 04 Juli 2016

SEKEPING HATI





Awal Ramadhan secara tiba-tiba Robeth ( yang sekarang telah menjadi muslim yang taat, dan namanya menjadi Maulana), menyampaikan perasaannya terhadapku. Betapa dia rindu kepadaku, betapa dia kehilangan diriku, karena lama tidak bertemu.
Ungkapan yang aneh kenapa? Apa yang sedang terjadi? Apa yang telah aku lakukan sehingga Robeth menyampaikan perasaannya kepadaku.
Ungkapan perasaan itu terulang lagi, bahkan dengan getaran yang berbeda. Aku yang semula hanya biasa saja, tak pernah merasakan debaran jantung yang sedemikian kencangnya, malam itu ketika Robeth kembali mengatakan bahwa Dia rindu denganku, bahkan selalu merasa berdebar-debar ketika sedang berpapasan atau berjumpa denganku, dan merasakan kerinduan yang amat sangat ketika tidak menjumpaiku.
Bagai disambar petir disiang hari, seluruh tubuhku bergetar, jantungku berdebar lebih cepat, tanganku dingin, rasanya aku ingin menangis, berlari. Saat itu pula semua berputar menuju masa lalu, 15 tahun yang lalu.

Keputusan 15 tahun yang lalu

Sekeping hati di bawa berlari
Jauh melalui jalanan sepi
Ada ujian yang datang menghalang
Didepan matamu para pejuang......

Sebait lagu menemani langkah kaki ku menyusuri jalanan baru, jalan kehidupan yang membentang di depan mata, yang aku sendiri tidak tahu apakah jalanan itu terjal, penuh rintangan atau jalan yang mulus tanpa penghalang. Perjalanan cinta ku yang tak semulus harapanku. Meski demikian aku bersyukur, perjalanan cintaku memberi banyak sekali pelajaran berharga. Masa remajaku juga bukan mas remaja dengan pergaulan bebas yang seperti anak muda-mudi saat ini. Aku adalah produk lama, yang tidak begitu banyak mengenal laki-laki atau lebih tepatnya aku bukan tipe cewek yang menarik untuk didekati cowok. Kesan yang sering mereka tangkap dariku adalah sosok yang garang. Secara fisik tak ada yang menarik pula dari diriku, aku bukan cewek yang cantik dan penampilan seksi, bukan pula cewek yang suka tongkrong-tongkrong di Mall. Hari-hariku kuhabiskan untuk sekolah, membantu orang tuaku berjualan dan aktif di karangtaruna kampung.
Meski demikian ada juga laki-laki yang punya maksud kepadaku, Robeth adalah salah satunya, pemuda pertama yang mengenalkan aku pada bagaimana rasanya disayangi, diperhatikan dan kemudian dicintai. Dari dia lah aku belajar membalas segala bentuk perhatiannya kepada ku.
Pada mulanya kami hanya sering bertemu dalam sebuah kegiatan karangtaruna. Intensitas kami bertemu membuat kami menjadi dekat dan mulailah tumbuh rasa simpati yang lebih dari Robeth kepada ku. Sedangkan aku sendiri belum begitu memahami maksud dari perhatian Robeth. Maklum saja saat itu aku masih sangat muda. Aku masih harus memikirkan sekolahku, dan cita-citaku, lagipula Robeth memiliki perbedaan yang besar denganku, Dia beragama katolik. Kebersamaan dan kedekatanku dengan Robeth memang harus dibatasi. Meskipun Robeth bermaksud menjadikan aku sebagai pendampingnya dan itu sangat tidak mungkin terjadi. Kecuali Robeth berpindah keyakin. Itulah syaratku.
Namun usahaku untuk mengenalkan Robeth kepada keyakinanku nampaknya jauh dari apa yang aku harapkan. Meski aku mulai menerima cinta dan kasih sayangnya, namun hubungan ini tidak mungkin berlanjut. Akidah yang sama adalah harga mati untuk sebuah pernikahan.
Hal ini membuat hubungan kami renggang, dan hingga pada ahirnya aku mendengan Roberhakan menikah dengan Cristin gadis pilihan ayahnya. Tepat setelah 3 tahun kebersamaan ini akan berahir dengan pernikahan Robeth dengan Cristin, gadis yang seagaman dengan Robeth, Cristin memang pantas menjadi pendamping bagi Robeth.

“ Hanna Maafkan aku, aku tidak bisa mengikuti keyakinanmu, dan ayahku telah menjodohkanku dengan Cristin. Aku akan menikah dengan Cristin. Aku menyadari hubungan kita tidak akan mungkin dilanjutkan ke jenjang pernikahan, kita berbeda keyakinan, aku yakin kau pun demikian, sekali lagi maafkan aku Hanna.”
“Mengapa kau begitu sulit merubah keyakinanmu, setelah sekian lama kebersamaan kita, akankan kita ahiri dengan jalan seperti ini Robeth, kau telah begitu banyak mengenal agamaku, bahkan kau menyadari bahwa keyakinankulah yang benar, mengapa kau tak mau mengucap Syahadah bersamaku, meniti jalan kebersamaan kita ke jenjang pernikahan, dengan keyakinan yang sama dengan ku....”
“Maaf Hanna, aku saat ini belum bisa menerima keyakinanmu sebagai pilihanku. Sekali lagi maaf..”
Demikianlah akhir dari kisahku dengan Robeth. Perasaanku begitu kehilangan Robeth, banyak tanya yang seharusnya aku ajukan kepada Robeth, tapi semua bagiku sudah tak perlu lagi. Semua telah menjadi pilihannya. Keputusannya merupakan yang terbaik bagi dirinya dan juga bagi Cristin.
Hari-hari selanjutnya aku lalui dengan terus menatap kedepan, menapaki masa depan yang masih membentang di depan mata. Semua pasti telah dipilihkan yang terbaik untuk masing-masing diantara kita.
Kebersamaan yang telah kita jalin bersama sudah bukan rahasia lagi. Bahkan kemana-mana kami berdua sudah dianggap punya hubungan serius. Kabar pernikahan ini membuat orang bertanya kepadaku bagaimana perasaanku kepada Robeth, apakah selama ini hanya kebohongan. Apakah aku tidak terluka?, tidak kecewa?. aku tidak kuasa untuk memintanya membatalkan atau memikirkan kembali tentang keputusannya. Terlebih kepercayaan kita berbeda, tentunya banyak yang harus aku pertimbangkan seandainya kita serius melanjutkan hubungan.
Meski aku merasa sedih, namun semua lebih mudah aku terima karena masih banyak aktifitas yang bisa aku lakukan dan melupakan semua itu. Pada ahirnya aku bisa berlari mengejar mimpi-mimpi dan harapanku terhadap masa depanku.
Akupun meminta Robeth untuk membakar semua catatan-catatan kita, menghapus semua kenangan-kenangan kebersamaan kita, yang sempat mengisi hari-hari kita. Dimana kita pernah beraktifitas yang sama, setiap pagi, berjalan bersama, sambil berlari-lari kecil mengelilingi kompleks. Pergi bersama membeli sebuah gaun pesta warna merah di hari ulang tahunku, kemudian pulang bersama naik bis. Pergi ke puncak dengan mobil tua, salah satu koleksinya, karena mobil tua saat naik ke puncak mobil pun mogok, ah kenangan yang tak akan terlupakan. Mengenal keluarga Robeth yang penuh kehangatan, menerima kehadiranku, meski kami berbeda keyakinan, menjadi kenangan yang tak akan terlupakan. Semua harus terhapus dan tak perlu diingat kembali. Memendamnya dalam sumur yang dalam, menguburnya akan lebih banyak membantuku untuk menghadapi masa depan.

Pernikahan
Undangan pernikahan Robeth – Cristin telah aku terima, esok lusa aku akan hadir dalam pernikahan mereka. Saat itu aku tidak mendapati Robeth maupun Cristin menyambut kedatanganku. Seolah-olah kehadiranku bukanlah kehadiran yang diharapkan. Sehingga aku memutuskan untuk berlalu begitu saja. Sampai saat ini aku tidak tahu bahkan tidak ingin tau apakah Robeth mencintai Cristin. Apakah Robeth telah berbohong kepadaku tentang persaannya kepadaku. Apakah dibalik kebersamaan kami dulu Robeth telah menduakan diriku. Rasanya sudah tidak penting lagi pertanyaan-pertanyaan itu. Biarlah semua berlalu berjalan di garisnya masing-masing.
Setelah Robeth menikah, aku sama sekali tidak pernah menjalin komunikasi lagi dengannya. Bahkan dengan Cristin, aku sama sekali tidak berani menyapa, bertanya. Cristinpun demikian, setiap kali bertemu denganku kesan yang aku tangkap Cristin menghindar. Mencoba menyingkir dan buru-buru menghilang.
Kesibukan ku di LKP yang mengurusi anak-anak jalanan semakin membuatku mudah melupakan Robeth.  Hampir setiap pekan aku keluar kota untuk turba. Ditambah aku harus membantu pekerjaan kakakku, demi sekolah adik-adikku. Berkutat dengan pekerjaan membuat aku terkadang merasa lelah, dan ingin istirahat. Keinginan untuk dimanja, diperhatikan, dicintai mulai muncul. Beraharap ada seseorang yang berani memperistri diriku, membebaskan aku dari beban kehidupan keras yang harus aku jalanan saat ini.
Di LKP, ada seseorang yang mencoba mendekatiku, memberikan perhatiannya kepadaku, menawarkan bantuannya dengan senang hati. Agamanya baik, orangnya sopan, meskipun penampilannya kucel. LKP mempunyai banyak sekali program turun ke jalan, untuk memberikan pendampingan kepada anak-anak jalanan, sehingga mau tidak mau aku akan sering bertemu dengan Fahri. Karena trauma dengan Robeth, aku tidak ingin berlama-lama dekat dengan Fahri, terlebih aku tidak mau kedekatan ini membawa fitnah. Dengan tegas aku meminta Fahri untuk segera melamar dan menikahiku, jika memang menghendaki kedekatan ini berlanjut. Meski tidak banyak yang aku ketahui tentang Fahri dan keluarganya, namun tantanganku diterima Fahri, dan akhirnya kami pun menikah
Mas Fahri adalah laki-laki yang sangat dewasa dalam berfikir dan berpendapat. Teman yang paling bisa mengikuti pola pikirku, pola aktifitasku yang semakin padat. Saat pernikahanku, aku tak ingat apakah Robeth dan Cristin datang, meskipun aku mengundang mereka. Aku benar-benar telah melupakan Robeth untuk selamanya, semua kenangan tentangnya terpendam dalam-dalam dan tak terungkit sedikitpun. Dunia yang telah dibangun Robeth dan Cristin dan keluarganya sama sekali bukan urusanku.
Setelah menikah Aku bersama Mas Fahri pindah ke Jogja sehingga mempermudah aku untuk melupakan Robeth bersama kenangannya. Bahtera keluarga yang aku bangun bersama Mas Fahripun mengarungi samudra yang luas.
Hingga usia pernikahanku menginjak 3 tahun, aku dan Mas Fahri memutuskan untuk pulang kembali ke Solo, ke kampung halamanku. Karena selama di Jogja aku merasa aktifitas di LKP berhenti begitu saja, dan tidak berkembang. Aku membutuhkan lingkungan yang bisa menerimaku dan aku sendiri bisa mengisi dan memberi warna lingkunganku. Ketika aku kembali ke Solo, aku akan lebih mudah bertemu kembali dengan Robeth. Sebuah pertemuan yang pastinya akan membuat kikuk diriku dan dirinya.

Kampung halaman
Kembali ke kampung halaman adalah sebuah kerinduan, kembali menyusuri jalan-jalan yang penuh kenangan dan perjumpaan dengan Robeth pun tak pernah bisa dihindarkan. Perasaan berdebar, selalu muncul ketika kami terpaksa bertemu. Robeth dan Cristin telah menjadi mualaf, alhamdulillah, hidayah Allah telah menghampiri mereka berdua. Robeth mengganti namanya menjadi Maulana, sedangkan Cristin menjadi Aisyah.
Kedekatanku dengan Robeth atau Maulana dahulu sudah aku ceritakan kepada Mas Fahri, sampai ketika aku merasa takut ketika bertemu dengannya kembali, aku selalu bercerita kepada Mas Fahri. Beruntung aku punya suami yang sangat percaya kepadaku. Apapun yang aku lakukan suamiku selalu mendukungku, memberi kesempatan yang luas kepadaku untuk bergaul dengan siapa saja.
Berada di kampung yang sama dan kenangan yang sama, sedikit banyak membuat aku kembali mengingat masa lalu. Terlebih beberapa orang disekitarku selalu mengungkit tentang kedekatannku dulu dengan Maulana.
Ada yang masih suka bercanda dengan ku tentang Maulana, bagaimana Maulana sekarang, bahkan menyampaikan kalau Maulana masih mencuri-curi pandang kepadaku. Semua itu aku tanggapi dengan hanya cukup senyum saja. Demikian pula komunikasi yang berusaha aku jalin dengan Aisyah mengalami sedikit ketidak nyamanan diawal kepindahanku. Aisyah cenderung menghindar, dan menjaga jarak denganku.
Tahun berganti dan berlalu begitu saja, hingga memasuki tahun ke 15 perpisahan antara aku dan Maulana dengan bahtera rumah tangga sendiri-sendiri.

Ramadhan..
“Aku cemburu melihat kedekatanmu dengan Hanafi, mengapa kau begitu perhatian kepada Hanafi ?.
Sebuah kalimat dan pertayaan yang tak pernah aku duga sebelumnya, bagaimana mungkin Maulana menyampaikan perasaannya seperti itu? Mengapa kedekatanku dengan Hanafi justru membuat Maulana cemburu?. Sedang terhadap suamiku, Maulana tidak menyampaikan kecemburuannya. Letak kesalahannya dimana?.
“Sejak dua tahun yang lalu aku memperhatikanmu begitu dekat dengan Hanafi, dan aku perhatikan kau sering di goda oleh Hanafi, aku tidak terima, ingin sekali aku membelamu, mendekatimu, namun aku hanya bisa menahannya, sampai hari ini aku memberanikan diri untuk menyampaikan perasaanku padamu Hanna...”
Maulana menyampaikan kecemburuannya terhadapku, dan yang aneh sekali adalah Maulana cemburu kepada Hanafi, teman kerjaku yang kebetulan satu tim dalam program pemberdayaan kampung mandiri, bukan kepada suamiku. Perasaan yang tersimpan terjadi sejak 2 tahun yang lalu. Lalu mengapa Maulana menyampaikannya kepada ku? Mengapa Maulan tidak menyembunyikan perasaannya kepadaku. Toh sudah 2 tahun Maulana bisa menyembunyikannya, mengapa kini dia berani menyampaikannya.
Bagai tertimpa atap, seluruh fikiranku terpenuhi berbagai pertanyaan dan perasaan yang serba salah. Dan secara spontan ingatan masa lalu itu pun berputar di depan mataku. Rasa sakit tiba-tiba muncul, kemarahan, kepasrahan, kekecewaan, berpuluh-puluh pertanyaan yang tertahan. Semua terkumpul dalam satu bilik di otakku. Rasa sakit ketika Maulan memutuskan menikah dengan Aisyah, meskipun aku tau saat itu kami memang tidak mungkin disatukan karena perbedaan kepercayaan. Namun melihat dia sekarang, yang sudah menjadi mualaf, membuatku bertanya apakah dulu dia tidak berkeinginan menjadi mualaf hingga bisa bersama-sama denganku, seaqidah.
Apa yang Maulana rasakan membuat aku salah tingkah, aku jadi merasa apa yang akan aku lakukan, apa yang dia liat dan rasakan terhadap sikap-sikaku nantinya, mencerminkan bahwa aku juga merasakan hal yang sama dengannya. Bahwa masih ada cinta dan kasih sayang dalam diriku untuknya.

Segera aku berlari memeluk dan bersembunyi dibalik dada Mas Fahri, suamiku tercinta. Aku menangis dan menceritakan semua kepadanya. Mas Fahri yang dari awal sudah tahu bagaimana hubunganku dengan Maulana dulunya, memberikan kepercayaan penuh kepadaku, Mas Fahri mengatakan bahwa aku tidak bisa memaksakan seseorang untuk tidak memiliki perasaan apapun kepada ku, mereka yang diluar sana boleh mencintai, membenci atau apapun kepada ku. Yang terpenting adalah bagaimana dengan ku. Apakah aku memiliki perasaan yang sama dengan Maulana?.
Tentu saja aku jawab tidak, selama ini aku tidak pernah berfikiran bahkan terbesit sedikitpun untuk memikirkan Maulana kembali, dia adalah masa lalu dan Mas Fahri adalah masa depanku. Apa yang ada saat ini tidak akan aku relakan untuk ku lepas, dan ku gantikan dengan yang lain, apapun itu alasannya. Terlalu mahal untuk aku korbankan.
Berbekal kepercayaan inilah aku menghadapi setiap tatapan Maulana, ungkapan perasaan rindunya dengan lebih tegar, dan sabar. Semua perasaan kacau yang selalu mengiringiku ketika harus bertemu dan bersama-sama dengannya, aku lawan, aku bertekad untuk menghadapinya, dan pasti aku bisa.

Waktu-waktu bersama Robeth Maulana kembali
Setelah Maulana menyampaikan perasaannya, pola komunikasi kami kembali terjalin lebih akrab dan dekat. Aku takut, sedikit saja orang melihat kebersamaan kami, pasti ingatan mereka akan tertuju pada waktu yang lalu, dimana aku dan Maulana pernah bersama. Aku sekuat tenaga menghindar, namun akupun merasa sulit. Beberapa pertanyaan masa lalu yang ingin aku tanyakan secara langsung kepadanya, membuat aku mengikuti alur yang Maulana tawarkan. Perjumpaan demi perjumpaan, membuat ku sedikit mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan masa lalu.
Aku merasa sangat takut, bagaimana kalau Cristin atau Aisyah melihat kami bersama. Aku tidak ingin menyakiti siapapun, aku tidak pernah bermaksud untuk kembali dengan Maulana. Bukan untuk saat ini maupun untuk masa yang akan datang.
“Hanna, maukah kau menerima cintaku dan menempatkan di sisi hatimu yang lain..”
“Maaf, aku tidak bisa. Kau berhak untuk mencintaiku, namun tidak dengan diriku..”
“Aku begitu sulit melupakan mu Hanna, wajahmu selalu terbayang, aku ingin selalu melihatmu, berjumpa denganmu, mengingat masa lalu, masa kebersamaan kita dulu...”
Mendengar ungkapan perasaan ini, aku semakin merasa sedih, aku semakin merasa serba salah dan takut, hingga membuatku menangis. Antara ingatan masa lalu dan kenyataan yang saat ini ada.
“Aku mohon apa yang aku sampaikan jangan kau ceritakan kepada Fahri, biarlah ini menjadi rahasia kita berdua saja. Aku ingin membuat cerita berbeda denganmu, cerita perjalanan cintaku denganmu di lembar yang berbeda.”
Bagaimana mungkin Maulana memintaku untuk tidak menyampaikan apapun tentang perasaannya kepadaku, menjadikan ini sebuah rahasia antara aku dengan Mas Fahri. Aku tidak bisa berjanji, aku tetap akan membicarakan hal ini kepada Mas Fahri, aku tidak bisa menyembunyikan hal ini kepadanya.
“Mengapa kau mengungkapkan semua ini kepadaku, mengapa kau tega membuatku serba salah seperti ini, aku tidak nyaman dengan semua ini, aku terlalu takut untuk menjumpaimu, kebersamaan ataupun kedekatan kita pasti akan langsung dijadikan bahan pembicaraan orang. Bagaimana dengan istri dan anak-anakmu?. Terus terang Mas Fahri sudah tau kalau dirimu menyampaikan perasaanmu kepadaku, sejak pertama kali kau mengatakan kalau kau rindu padaku...”
“Owh, bodohnya aku. Aku memang salah, aku mencoba melupakanmu, dan berusaha keras untuk tidak memikirkanmu, tapi aku tidak bisa. Bayang-bayang wajahmu selalu menemaniku. Aku juga tidak tahu mengapa demikian. Aku hanya ingin menyampaikan perasaanku saja kepadamu....”
“Tapi aku tidak suka, aku tidak menginginkan semua ini, aku tidak ingin tahu bagaimana perasaanmu. Ketika aku tahu bagaimana perasaanmu aku jadi serba salah. Apa yang aku lakukan kau anggap sebuah perhatian khusus, padahal aku biasa saja....”
“Tapi kau pasti masih menyembunyikan getaran cinta kepadaku kan Hanna..??”
“Tidak!!. Kau masa laluku, yang pernah mengisi sebagian hari-hariku, sebagian sisi hatiku, Ketika kau memutuskan menikah dengan Cristin, itu sudah cukup bagiku untuk melupakan semuanya, sampai kapanpun... ”
“Andai kau jujur padaku dan pada dirimu sendiri, kau pasti masih menyimpan cinta untukku, kau masih perhatian denganku kan Hanna?.”
Begitukah yang dilihat Maulana tentang sikap ku selama ini, keramahanku dan beberapa nasehat yang aku sampaikan kepadanya, dia anggap sebagai  bentuk perasaanku kepadanya.
“Mas... bukankan sudah aku katakan, bentuk perhatian atau apapun yang telah kau rasakan saat ini dariku, sebenarnya wajar dan biasa saja, hanya karena kau merasakan getaran cinta itu kembali, jadi semua yang kau lihat dari ku kau anggap bentuk cintaku kepadamu... “
“Seharusnya .... meskipun aku masih mencintaimu, tapi tidak sepantasnya aku ungkapkan dan mengharapkan balasan darimu, karena sekarang posisi kita masing-masing berbeda, dan tidak mungkin bisa lagi, jadi itu hanya mimpi yang tak akan pernah nyata, khayalan kosong dan mungkin harapan yang membodohi diriku sendiri...”
“Seharusnya demikian....”
“Tapi begitu sulit Hanna, aku harus meredam semua gejolak perasaanku yang tak pernah hilang, tapi juga harus berpura-pura seolah-olah tidak ada rasa apapun kepadamu.”
“Aku pikir setelah sekian hari aku tidak berjumpa denganmu, kau sudah melupakan gejolak perasanmu...”
“Iya, aku selalu mencobanya Hanna, tapi setelah melihat mu, aku merasa ingin bersamamu, meski sebentar. Setiap kali aku berusaha untuk melupakanmu, justru semakin kuat ingatanku kepadamu. Ahirnya aku tak kuasa melawannya, ”
Tak kuasa aku menahan tangis, aku sedih, marah, kecewa, bingung dan takut. Hari-hari selanjutnya, aku menjalani semuanya dengan perasaan yang kacau.
Tak akan ada yang mampu menolak sebuah perhatian, kasih sayang, dan cinta dari siapa saja terhadap diri kita. Begitu pula dengan diriku, tawaran perhatian, kasih sayang, dan mungkin cinta dari Maulan sedikit banyak harus aku syukuri. Bagaimanapun setiap diri akan senang jika mendapatkan hal ini. Namun tidak lebih dari sekedar rasa sayang, cinta sebagai teman, sahabat, kakak atau saudara seiman. Lebih dari itu, tentu saja akan melukai diri sendiri dan orang yang paling kita sayangi, keluarga kita, anak-istri/suami.