Awal Ramadhan secara tiba-tiba Robeth (
yang sekarang telah menjadi muslim yang taat, dan namanya menjadi Maulana), menyampaikan
perasaannya terhadapku. Betapa dia rindu kepadaku, betapa dia kehilangan
diriku, karena lama tidak bertemu.
Ungkapan yang aneh kenapa? Apa yang
sedang terjadi? Apa yang telah aku lakukan sehingga Robeth menyampaikan
perasaannya kepadaku.
Ungkapan perasaan itu terulang lagi,
bahkan dengan getaran yang berbeda. Aku yang semula hanya biasa saja, tak
pernah merasakan debaran jantung yang sedemikian kencangnya, malam itu ketika Robeth
kembali mengatakan bahwa Dia rindu denganku, bahkan selalu merasa
berdebar-debar ketika sedang berpapasan atau berjumpa denganku, dan merasakan
kerinduan yang amat sangat ketika tidak menjumpaiku.
Bagai disambar petir disiang hari,
seluruh tubuhku bergetar, jantungku berdebar lebih cepat, tanganku dingin, rasanya
aku ingin menangis, berlari. Saat itu pula semua berputar menuju masa lalu, 15
tahun yang lalu.
Keputusan 15 tahun yang lalu
Sekeping hati di bawa berlari
Jauh melalui jalanan sepi
Ada ujian yang datang menghalang
Didepan matamu para pejuang......
Sebait lagu menemani langkah kaki ku
menyusuri jalanan baru, jalan kehidupan yang membentang di depan mata, yang aku
sendiri tidak tahu apakah jalanan itu terjal, penuh rintangan atau jalan yang
mulus tanpa penghalang. Perjalanan cinta ku yang tak semulus harapanku. Meski
demikian aku bersyukur, perjalanan cintaku memberi banyak sekali pelajaran
berharga. Masa remajaku juga bukan mas remaja dengan pergaulan bebas yang
seperti anak muda-mudi saat ini. Aku adalah produk lama, yang tidak begitu
banyak mengenal laki-laki atau lebih tepatnya aku bukan tipe cewek yang menarik
untuk didekati cowok. Kesan yang sering mereka tangkap dariku adalah sosok yang
garang. Secara fisik tak ada yang menarik pula dari diriku, aku bukan cewek
yang cantik dan penampilan seksi, bukan pula cewek yang suka
tongkrong-tongkrong di Mall. Hari-hariku kuhabiskan untuk sekolah, membantu
orang tuaku berjualan dan aktif di karangtaruna kampung.
Meski demikian ada juga laki-laki yang
punya maksud kepadaku, Robeth adalah salah satunya, pemuda pertama yang
mengenalkan aku pada bagaimana rasanya disayangi, diperhatikan dan kemudian
dicintai. Dari dia lah aku belajar membalas segala bentuk perhatiannya kepada
ku.
Pada mulanya kami hanya sering bertemu
dalam sebuah kegiatan karangtaruna. Intensitas kami bertemu membuat kami
menjadi dekat dan mulailah tumbuh rasa simpati yang lebih dari Robeth kepada
ku. Sedangkan aku sendiri belum begitu memahami maksud dari perhatian Robeth.
Maklum saja saat itu aku masih sangat muda. Aku masih harus memikirkan
sekolahku, dan cita-citaku, lagipula Robeth memiliki perbedaan yang besar
denganku, Dia beragama katolik. Kebersamaan dan kedekatanku dengan Robeth
memang harus dibatasi. Meskipun Robeth bermaksud menjadikan aku sebagai
pendampingnya dan itu sangat tidak mungkin terjadi. Kecuali Robeth berpindah
keyakin. Itulah syaratku.
Namun usahaku untuk mengenalkan Robeth
kepada keyakinanku nampaknya jauh dari apa yang aku harapkan. Meski aku mulai menerima
cinta dan kasih sayangnya, namun hubungan ini tidak mungkin berlanjut. Akidah
yang sama adalah harga mati untuk sebuah pernikahan.
Hal ini membuat hubungan kami renggang,
dan hingga pada ahirnya aku mendengan Roberhakan menikah dengan Cristin gadis
pilihan ayahnya. Tepat setelah 3 tahun kebersamaan ini akan berahir dengan
pernikahan Robeth dengan Cristin, gadis yang seagaman dengan Robeth, Cristin
memang pantas menjadi pendamping bagi Robeth.
“ Hanna Maafkan aku, aku tidak bisa
mengikuti keyakinanmu, dan ayahku telah menjodohkanku dengan Cristin. Aku akan menikah
dengan Cristin. Aku menyadari hubungan kita tidak akan mungkin dilanjutkan ke
jenjang pernikahan, kita berbeda keyakinan, aku yakin kau pun demikian, sekali
lagi maafkan aku Hanna.”
“Mengapa kau begitu sulit merubah
keyakinanmu, setelah sekian lama kebersamaan kita, akankan kita ahiri dengan
jalan seperti ini Robeth, kau telah begitu banyak mengenal agamaku, bahkan kau
menyadari bahwa keyakinankulah yang benar, mengapa kau tak mau mengucap
Syahadah bersamaku, meniti jalan kebersamaan kita ke jenjang pernikahan, dengan
keyakinan yang sama dengan ku....”
“Maaf Hanna, aku saat ini belum bisa
menerima keyakinanmu sebagai pilihanku. Sekali lagi maaf..”
Demikianlah akhir dari kisahku dengan
Robeth. Perasaanku begitu kehilangan Robeth, banyak tanya yang seharusnya aku
ajukan kepada Robeth, tapi semua bagiku sudah tak perlu lagi. Semua telah
menjadi pilihannya. Keputusannya merupakan yang terbaik bagi dirinya dan juga
bagi Cristin.
Hari-hari selanjutnya aku lalui dengan
terus menatap kedepan, menapaki masa depan yang masih membentang di depan mata.
Semua pasti telah dipilihkan yang terbaik untuk masing-masing diantara kita.
Kebersamaan yang telah kita jalin
bersama sudah bukan rahasia lagi. Bahkan kemana-mana kami berdua sudah dianggap
punya hubungan serius. Kabar pernikahan ini membuat orang bertanya kepadaku
bagaimana perasaanku kepada Robeth, apakah selama ini hanya kebohongan. Apakah
aku tidak terluka?, tidak kecewa?. aku tidak kuasa untuk memintanya membatalkan
atau memikirkan kembali tentang keputusannya. Terlebih kepercayaan kita
berbeda, tentunya banyak yang harus aku pertimbangkan seandainya kita serius
melanjutkan hubungan.
Meski aku merasa sedih, namun semua
lebih mudah aku terima karena masih banyak aktifitas yang bisa aku lakukan dan
melupakan semua itu. Pada ahirnya aku bisa berlari mengejar mimpi-mimpi dan
harapanku terhadap masa depanku.
Akupun meminta Robeth untuk membakar
semua catatan-catatan kita, menghapus semua kenangan-kenangan kebersamaan kita,
yang sempat mengisi hari-hari kita. Dimana kita pernah beraktifitas yang sama,
setiap pagi, berjalan bersama, sambil berlari-lari kecil mengelilingi kompleks.
Pergi bersama membeli sebuah gaun pesta warna merah di hari ulang tahunku,
kemudian pulang bersama naik bis. Pergi ke puncak dengan mobil tua, salah satu
koleksinya, karena mobil tua saat naik ke puncak mobil pun mogok, ah kenangan
yang tak akan terlupakan. Mengenal keluarga Robeth yang penuh kehangatan,
menerima kehadiranku, meski kami berbeda keyakinan, menjadi kenangan yang tak
akan terlupakan. Semua harus terhapus dan tak perlu diingat kembali.
Memendamnya dalam sumur yang dalam, menguburnya akan lebih banyak membantuku
untuk menghadapi masa depan.
Pernikahan
Undangan pernikahan Robeth – Cristin telah
aku terima, esok lusa aku akan hadir dalam pernikahan mereka. Saat itu aku
tidak mendapati Robeth maupun Cristin menyambut kedatanganku. Seolah-olah kehadiranku
bukanlah kehadiran yang diharapkan. Sehingga aku memutuskan untuk berlalu
begitu saja. Sampai saat ini aku tidak tahu bahkan tidak ingin tau apakah Robeth
mencintai Cristin. Apakah Robeth telah berbohong kepadaku tentang persaannya
kepadaku. Apakah dibalik kebersamaan kami dulu Robeth telah menduakan diriku. Rasanya
sudah tidak penting lagi pertanyaan-pertanyaan itu. Biarlah semua berlalu berjalan
di garisnya masing-masing.
Setelah Robeth menikah, aku sama
sekali tidak pernah menjalin komunikasi lagi dengannya. Bahkan dengan Cristin, aku
sama sekali tidak berani menyapa, bertanya. Cristinpun demikian, setiap kali
bertemu denganku kesan yang aku tangkap Cristin menghindar. Mencoba menyingkir
dan buru-buru menghilang.
Kesibukan ku di LKP yang mengurusi
anak-anak jalanan semakin membuatku mudah melupakan Robeth. Hampir setiap pekan aku keluar kota untuk
turba. Ditambah aku harus membantu pekerjaan kakakku, demi sekolah adik-adikku.
Berkutat dengan pekerjaan membuat aku terkadang merasa lelah, dan ingin
istirahat. Keinginan untuk dimanja, diperhatikan, dicintai mulai muncul.
Beraharap ada seseorang yang berani memperistri diriku, membebaskan aku dari
beban kehidupan keras yang harus aku jalanan saat ini.
Di LKP, ada seseorang yang mencoba
mendekatiku, memberikan perhatiannya kepadaku, menawarkan bantuannya dengan
senang hati. Agamanya baik, orangnya sopan, meskipun penampilannya kucel. LKP
mempunyai banyak sekali program turun ke jalan, untuk memberikan pendampingan
kepada anak-anak jalanan, sehingga mau tidak mau aku akan sering bertemu dengan
Fahri. Karena trauma dengan Robeth, aku tidak ingin berlama-lama dekat dengan
Fahri, terlebih aku tidak mau kedekatan ini membawa fitnah. Dengan tegas aku
meminta Fahri untuk segera melamar dan menikahiku, jika memang menghendaki
kedekatan ini berlanjut. Meski tidak banyak yang aku ketahui tentang Fahri dan
keluarganya, namun tantanganku diterima Fahri, dan akhirnya kami pun menikah
Mas Fahri adalah laki-laki yang sangat
dewasa dalam berfikir dan berpendapat. Teman yang paling bisa mengikuti pola
pikirku, pola aktifitasku yang semakin padat. Saat pernikahanku, aku tak ingat
apakah Robeth dan Cristin datang, meskipun aku mengundang mereka. Aku benar-benar
telah melupakan Robeth untuk selamanya, semua kenangan tentangnya terpendam
dalam-dalam dan tak terungkit sedikitpun. Dunia yang telah dibangun Robeth dan
Cristin dan keluarganya sama sekali bukan urusanku.
Setelah menikah Aku bersama Mas Fahri pindah
ke Jogja sehingga mempermudah aku untuk melupakan Robeth bersama kenangannya.
Bahtera keluarga yang aku bangun bersama Mas Fahripun mengarungi samudra yang
luas.
Hingga usia pernikahanku menginjak 3
tahun, aku dan Mas Fahri memutuskan untuk pulang kembali ke Solo, ke kampung
halamanku. Karena selama di Jogja aku merasa aktifitas di LKP berhenti begitu
saja, dan tidak berkembang. Aku membutuhkan lingkungan yang bisa menerimaku dan
aku sendiri bisa mengisi dan memberi warna lingkunganku. Ketika aku kembali ke
Solo, aku akan lebih mudah bertemu kembali dengan Robeth. Sebuah pertemuan yang
pastinya akan membuat kikuk diriku dan dirinya.
Kampung halaman
Kembali ke kampung halaman adalah sebuah
kerinduan, kembali menyusuri jalan-jalan yang penuh kenangan dan perjumpaan
dengan Robeth pun tak pernah bisa dihindarkan. Perasaan berdebar, selalu muncul
ketika kami terpaksa bertemu. Robeth dan Cristin telah menjadi mualaf,
alhamdulillah, hidayah Allah telah menghampiri mereka berdua. Robeth mengganti
namanya menjadi Maulana, sedangkan Cristin menjadi Aisyah.
Kedekatanku dengan Robeth atau Maulana
dahulu sudah aku ceritakan kepada Mas Fahri, sampai ketika aku merasa takut
ketika bertemu dengannya kembali, aku selalu bercerita kepada Mas Fahri.
Beruntung aku punya suami yang sangat percaya kepadaku. Apapun yang aku lakukan
suamiku selalu mendukungku, memberi kesempatan yang luas kepadaku untuk bergaul
dengan siapa saja.
Berada di kampung yang sama dan
kenangan yang sama, sedikit banyak membuat aku kembali mengingat masa lalu.
Terlebih beberapa orang disekitarku selalu mengungkit tentang kedekatannku dulu
dengan Maulana.
Ada yang masih suka bercanda dengan ku
tentang Maulana, bagaimana Maulana sekarang, bahkan menyampaikan kalau Maulana masih
mencuri-curi pandang kepadaku. Semua itu aku tanggapi dengan hanya cukup senyum
saja. Demikian pula komunikasi yang berusaha aku jalin dengan Aisyah mengalami
sedikit ketidak nyamanan diawal kepindahanku. Aisyah cenderung menghindar, dan
menjaga jarak denganku.
Tahun berganti dan berlalu begitu
saja, hingga memasuki tahun ke 15 perpisahan antara aku dan Maulana dengan
bahtera rumah tangga sendiri-sendiri.
Ramadhan..
“Aku cemburu melihat kedekatanmu
dengan Hanafi, mengapa kau begitu perhatian kepada Hanafi ?.
Sebuah kalimat dan pertayaan yang tak
pernah aku duga sebelumnya, bagaimana mungkin Maulana menyampaikan perasaannya
seperti itu? Mengapa kedekatanku dengan Hanafi justru membuat Maulana cemburu?.
Sedang terhadap suamiku, Maulana tidak menyampaikan kecemburuannya. Letak
kesalahannya dimana?.
“Sejak dua tahun yang lalu aku
memperhatikanmu begitu dekat dengan Hanafi, dan aku perhatikan kau sering di
goda oleh Hanafi, aku tidak terima, ingin sekali aku membelamu, mendekatimu, namun
aku hanya bisa menahannya, sampai hari ini aku memberanikan diri untuk
menyampaikan perasaanku padamu Hanna...”
Maulana menyampaikan kecemburuannya
terhadapku, dan yang aneh sekali adalah Maulana cemburu kepada Hanafi, teman
kerjaku yang kebetulan satu tim dalam program pemberdayaan kampung mandiri,
bukan kepada suamiku. Perasaan yang tersimpan terjadi sejak 2 tahun yang lalu.
Lalu mengapa Maulana menyampaikannya kepada ku? Mengapa Maulan tidak
menyembunyikan perasaannya kepadaku. Toh sudah 2 tahun Maulana bisa menyembunyikannya,
mengapa kini dia berani menyampaikannya.
Bagai tertimpa atap, seluruh fikiranku
terpenuhi berbagai pertanyaan dan perasaan yang serba salah. Dan secara spontan
ingatan masa lalu itu pun berputar di depan mataku. Rasa sakit tiba-tiba
muncul, kemarahan, kepasrahan, kekecewaan, berpuluh-puluh pertanyaan yang
tertahan. Semua terkumpul dalam satu bilik di otakku. Rasa sakit ketika Maulan memutuskan
menikah dengan Aisyah, meskipun aku tau saat itu kami memang tidak mungkin
disatukan karena perbedaan kepercayaan. Namun melihat dia sekarang, yang sudah
menjadi mualaf, membuatku bertanya apakah dulu dia tidak berkeinginan menjadi
mualaf hingga bisa bersama-sama denganku, seaqidah.
Apa yang Maulana rasakan membuat aku
salah tingkah, aku jadi merasa apa yang akan aku lakukan, apa yang dia liat dan
rasakan terhadap sikap-sikaku nantinya, mencerminkan bahwa aku juga merasakan
hal yang sama dengannya. Bahwa masih ada cinta dan kasih sayang dalam diriku untuknya.
Segera aku berlari memeluk dan
bersembunyi dibalik dada Mas Fahri, suamiku tercinta. Aku menangis dan
menceritakan semua kepadanya. Mas Fahri yang dari awal sudah tahu bagaimana
hubunganku dengan Maulana dulunya, memberikan kepercayaan penuh kepadaku, Mas Fahri
mengatakan bahwa aku tidak bisa memaksakan seseorang untuk tidak memiliki
perasaan apapun kepada ku, mereka yang diluar sana boleh mencintai, membenci
atau apapun kepada ku. Yang terpenting adalah bagaimana dengan ku. Apakah aku
memiliki perasaan yang sama dengan Maulana?.
Tentu saja aku jawab tidak, selama ini
aku tidak pernah berfikiran bahkan terbesit sedikitpun untuk memikirkan Maulana
kembali, dia adalah masa lalu dan Mas Fahri adalah masa depanku. Apa yang ada
saat ini tidak akan aku relakan untuk ku lepas, dan ku gantikan dengan yang
lain, apapun itu alasannya. Terlalu mahal untuk aku korbankan.
Berbekal kepercayaan inilah aku
menghadapi setiap tatapan Maulana, ungkapan perasaan rindunya dengan lebih
tegar, dan sabar. Semua perasaan kacau yang selalu mengiringiku ketika harus
bertemu dan bersama-sama dengannya, aku lawan, aku bertekad untuk menghadapinya,
dan pasti aku bisa.
Waktu-waktu bersama Robeth Maulana kembali
Setelah Maulana menyampaikan
perasaannya, pola komunikasi kami kembali terjalin lebih akrab dan dekat. Aku
takut, sedikit saja orang melihat kebersamaan kami, pasti ingatan mereka akan
tertuju pada waktu yang lalu, dimana aku dan Maulana pernah bersama. Aku sekuat
tenaga menghindar, namun akupun merasa sulit. Beberapa pertanyaan masa lalu
yang ingin aku tanyakan secara langsung kepadanya, membuat aku mengikuti alur
yang Maulana tawarkan. Perjumpaan demi perjumpaan, membuat ku sedikit
mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan masa lalu.
Aku merasa sangat takut, bagaimana kalau
Cristin atau Aisyah melihat kami bersama. Aku tidak ingin menyakiti siapapun,
aku tidak pernah bermaksud untuk kembali dengan Maulana. Bukan untuk saat ini
maupun untuk masa yang akan datang.
“Hanna, maukah kau menerima cintaku
dan menempatkan di sisi hatimu yang lain..”
“Maaf, aku tidak bisa. Kau berhak
untuk mencintaiku, namun tidak dengan diriku..”
“Aku begitu sulit melupakan mu Hanna,
wajahmu selalu terbayang, aku ingin selalu melihatmu, berjumpa denganmu,
mengingat masa lalu, masa kebersamaan kita dulu...”
Mendengar ungkapan perasaan ini, aku
semakin merasa sedih, aku semakin merasa serba salah dan takut, hingga
membuatku menangis. Antara ingatan masa lalu dan kenyataan yang saat ini ada.
“Aku mohon apa yang aku sampaikan
jangan kau ceritakan kepada Fahri, biarlah ini menjadi rahasia kita berdua
saja. Aku ingin membuat cerita berbeda denganmu, cerita perjalanan cintaku
denganmu di lembar yang berbeda.”
Bagaimana mungkin Maulana memintaku
untuk tidak menyampaikan apapun tentang perasaannya kepadaku, menjadikan ini
sebuah rahasia antara aku dengan Mas Fahri. Aku tidak bisa berjanji, aku tetap akan
membicarakan hal ini kepada Mas Fahri, aku tidak bisa menyembunyikan hal ini
kepadanya.
“Mengapa kau mengungkapkan semua ini
kepadaku, mengapa kau tega membuatku serba salah seperti ini, aku tidak nyaman
dengan semua ini, aku terlalu takut untuk menjumpaimu, kebersamaan ataupun
kedekatan kita pasti akan langsung dijadikan bahan pembicaraan orang. Bagaimana
dengan istri dan anak-anakmu?. Terus terang Mas Fahri sudah tau kalau dirimu
menyampaikan perasaanmu kepadaku, sejak pertama kali kau mengatakan kalau kau
rindu padaku...”
“Owh, bodohnya aku. Aku memang salah,
aku mencoba melupakanmu, dan berusaha keras untuk tidak memikirkanmu, tapi aku
tidak bisa. Bayang-bayang wajahmu selalu menemaniku. Aku juga tidak tahu
mengapa demikian. Aku hanya ingin menyampaikan perasaanku saja kepadamu....”
“Tapi aku tidak suka, aku tidak
menginginkan semua ini, aku tidak ingin tahu bagaimana perasaanmu. Ketika aku
tahu bagaimana perasaanmu aku jadi serba salah. Apa yang aku lakukan kau anggap
sebuah perhatian khusus, padahal aku biasa saja....”
“Tapi kau pasti masih menyembunyikan
getaran cinta kepadaku kan Hanna..??”
“Tidak!!. Kau masa laluku, yang pernah
mengisi sebagian hari-hariku, sebagian sisi hatiku, Ketika kau memutuskan
menikah dengan Cristin, itu sudah cukup bagiku untuk melupakan semuanya, sampai
kapanpun... ”
“Andai kau jujur padaku dan pada
dirimu sendiri, kau pasti masih menyimpan cinta untukku, kau masih perhatian
denganku kan Hanna?.”
Begitukah yang dilihat Maulana tentang
sikap ku selama ini, keramahanku dan beberapa nasehat yang aku sampaikan kepadanya,
dia anggap sebagai bentuk perasaanku
kepadanya.
“Mas... bukankan sudah aku katakan,
bentuk perhatian atau apapun yang telah kau rasakan saat ini dariku, sebenarnya
wajar dan biasa saja, hanya karena kau merasakan getaran cinta itu kembali,
jadi semua yang kau lihat dari ku kau anggap bentuk cintaku kepadamu... “
“Seharusnya .... meskipun aku masih
mencintaimu, tapi tidak sepantasnya aku ungkapkan dan mengharapkan balasan
darimu, karena sekarang posisi kita masing-masing berbeda, dan tidak mungkin
bisa lagi, jadi itu hanya mimpi yang tak akan pernah nyata, khayalan kosong dan
mungkin harapan yang membodohi diriku sendiri...”
“Seharusnya demikian....”
“Tapi begitu sulit Hanna, aku harus
meredam semua gejolak perasaanku yang tak pernah hilang, tapi juga harus
berpura-pura seolah-olah tidak ada rasa apapun kepadamu.”
“Aku pikir setelah sekian hari aku
tidak berjumpa denganmu, kau sudah melupakan gejolak perasanmu...”
“Iya, aku selalu mencobanya Hanna, tapi
setelah melihat mu, aku merasa ingin bersamamu, meski sebentar. Setiap kali aku
berusaha untuk melupakanmu, justru semakin kuat ingatanku kepadamu. Ahirnya aku
tak kuasa melawannya, ”
Tak kuasa aku menahan tangis, aku
sedih, marah, kecewa, bingung dan takut. Hari-hari selanjutnya, aku menjalani
semuanya dengan perasaan yang kacau.
Tak akan ada yang mampu menolak sebuah
perhatian, kasih sayang, dan cinta dari siapa saja terhadap diri kita. Begitu
pula dengan diriku, tawaran perhatian, kasih sayang, dan mungkin cinta dari Maulan
sedikit banyak harus aku syukuri. Bagaimanapun setiap diri akan senang jika
mendapatkan hal ini. Namun tidak lebih dari sekedar rasa sayang, cinta sebagai
teman, sahabat, kakak atau saudara seiman. Lebih dari itu, tentu saja akan
melukai diri sendiri dan orang yang paling kita sayangi, keluarga kita,
anak-istri/suami.