Rabu, 11 Februari 2015

Kesetiaan Cinta


CATATAN HUSAIN 1

Aku adalah suami yang sangat beruntung, memiliki istri yang masih terlihat cantik dan manis juga semakin lincah, meski sudah melahirkan 2 anak kami, badannya masih sangat indah dan langsing. Tidak tampak kalau ternyata sudah punya anak 2 dan usai pernikahan kami sudah hampir 17 tahun. Anak-anak yang semakin tumbuh dewasa, cantik-cantik, ganteng dan cerdas. Pekerjaan yang semakin mapan, dengan gaji yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, serasa kebersamaan ini semakin sempurna.

Kebanggaanku kepada Aisyah semakin bertambah dengan adanya kepercayaan yang diberikan kampus untuk mengelola sebuah komunitas baru di kampus. Kelincahannya dalam bergaul membuat aku menjadi iri, dan terkadang merasa minder.

Namun semua itu terkadang membuat aku menjadi khawatir bahkan cemburu, terlebih sekarang Aisyah lebih sering tidur malam, Aisyah sering OL. Dan aku merasa ada sesuatu yang aneh dari nya, namun aku tidak berani bertanya kepadanya, kami saling percaya.

Hingga pada suatu hari aku mendapati inbok nya masih terbuka, dan sempat aku membacanya, secara tidak sengaja, ada sapaan "Say.." dari seseorang di inboknya...... Hatiku perih, sakit sekali, beribu tanya menghinggapi otak ku. Apa yang Aisyah cari, apa yang tidak bisa aku berikan kepadanya, sehingga dia mempunyai seseorang yang sepertinya istimewa di hatinya. Panggilan itu tidak wajar, sepertinya da seseorang yang mencoba menggoda Aisyah.

Kubawa langkah kakiku sore itu pulang ke rumah dengan gontai, semangatku hilang, keinginanku bertemu dengan Aisyah lenyap. Setelah kerinduanku bermesraan denganya kutahan demi melihatnya menyelesaikan tugas kampusnya yang menumpuk katanya. Dumay menjadi tempat berbagi Aisyah yang memuaskan .... sepertinya demikian.

Aku menyadari, aku lebih sering meninggalkannya berserta tugas-tugas yang menumpuk, tanpa aku bermaksud untuk membantu meringankan pekerjaannya. Aku sudah terlalu lelah ketika sampai di rumah. Pekerjaan kantor yang semakin berat bebannya, harus aku tangani. Mungkin laki-laki ini memang selalu ada untuk menemani Aisyah, meski di dunia maya. Tapi mengapa Aisyah mau di panggil..... oh tidak...

RUMAH

Aisyah

Mas Husain hanya diam saja setelah sampai di rumah, tidak seperti biasanya. Aku mencoba menawarkan minum dia menolaknya. Di memilih langsung mandi dan beristirahat di kamar. Aku mencoba bertanya, namun dia hanya diam saja.

Aku biarkan dia dalam diamnya malam itu, aku sama sekali tidak mendekatinya, percuma saja aku ajak dia bicara, pasti dia tidak akan menerimanya. Aku menunggu waktu yang tepat untuk membicarakan masalah ini. Mas Husain bukan anak kecil, bukan pula remaja yang dangkal cara berfikirnya, dia lebih dewasa, cara berfikirnya pun sangat luas. Sehingga aku percaya masalah ini akan dapat aku dan dia lalui dengan cepat.

Setelah semalaman Mas Husain diam, selepas sholat subuh aku kembali dekati dia, bertanya apa yang ingin dia sampaikan dan tanyakan secara langsung kepadaku. Ketidak suka an nya terhadap sapaan itu, sapaan itu bukan sapaan biasa. Mas Husain memintaku untuk menghentikannya.

Aku pun menyampaikan bahwa sebenarnya aku sudah mencoba melarangnya dan memintanya untuk tidak menggunakan sapaan itu, namun Aqil tidak mau, alasannya Aqil tidak punya maksud apa-apa, hanya ingin dekat saja, mencairkan suasana komunikasi kami.

Sebenarnya Mas Husain sudah tau bagaimana watak dan karakter Aqil, sehingga Mas Husain pun lebih mudah aku yakinkan bahwa aku tidak ada hubungan apa-apa denganya. Kami hanya berteman biasa, meskipun lebih dekat, dibandingkan dengan teman yang lain.

OOhhhh tidaaaak aku telah berbohong..... aku menyimpan rasa Mas....
Tapi tidak.... aku harus berjuang untuk melawan "rasa" ini. Aku harus bisa....


Husain

Aku enggan bicara dengan Aisyah, aku sangat kecewa, hatiku sakit. Sore itu aku tidak punya keinginan untuk menyapanya dan menerima tawaran minumnya. Aku hanya ingin mandi dan ingin segera berlalu malam ini. Berharap apa yang aku ketahui hari ini tidak terjadi, dan semua itu hanya mimpi.....

Akhirnya malam ini aku bener-bener diam, dan Aisyah tidak mencoba mendekatiku, merayuku, merengek untuk kembali bicara denganya. Ah..... jangan-jangan Aisyah benar-benar ada hubungan dengan laki-laki itu.

Sebenarnya aku tau siapa laki-laki itu, kami beberapa kali bertemu, bahkan Aisyah pernah mengajakku berkunjung kerumahnya. Tapi aku tidak menyangka kalau sampai sejauh ini hubungan Aisyah dengannya. Meski sebetulnya sudah lama aku melihat ekspresi bahasa tubuh Aisyah berbeda ketika sedang bersamanya, perhatian Aisyah kepadanya terlihat sangat spesial. sejak dulu Aisyah memiliki perhatian yang besar kepada semua teman-temannya, bahkan Aisyah sanggup membuat siapa saja yang dekat dengannya merasa GR.

Bagaimana tidak..... hampir semua laki-laki yang dekat dengan Aisyah di saat yang hampir bersamaan menyatakan keinginannya untuk memiliki Aisyah. Aisyah begitu semangat begitu linccah dan cekatan, sikapnya bener-bener mempesona. Laki-laki yang dekat dengannya akan merasa bahwa Aisyah mempunyai perhatian khusus. Wajahnya yang manis, tutur katanya yang sopan, penampilannya yang sederhana namun tetep modis. Aisyah bisa dengan sepenuh hati membantu siapa saja yang meminta bantuannya.

Aku benar-benar cemburu.....
Siapa dia Aisyah.... mengapa kau ijinkan dia menyapa "Say....."

Ku coba melalui malam ini dengan tidur, meski aku tidak bisa.Sampai subuh aku gelisah, dan Aisyah pun hanya diam.
Selepas sholat subuh Aisyah mulai mendekatiku, bertanya bagaimana perasaanku. OOhhhhh .... Aisyaaahhh... aku cemburu.....

Ku dengarkan dengan seksama penjelasannya, kusampaikan keinginanku agar sapaan itu di hentikan. Aisyah tidak berjanji apa-apa, dia hanya menyampaikan bahwasannya Aisyah sudah mencoba menghentikan dan meminta Aqil untuk mengganti sapaan itu dengan yang lain, namun dasar Aqil nya aja yang ndablek. Laki-laki ini sedikit aku kenal, dia uraan, kata-katanya kasar, dan sepertinya model orangnya seenaknya sendiri.

Penjelasan Aisyah mampu membuat aku percaya, dan yang membuat aku sangat senang dan bahagia Aisyah mengatakan :
Mas.... perlu mas ingat, aku tidak akan pernah menggantikan apa yang saat ini telah Allah berikan kepadaku, kamu, anak-anak dan keluarga kita, dengan apapun. Kau boleh menggantikanku atau menambah pendamping hidup selain aku, karena syaritnya ada dalam Al Qur'an. Tapi tidak denganku, cukup dirimu dalam hatiku seumur hidupku, tak akan pernah tergantikan oleh siapapun. Kalau toh aku nanti sampai mencintai orang lain itu adalah kesalahan besar dalam hidupku, dan akan aku perbaiki dengan tetap bertekad mempertahankan apa yang aku miliki sekarang, dan semuanya ini tidak tergantikan oleh apapun. Mas boleh percaya dan boleh tidak, semua tergantung Mas, tapi kepercayaan Mas kepadaku akan membantuku menghadapi godaan yang ada di luar sana. Tapi Mas pernahkah Mas tau bahwa akupun pernah cemburu dengan Mas Husain???? sama Mas, aku pun mendapati kecemburuan itu di inbok mu, namun aku masih selalu percaya pada Mas Husain.


Oh...... tidak..... ternyata Aisyah juga cemburu, sama dengan ku. Tapi kapan dia membaca inbok ku. Dengan siapa dia cemburu... jangan-jangan.... inbok ku dengan..........
oh... tdak sayang aku tidak ada apa-apa dengan nya, aku hanya mencoba memberi perhatian kecil untuknya, tidak lebih dari itu, Oh maafkan aku, tenyata kau pun tersakiti oleh aktifitas dunia mayaku.

...............................


Kesetiaan Cinta

BAGIAN 1

Catatan Aisyah 1

Aku adalah seorang Istri dengan 3 anak. suamiku adalah suami yang sangat bertanggung jawab, penuh kasih sayang dan pengertian. Suamiku benar-benar pilihan yang tepat untuk ku. Kami menikah karena di jodohkan, dan aku belum kenal sama sekali dengannya. Aku pun belum pernah merasakan bagaimana indahnya jatuh cinta, seperti yang dikatakan teman-temanku, dan banyak cerita lainnya tentang jatuh cinta. Aku belajar mencintainya, menerimanya seiring perjalanan pernikahan kami, dan memang tak ada yang mengecewakan darinya. SEMPURNA.

Bulan desember 2001 aku bertemu dengan sosok yang bagiku unik dan memang nyleneh, di sebuah komunitas Debat kampus. Penampilannya biasa, sederhana, tapi aku sendiri tidak tau mengapa aku merasa dia begitu istimewa. Bahkan dia cenderung uraan, bahasanya kasar, banyak yang membuat aku sakit hati. Kata-katanya bagaikan pedang yang menyayat. Tapi anehnya aku mampu menghadapi setiap kalimat pedasnya dengan kesabaran, dan mencoba mengajaknya untuk membiasakan berkata yang lebih halus dan menghormati aku sebagai orang yang lebih tua darinya. Sebut saja dia Aqil.

Pertemanan kami penuh dengan perbedaan pendapat, kadang aku berkata A maka Aqil akan mengatakan B. Perdebatan akan semakin seru sampai pada akhirnya aku sedih, karena kalah berargumentasi, dan Aqil berhasil mengeluarkan kata-kata pedasnya. Anehnya semakin sering kami berbeda pendapat, kami lebih sering cocok dalam berdiskusi di kampus dan aku semakin kebal dengan kata-kata pedasnya.

Hubungan ini pun semakin dekat, kami sering chating, sekedar menanyakan kabar kami masing-masing, kabar keluarga kami. Aqil pun tak ragu menyapa "Say...".....Aku terkejut, dan mencoba bertanya mengapa dan apa alasannya menyapaku demikian. Aku pun memintanya untuk mengganti dengan sapaan yang lain. Namun dia menolak, akhirnya aku pasrah, dan mencoba menikmatnya, menyamankan diri dengan sapaan itu dan ternyata aku suka... aku merasa dia memperhatikan aku, dia ...... aaahhh... fikiranku...
Tapi aku takut kalau Mas Husain sampai tau....

Aqil adalah seorang suami dan ayah yang baik. Kami mencoba selalu menjaga kedekatan ini agar tidak mengganggu kehidupan rumah tangga kami masing-masing, karena kami masing-masing mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap keluarga kami. Dalam beberapa kali kesempatan kami saling mengunjungi, saling memberi dukungan semangat, berbagi cerita keluarga dan pribadi.

Setelah setahun kebersaman ini, aku merasa memang ada yang aneh dengan kedekatan ini. Ya .... aneh saja..... aku tidak berani mengatakan kalau aku..............
Ah tidak boleh mengikuti perasaan stop dan cukup sampai disini. Dan memang hanya sebatas teman saja. Tapi apa daya, ikatan "rasa" itu begitu kuat, sehingga aku tak dapat menolak untuk merasakan keberadannya, Aku sepertinya mulai mengerti mengapa aku begitu mengistimewakan dia, Di hatiku ada dia, di sisi yang sangat kecil aku menempatkannya.... tapi terasa sekali..... Aku tak bermaksud menjadiakannya seperti ...... ah tidak, dia temanku, tidak lebih. Maafkan aku ....

Sapaan yang sering diberikan membuatku melayang, membuatku sangat diperhatikan, terlebih dia begitu sering menjadi teman ngobrol, disaat aku sedang membutuhkan teman bicara, dia selalu ada, disaat aku sedang sibuk mengerjakan tugas, dia pun selalu menyempatkan diri menyapaku. Aku seperti sangat diperhatikan... Tapi......

Tahun berganti dan kami semakin dekat. Tapi tetap hanya sebatas teman, meski dia istimewa, namun tak akan pernah aku menempatkannya menjadi pengganti apa pun yang telah aku miliki saat ini. Suamiku, anak-anakku, keluargaku adalah yang paling berharga.

Hingga pada suatu sore...
Tit  Tit Tit.... hp ku berbunyi...

"Kenapa ada yang memanggil mu Say selain aku??"
Ups..... SMS dari Mas Husain.....
Ya Allah.... bantu aku menerangkan kepadanya, jagalah lisanku agar tidak menyakiti hatinya.