Jumat, 26 Juni 2015

GANTENG



                
AKU MENOLAKMU
Menanti datang bulan setiap bulannya menjadi semakin berdebar saja saat ini. Bukan karena menginginkan kehamilan, namun karena tidak ingin hamil kembali. Sementara alat kontrasepsi sudah lepas, karena berbagai pertimbangan kesehatan. Cara yang disepakati memang lumayan butuh ketelitian dan kejelian, super ketat dan perlu pengamatan lebih. Hampir enam bulan sudah kita lalui bersama, dan selalu saja merasakan ketegangan tersendiri ketika keterlambatan itu datang.
Akhirnya ketegangan itu pun terjadi kegelisahan, ketakutan dan penolakan terjdi, tepat setelah di dapati keterlambatan menstruasi lebih dari 5 hari. Hati semakin berkecamuk tak karuan, menangis dan menjadi pemurung seketika. Tidak ingin melakukan aktifitas apapun, semua ide kreatif hilang dan yang ada hanya menangis, menangis dan menolak kenyataan yang terjadi. POSITIF...... bagaimana saya harus menghadapi kondisi ini, saya menolak keras, saya tidak menginginkan. Tangisan ketakutan, penolakan dan usaha menyakiti diri sendiri beberapa kali di lakukan dengan tak mau makan, tak mau beraktifitas apapun, hanya mengurung diri. Saat waktu sholat tiba pun yang ada hanya ingin menangis dan mengadu, sujud panjang selama tahajudpun selalu dilakukan untuk meminta supaya semua ini tidak benar-benar terjadi, saya tidak mau hamil lagi.
Saat itu yang ingin dilakukan adalah dengan mengugurkannya, meski rasa takut untuk melakukannya juga besar, sebesar meneruskan kehamilan. Ketakutan itu membawa langkah kaki menuju ke dokter kandungan untuk berkonsultasi dan meminta penanganan, mendengarkan nasehatnya. Meminta langkah apa yang harus dilakukan selanjutnya.
Ketika bertemu dokter, sang dokter menasehati untuk melanjutkan saja karena si Kakak sudah besar, sudah 5 tahun, lagi pula anak baru 3, katanya sambil tersenyu. Namun hati dan perasaan ini masih belum bisa menerima karena memang sudah tidak menghendaki dan menginginkan cukup 3 saja. Apa boleh dikata, dorongan semangat dari suami dan lingkungan memberikan kekuatan untuk terus berjuang meski berat rasanya.
Saya jadi teringat saat peringatan hari ibu, kedua putri cantikku mempersembahkan sebuah puisi yang dibacakannya di depan kami, dan di akhir puisi, mereka menyampaikan keinginannya untuk mempunyai seorang adik baru lagi, satu lagi ya Mii......
Aku ingat sekali permintaan itu.... dan ternyata saat ini Allah telah mengabulkan permitaan anak-anak itu dan aku sendiri tidak menginginkannya. Aku masih saja menolak...... janin yang semakin tumbuh dan berkembang ini, mengikuti arus perasaanku yang porak poranda, penolakan itu begitu besar.
Namun kasih sayang yang diberikan suami begitu besar, semangat untuk menemaniku, memberikan dukungan dan memenihu semua kebutuhanku begitu terasa. Hari berganti membuat aku mencoba untuk menerima keberadaan makhluk mungil yang mulai tumbuh dan mengharapkan penerimaan dari ku.
Akhirnya aku menerimanya, pertimbangan si kakak yang sudah besar dan demi memenuhi permitaan dua putriku. Aku belajar secepat kilat untuk menerima keberadaannya dan segera melakukan pembenahan perasaan dan segala sesuatunya. Karena kalau perasaanku sudah baik, si janin pasti akan tumbuh dengan baik dan pengaruh ke pertumbuhan psikologi janin nantinya.
Untuk melalui bulan demi bulan ternyata lebih mudah, aku menerima, suami dan anak-anak pun menyambut dengan penuh suka cita, sehingga kelelahan yang aku rasakan selama menjalani kehamilan tak begitu terasa. Bulan berganti, si dedek semakin aktif bergerak seperti ummi nya yang tidak pernah diam. Pagi hingga sore dedek selalu menemani ummi berkatifitas ngajar Paud dan TPQ. Dia anteng tak banyak protes diajak berlari kesana kemari, naik motor sendiri, antarjemput kakak-kakaknya sekolah. Namun giliran malam hari si dedek lah yang banyak ngajak begadang, dedek mulai menunjukkan aktifitasnya yang luar biasa, gerakan di dalam perut umminya sampai terlihat jelas tak pernah berhenti.
Kehamilan kali ini memang luar biasa, janin ini super aktif bergerak ketika malam hari, mungkin dia protes kenapa dari pagi hingga sore idak diajak istirahat,....
Sembilan bulan berlalu dan saat mendekati hari kelahiranpun tiba, kakak-kakak sudah mulai dipersiapkan menyambut kelahiran si adek, dan mereka semakin antusis, menyiapkan perlengkapan adeknya. Subhanallah.... aku mersa sangat terharu sekali, melihat mereka bertiga selalu mencium adeknya yang masih diperut dan selalu berpamitan ketika berangkat sekolah.
Hari itu selasa tanggal 28 November 2012, sehabis sholat subuh aku undang ketiga anak ku, kuremas tangan mereka satu persatu ketika aku mulai merasakan kontraksi. dan mereka tau kalau umminya sedang merasa sakit dan kuberitahu kepada mereka bahwa ummi akan segera melahirkan adek. Ketika semua tugasku selesai menyiapkan ketiganya berangkat sekolah, aku bergegas menuju rumah bersalin dan biersiap untuk melahirkan. Namun ternyata belum saatnya, aku masih harus menunggu beberapa jam lagi. Demi meghalau kesuntukan aku meminta suami untuk berjalan-jalan dengan motor. Berharap proses pembukaannya akan semakin cepat, aku menuju tempat olah raga, dan segera berjalan kesana kemari. Setelah dirasa tidak kuat lagi akupun memutuskan kembaike rumah bersalin. Setelah di cek ternyata masih sediki penambahan pembukaannya, sehingga aku pun tertidur sambil menahan rasa sakit karena kontraksi.
Tepat pukul 15.00 Ismail lahir, dengan lancar, BB 3,4 dan PB 52cm. Allahuakbar, subhanallah, alhamdulillah.... perjuangan ini berhasil aku lalui. ASI eksklusif menjadi pilihan utama dalam menunjang tumbuh kembangnya. Tanpa sufor sama sekali.
Hari berganti, bulan berlalu, Ismail menunjukkan kecerdasan yang luar biasa. Penerimaanku terhadap kehadirannya di awal keberadaannya sungguh menentukan. Andai saja saat itu aku masih terus menolak, tentunya pertumbuhannya tidak akan seperti ini. Di usia 6 bulan sudah bisa duduk sendiri, usia 8,5 bulan sudah bisa berjalan tanpa berpegangan.
Tubuhnya montok, sehat dan sangat tampan, kulitnya putih, siapa saja yang melihatnya menjadi sangat senang, gemes, dan pingin menciumnya. Setiap hari aku selalu terkejut dengan kecerdasan yang dia tunjukkan. Di usia 1 tahun dia sudah mampu diajak komunikasi dan berbicara engan bahasanya. Kini usianya sudah genap 2 tahun, kecerdasannya semakin tampak dan sudah mampu bercerita mengungkapkan keinginannya. Kalimat yang diajarkan kakak-kakaknya selalu mampu dia ulang kembali.
Ya allah maafkan atas kesalahanku ketika itu, menolak keberadaannya, ternyata yang Kau berikan begitu indah, begitu mengangumkan dan mempesona setiap detiknya. Terimakasih Ya Allah..

#Selamat Ulang tahun Ismail...

Senin, 23 Maret 2015

Kesetiaan Cinta 2

Bagian II


Catatan Aisyah 2

Alhamdulillah cuma semalam Mas Husain mendiamkan ku. Malam ini kembali kami bisa berbincang santai, aku malah lebih senang menggodanya. Gak cemburu ..... qiqiqi... wajahnya lucu, segera dia mengejarku dan menciumku.
Ah... kemesraan yang tak akan pernah tergantikan. Percayalah Mas, sampai kapanpun, kamu akan menjadi satu-satunya pendamping hidupku, apa yang aku miliki saat ini adalah yang paling baik dan sempurna untuk ku.

Chetung Chetung..
 
"Say..."
ups... pesan masuk... aduh dari Aqil.... bagaimana ini,.... sepertinya harus aku katakan apa yang terjadi antara aku dengan Mas Husain.

"hehehe..." sms ku.
"Bagaimana kabarnya?, Lagi sibuk??....., ke kampus jam berapa?"
Huufff....... pertanyaannya membuat aku bener-bener harus menjawab, karena memang hri ini deadline naskah debat kampus harus segera di selesaikan, sudah di tunggu rektor. Sebenarnya tidak masalah sih kita ketemu, cuma aku merasa perlu memberitahukan kejadian kemarin.

"Jam 11 aku ke kampus, kita ketemu di ruang biasanya  ya..."

Hp kemudian ku sillent, aku bergegas menyiapkan materi yang harus aku bawa menghadap rektor dan membersihkan rumah, menjadi kebiasaan ku sebelum pergi rumah harus sudah bersih dan sudah tersedia makanan untuk keluargaku.

KAMPUS

"Hey... sudah lama menunggu.... maaf agak terlambat, hehehe..."
" hemmm nggak merasa kali......... terlambat kok se jam..., .. Eh kenapa hari ini kamu beda, lebih sedikit mejaga jarak dengan ku..."
"hehehe nggak papa kok.... cuma ada sedikit yang perlu aku sampaikan ...."
" apa??? tentang aku pasti.... ehem ehem...... GR dikit aahhh..."

Ini orang PD nya tinggi banget...
" Ada apa??"
"Nggak jadi deh.." aku bingung memulainya...
" Kenapa??? Ayo Say...."
oh Tuhan.... tolong jangan menyapaku demikian di ruangan ini.... malu aku...

"eemmmm semalem Mas Husain mendiamkan ku..."
"Ups.... kenapa?...."
"kemarin inbok ku terbaca.... pas kita chating..."
"olalaa.... ketahuan dong...".. wajahnya masih sangat santai, tidak menunjukkan keterkejutan atau .... huuufff....
"Critanya bagaimana???"
"Kemaren aku OL pake laptop, trus kebetulan lupa nggak sing out, ... trus terbaca deh chat kita..., Mas Husain tanya kok ada orang lain yang memanggilku Say..."
"ooooalaaahhhh...... biasa aja kalee...., bagiku itu gak masalah. Tapi normalnya memang begitu, siapa sih yang tidak marah, istrinya di panggil mesra seperti itu..... "
Ala maaak... dia merasa nggak salah, padahal dia yang memanggilku demikian.... heemmmm...
"Ya sudah mulai sekarang aku manggilnya nggak gitu lagi deh.....Say.... ups....hehehe maaf "
"iya...., sudah dari awal kan aku sudah mengingatkan kam, jangan pake sapaan seperti itu. Nanti jadi masalah. Meski sebenernya,.... "
"Apa?... kamu suka kan?? hahahaha....."
aduuuh... aku nggak bisa bohong, bagaimana menjelaskanna. Tidak... aku tidak boleh mengikuti perasaanku, aku harus tegas dan memegang prisip, KAU HANYA TEMAN KU.

Sejak hari itu hubungan kami agak merenggang, Agil jarang mengontak ku, dan memang sedikit aneh saja. Kesempatan ini aku gunakan untuk menata perasaan ku, mencari tau apa yang sebenarnya terjadi dengan ku bagaimana aku memperlakukan dia selama ini, bagaimana dengan perasaan ku yang terasa kacau kalau berhubungan dengannya.

makin hari, makin terasa rindu, jarangnya dia menghubungiku ternyata berdampak kerinduan yang amat sangat. oh my good..... sepertinya aku benar-benar merasa jatuh cinta kepadanya.  Ya Allah tolong jaga perasaanku, jaga dan bimbinglah agar aku tidak salah melangkah.
TIDAAAAAAAAAAK...........

##

Rabu, 11 Februari 2015

Kesetiaan Cinta


CATATAN HUSAIN 1

Aku adalah suami yang sangat beruntung, memiliki istri yang masih terlihat cantik dan manis juga semakin lincah, meski sudah melahirkan 2 anak kami, badannya masih sangat indah dan langsing. Tidak tampak kalau ternyata sudah punya anak 2 dan usai pernikahan kami sudah hampir 17 tahun. Anak-anak yang semakin tumbuh dewasa, cantik-cantik, ganteng dan cerdas. Pekerjaan yang semakin mapan, dengan gaji yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, serasa kebersamaan ini semakin sempurna.

Kebanggaanku kepada Aisyah semakin bertambah dengan adanya kepercayaan yang diberikan kampus untuk mengelola sebuah komunitas baru di kampus. Kelincahannya dalam bergaul membuat aku menjadi iri, dan terkadang merasa minder.

Namun semua itu terkadang membuat aku menjadi khawatir bahkan cemburu, terlebih sekarang Aisyah lebih sering tidur malam, Aisyah sering OL. Dan aku merasa ada sesuatu yang aneh dari nya, namun aku tidak berani bertanya kepadanya, kami saling percaya.

Hingga pada suatu hari aku mendapati inbok nya masih terbuka, dan sempat aku membacanya, secara tidak sengaja, ada sapaan "Say.." dari seseorang di inboknya...... Hatiku perih, sakit sekali, beribu tanya menghinggapi otak ku. Apa yang Aisyah cari, apa yang tidak bisa aku berikan kepadanya, sehingga dia mempunyai seseorang yang sepertinya istimewa di hatinya. Panggilan itu tidak wajar, sepertinya da seseorang yang mencoba menggoda Aisyah.

Kubawa langkah kakiku sore itu pulang ke rumah dengan gontai, semangatku hilang, keinginanku bertemu dengan Aisyah lenyap. Setelah kerinduanku bermesraan denganya kutahan demi melihatnya menyelesaikan tugas kampusnya yang menumpuk katanya. Dumay menjadi tempat berbagi Aisyah yang memuaskan .... sepertinya demikian.

Aku menyadari, aku lebih sering meninggalkannya berserta tugas-tugas yang menumpuk, tanpa aku bermaksud untuk membantu meringankan pekerjaannya. Aku sudah terlalu lelah ketika sampai di rumah. Pekerjaan kantor yang semakin berat bebannya, harus aku tangani. Mungkin laki-laki ini memang selalu ada untuk menemani Aisyah, meski di dunia maya. Tapi mengapa Aisyah mau di panggil..... oh tidak...

RUMAH

Aisyah

Mas Husain hanya diam saja setelah sampai di rumah, tidak seperti biasanya. Aku mencoba menawarkan minum dia menolaknya. Di memilih langsung mandi dan beristirahat di kamar. Aku mencoba bertanya, namun dia hanya diam saja.

Aku biarkan dia dalam diamnya malam itu, aku sama sekali tidak mendekatinya, percuma saja aku ajak dia bicara, pasti dia tidak akan menerimanya. Aku menunggu waktu yang tepat untuk membicarakan masalah ini. Mas Husain bukan anak kecil, bukan pula remaja yang dangkal cara berfikirnya, dia lebih dewasa, cara berfikirnya pun sangat luas. Sehingga aku percaya masalah ini akan dapat aku dan dia lalui dengan cepat.

Setelah semalaman Mas Husain diam, selepas sholat subuh aku kembali dekati dia, bertanya apa yang ingin dia sampaikan dan tanyakan secara langsung kepadaku. Ketidak suka an nya terhadap sapaan itu, sapaan itu bukan sapaan biasa. Mas Husain memintaku untuk menghentikannya.

Aku pun menyampaikan bahwa sebenarnya aku sudah mencoba melarangnya dan memintanya untuk tidak menggunakan sapaan itu, namun Aqil tidak mau, alasannya Aqil tidak punya maksud apa-apa, hanya ingin dekat saja, mencairkan suasana komunikasi kami.

Sebenarnya Mas Husain sudah tau bagaimana watak dan karakter Aqil, sehingga Mas Husain pun lebih mudah aku yakinkan bahwa aku tidak ada hubungan apa-apa denganya. Kami hanya berteman biasa, meskipun lebih dekat, dibandingkan dengan teman yang lain.

OOhhhh tidaaaak aku telah berbohong..... aku menyimpan rasa Mas....
Tapi tidak.... aku harus berjuang untuk melawan "rasa" ini. Aku harus bisa....


Husain

Aku enggan bicara dengan Aisyah, aku sangat kecewa, hatiku sakit. Sore itu aku tidak punya keinginan untuk menyapanya dan menerima tawaran minumnya. Aku hanya ingin mandi dan ingin segera berlalu malam ini. Berharap apa yang aku ketahui hari ini tidak terjadi, dan semua itu hanya mimpi.....

Akhirnya malam ini aku bener-bener diam, dan Aisyah tidak mencoba mendekatiku, merayuku, merengek untuk kembali bicara denganya. Ah..... jangan-jangan Aisyah benar-benar ada hubungan dengan laki-laki itu.

Sebenarnya aku tau siapa laki-laki itu, kami beberapa kali bertemu, bahkan Aisyah pernah mengajakku berkunjung kerumahnya. Tapi aku tidak menyangka kalau sampai sejauh ini hubungan Aisyah dengannya. Meski sebetulnya sudah lama aku melihat ekspresi bahasa tubuh Aisyah berbeda ketika sedang bersamanya, perhatian Aisyah kepadanya terlihat sangat spesial. sejak dulu Aisyah memiliki perhatian yang besar kepada semua teman-temannya, bahkan Aisyah sanggup membuat siapa saja yang dekat dengannya merasa GR.

Bagaimana tidak..... hampir semua laki-laki yang dekat dengan Aisyah di saat yang hampir bersamaan menyatakan keinginannya untuk memiliki Aisyah. Aisyah begitu semangat begitu linccah dan cekatan, sikapnya bener-bener mempesona. Laki-laki yang dekat dengannya akan merasa bahwa Aisyah mempunyai perhatian khusus. Wajahnya yang manis, tutur katanya yang sopan, penampilannya yang sederhana namun tetep modis. Aisyah bisa dengan sepenuh hati membantu siapa saja yang meminta bantuannya.

Aku benar-benar cemburu.....
Siapa dia Aisyah.... mengapa kau ijinkan dia menyapa "Say....."

Ku coba melalui malam ini dengan tidur, meski aku tidak bisa.Sampai subuh aku gelisah, dan Aisyah pun hanya diam.
Selepas sholat subuh Aisyah mulai mendekatiku, bertanya bagaimana perasaanku. OOhhhhh .... Aisyaaahhh... aku cemburu.....

Ku dengarkan dengan seksama penjelasannya, kusampaikan keinginanku agar sapaan itu di hentikan. Aisyah tidak berjanji apa-apa, dia hanya menyampaikan bahwasannya Aisyah sudah mencoba menghentikan dan meminta Aqil untuk mengganti sapaan itu dengan yang lain, namun dasar Aqil nya aja yang ndablek. Laki-laki ini sedikit aku kenal, dia uraan, kata-katanya kasar, dan sepertinya model orangnya seenaknya sendiri.

Penjelasan Aisyah mampu membuat aku percaya, dan yang membuat aku sangat senang dan bahagia Aisyah mengatakan :
Mas.... perlu mas ingat, aku tidak akan pernah menggantikan apa yang saat ini telah Allah berikan kepadaku, kamu, anak-anak dan keluarga kita, dengan apapun. Kau boleh menggantikanku atau menambah pendamping hidup selain aku, karena syaritnya ada dalam Al Qur'an. Tapi tidak denganku, cukup dirimu dalam hatiku seumur hidupku, tak akan pernah tergantikan oleh siapapun. Kalau toh aku nanti sampai mencintai orang lain itu adalah kesalahan besar dalam hidupku, dan akan aku perbaiki dengan tetap bertekad mempertahankan apa yang aku miliki sekarang, dan semuanya ini tidak tergantikan oleh apapun. Mas boleh percaya dan boleh tidak, semua tergantung Mas, tapi kepercayaan Mas kepadaku akan membantuku menghadapi godaan yang ada di luar sana. Tapi Mas pernahkah Mas tau bahwa akupun pernah cemburu dengan Mas Husain???? sama Mas, aku pun mendapati kecemburuan itu di inbok mu, namun aku masih selalu percaya pada Mas Husain.


Oh...... tidak..... ternyata Aisyah juga cemburu, sama dengan ku. Tapi kapan dia membaca inbok ku. Dengan siapa dia cemburu... jangan-jangan.... inbok ku dengan..........
oh... tdak sayang aku tidak ada apa-apa dengan nya, aku hanya mencoba memberi perhatian kecil untuknya, tidak lebih dari itu, Oh maafkan aku, tenyata kau pun tersakiti oleh aktifitas dunia mayaku.

...............................


Kesetiaan Cinta

BAGIAN 1

Catatan Aisyah 1

Aku adalah seorang Istri dengan 3 anak. suamiku adalah suami yang sangat bertanggung jawab, penuh kasih sayang dan pengertian. Suamiku benar-benar pilihan yang tepat untuk ku. Kami menikah karena di jodohkan, dan aku belum kenal sama sekali dengannya. Aku pun belum pernah merasakan bagaimana indahnya jatuh cinta, seperti yang dikatakan teman-temanku, dan banyak cerita lainnya tentang jatuh cinta. Aku belajar mencintainya, menerimanya seiring perjalanan pernikahan kami, dan memang tak ada yang mengecewakan darinya. SEMPURNA.

Bulan desember 2001 aku bertemu dengan sosok yang bagiku unik dan memang nyleneh, di sebuah komunitas Debat kampus. Penampilannya biasa, sederhana, tapi aku sendiri tidak tau mengapa aku merasa dia begitu istimewa. Bahkan dia cenderung uraan, bahasanya kasar, banyak yang membuat aku sakit hati. Kata-katanya bagaikan pedang yang menyayat. Tapi anehnya aku mampu menghadapi setiap kalimat pedasnya dengan kesabaran, dan mencoba mengajaknya untuk membiasakan berkata yang lebih halus dan menghormati aku sebagai orang yang lebih tua darinya. Sebut saja dia Aqil.

Pertemanan kami penuh dengan perbedaan pendapat, kadang aku berkata A maka Aqil akan mengatakan B. Perdebatan akan semakin seru sampai pada akhirnya aku sedih, karena kalah berargumentasi, dan Aqil berhasil mengeluarkan kata-kata pedasnya. Anehnya semakin sering kami berbeda pendapat, kami lebih sering cocok dalam berdiskusi di kampus dan aku semakin kebal dengan kata-kata pedasnya.

Hubungan ini pun semakin dekat, kami sering chating, sekedar menanyakan kabar kami masing-masing, kabar keluarga kami. Aqil pun tak ragu menyapa "Say...".....Aku terkejut, dan mencoba bertanya mengapa dan apa alasannya menyapaku demikian. Aku pun memintanya untuk mengganti dengan sapaan yang lain. Namun dia menolak, akhirnya aku pasrah, dan mencoba menikmatnya, menyamankan diri dengan sapaan itu dan ternyata aku suka... aku merasa dia memperhatikan aku, dia ...... aaahhh... fikiranku...
Tapi aku takut kalau Mas Husain sampai tau....

Aqil adalah seorang suami dan ayah yang baik. Kami mencoba selalu menjaga kedekatan ini agar tidak mengganggu kehidupan rumah tangga kami masing-masing, karena kami masing-masing mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap keluarga kami. Dalam beberapa kali kesempatan kami saling mengunjungi, saling memberi dukungan semangat, berbagi cerita keluarga dan pribadi.

Setelah setahun kebersaman ini, aku merasa memang ada yang aneh dengan kedekatan ini. Ya .... aneh saja..... aku tidak berani mengatakan kalau aku..............
Ah tidak boleh mengikuti perasaan stop dan cukup sampai disini. Dan memang hanya sebatas teman saja. Tapi apa daya, ikatan "rasa" itu begitu kuat, sehingga aku tak dapat menolak untuk merasakan keberadannya, Aku sepertinya mulai mengerti mengapa aku begitu mengistimewakan dia, Di hatiku ada dia, di sisi yang sangat kecil aku menempatkannya.... tapi terasa sekali..... Aku tak bermaksud menjadiakannya seperti ...... ah tidak, dia temanku, tidak lebih. Maafkan aku ....

Sapaan yang sering diberikan membuatku melayang, membuatku sangat diperhatikan, terlebih dia begitu sering menjadi teman ngobrol, disaat aku sedang membutuhkan teman bicara, dia selalu ada, disaat aku sedang sibuk mengerjakan tugas, dia pun selalu menyempatkan diri menyapaku. Aku seperti sangat diperhatikan... Tapi......

Tahun berganti dan kami semakin dekat. Tapi tetap hanya sebatas teman, meski dia istimewa, namun tak akan pernah aku menempatkannya menjadi pengganti apa pun yang telah aku miliki saat ini. Suamiku, anak-anakku, keluargaku adalah yang paling berharga.

Hingga pada suatu sore...
Tit  Tit Tit.... hp ku berbunyi...

"Kenapa ada yang memanggil mu Say selain aku??"
Ups..... SMS dari Mas Husain.....
Ya Allah.... bantu aku menerangkan kepadanya, jagalah lisanku agar tidak menyakiti hatinya.