"Apa alasan kalian bercerai......."
Pertanyaan itu tersimpan cukup lama dalam benakku, ku tunggu jawaban dari keduanya.
"Kalau aku bu... karena istriku yang meminta, istriku yang dulu suka sekali belanja, ke salon, dan semua itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit, sehingga aku merasa nggak sanggup, alasan dia menggugat aku karena aku sebagai suami tidak bisa memenuhi semua kebutuhan hidupnya. Anakku satu bu, dan ikut bersama ibunya. Sampai saat ini aku sendiri tidak pernah bisa menjumpainya."
"Sedangkan aku, karena suamiku yang dulu hobi karaokenan bu, hatiku sangat sakit, aku sebagai istri nrimo dirumah, momong anak, aku berfikir ketika hidup didesa itu menyenangkan, suami kerja, aku nunggu dirumah, merawat anak-anakku. tapi setelah mengenal kehidupan kota tak taunya....."
Sedikit terlihat raut wajah yang sedih dan aku melihat beban yang dimilikinya begitu berat.
"Kecurigaanku bermula dari kebiasaan suamiku kok berubah, semakin sering tidak pulang. Saat itu anakku yang pertama sudah hampir 3 tahun, dan aku sedang hamil tua. Pulangnya semakin malam, kemudian aku melakukan pencarian dengan bertanya kepada temannya. Ku dapati informasi yang sangat mengejutkan dari teman suamiku, ternyata kalau malam suamiku sering sekali bahkan sangat suka karaokenan, tidak hanya sekedar itu, dia ku jumpai sedang bercinta dengan perempuan nakal. Seperti disambar petir, aku pun langsung minta cerai bu... Aku tidak peduli dengan kondisi kehamilanku, sudah tidak ada gunanya lagi pernikahan ini dipertahankan...."
Aku terkejut dengan cerita Ayu, dan semakin memilukan mendengar kelanjutan ceritanya.
"Pernah bu...... sambil menunggu keputusan pengadilan dan surat cerai itu resmi keluar, aku diajak ketemuan dengan suamiku, katanya akan membicarakan baik-baik bagaimana dengan anak-anak kita. tapi bu......(sedikit terisak......) dengan niat baik aku bersama anak pertama ku gandeng sedang yang kedua yang baru saja lahir dan ku susui kubawa mereka bertemu bapaknya, tak disangka bu ditempat yang telah dijanjikan suamiku sudah menunggu dengan keluarga besarnya, dan tanpa menyapa baik-baik, anak anak ku direbut bergitu saja dariku, sampai si kecil ditarik begitu aja dari gendonganku yang saat itu sedang aku susui...."
Masya Allah...... sampai seperti itu....... aku ingin menangis mendengar cerita Ayu, seandainya itu aku aku sendiri tidak tau harus berbuat seperti apa...............
" Begitu Pak Bu cerita hidup saya dengan mas Wahyu, jadi dari cerita ini saya sangat berharap, Hani mempertimbangkan kembali hubungannya dengan laki-laki yang dicintainya, karena status laki-laki itu belum jelas, kalaupun cerai seharusnya HAni menerima terlebih dahulu surat resminya. Dan perlu dipertimbangkan kembali tentang tabiat laki-laki itu, karena berdasarkan informasi yang kami terima, kelakuannya jelek sekali, begitu tidak menghargai dan menghormati wanita, dan cenderung kasar, terhadap anak didiknya saja dia berani memuluk, bagaimana nanti dengan Hani........"
Aku masih diam mendengarkan dan menyimak mereka berbicara, otakku masih terus bertanya-tanya, dan masih belum terpulihkan dari rasa terkejut dengan cerita Ayu....
"Kami tidak ingin Bu ...Pak Hani mengalami hal yang sama dengan kami, biarlah kami saja yang mengalami masa-masa yang pahit seperti ini, Hani jangan sampai mengalaminya..."
"Tuh....Han dengarkan temen-temenmu, mereka sayang padamu, jauh-jauh mereka dolan kesini hanya untuk menasehatimu, supaya kamu tidak melakukan tindakan bodoh...Bapak dan ibu juga berharap kamu bisa menentukan pilihan yang baik, sudah jelas, laki-laki itu tidak baik, janganlah kau dekati lagi......"
"Tapi aku suka Pak...Bu...." kata Hani
" Tidak boleh.,.....!!!! kalau sampai hubungan ini kamu teruskan kamu tidak akan aku anggap sebagai anak lagi...." Wooow.... sang ibu sudah mulai murka aku yan dari tadi hanya menyimak pembicaraan mereka , mulai harus mengambil suara nih...hehehe
" Maaf Pak....Bu.... perkenankanlah saya bicara,.... sepertinya cinta Hani kepada teman laki-lakinya ini memang sudah bener-bener, sebaiknya kita beri saran yang lebih baik dan lebih bijak.... Menurut saya sebaiknya Hani harus melakukan pemantauan dulu terhadap temannya ini, seberapa jauh sebenarnya keseriusannya, kalau memang serius maka harus mampu menunjukkan surat resmi cerainya.... jadi secara hukum Hani akan kuat..."
"kedua.... Hani harus melakukan invetigasi dan mencari tau seperti apa laki-laki ini baik kah akhlaknya terhadap orang tuanya, keluarganya atau siapapun, bagaimana pekerjaannya, secara vinansial mampukah menopan kehidupan berumah tangga nantinya ...... namun dibalik semua itu ada yang lebih khusus harus dilakukan Hani dan Bapak Ibu..... yaitu lebih mendekatkan diri kepada Allah, Insya Allah nanti akan ditunjukkan jalan. Pilihan mana yang paling baik itulah tentunya yang akan diberikan Allah....,,,"
Sejenak semua terdiam begitu aku menyelesaikan kalimat terakhirku...... seperti mamah Dedeh saja qiqiqiqi...
"Tapi Bu... saya masih tidak rela kalau anak kami ini menjalin cinta dengan laki-laki itu, saya sendiri sudah melihat sendiri bagaimana kelakuannya... jadi saya tidak akan setuju..." kata Bapak.
"Ya ..... marilah kita sama-sama mendoakan dan meminta pak, usaha kita perlu dilakukan, disamping mendekatkan diri kepada Allah, Hani juga harus mulai menjaga jarak dengan laki-laki itu, supaya ketahuan seberapa besar sih sebenarnya dia mencintai Hani, tentunya hal ini sepenuhnya di tangan Hani.....Kalau dia baik dan serius, dia akan segera menyelesaikan urusan hukumnya, dan sudah jelas secara hukum....."
............
#sokneh